Friday, 7 October 2016

Mencintai Apa Yang Kau miliki: Mengelola Perpustakaan dengan Menggunakan Perspektif sebagai Pemustaka

Zulaikha, Sri Rohyanti.(2011).Mencintai Apa Yang Kau miliki: Mengelola Perpustakaan dengan Menggunakan Perspektif sebagai Pemustaka. In The Keyword: Perpustakaan di Mata Masyarakat. Labibah Zain (ed.),  (pp. 155-163). Yogyakarta: Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Kota Yogyakarta and Blogfam.com

Dibenakku, aku selalu saja memikirkan bahwa perpustakaan itu  adalah fun, menyenangkan. Dibenakku, yang ada di perpustakaan itu, aku bisa bermain dan berselancar dengan informasi-informasi yang kaya di sana. Aku membayangkan, perpustakaan tidaklah harus dengan koleksi yang banyak, kalau memang belum bisa melakukannya. Perpustakaan dibenakku, yang menyenangkan itu, bisa diawali dengan melakukan penggalian data yang bersumber pada koleksi-koleksi yang ada itu. Menurutku, perpustakaan akan menyenangkan, kalau isi di dalamnya itu semua siap sedia dimanfaatkan oleh pemustaka (Istilah pemustaka dipakai disini karena memang istulah tersebut sudah dibakukan dalam Undang-undang Perpustakaan nomor 43 tahun 2007}, yang menyebutkan bahwa untuk pengunjung, pengguna, pemakai perpustakaan, sekarang ini dipakai istilah baku dengan sebutan ‘pemustaka’a). Rasa memiliki itu bisa dibangkitkan dengan melibatkan pemustaka untuk ‘masuk’ dalam system. Masuk ke dalam lingkaran komunikasi yang dibangun perpustakaan.
Membangun perpustakaan dengan hati
Aku melihat, bahwa seharusnya, desain perpustakaan dibuat yang ‘sederhana’. Sederhana disini maknanya nya bukan sekedarnya dan sekenanya, tapi lebih kepada ‘berorientasi kepada pemustaka, bukan berorientasi kepada pustakawan. koleksinya standarlah, dan dengan staf ya yang smart dan mempunyai  kecerdasan emosi yang tinggi. Aku juga nggak bisa membayangkan, kalau pustakawan yang ada di perpustakaan itu selalu menyambut kita dengan muka yang serem, dan dengan jawaban : ”hmm, coba deh di cari sendiri di rak sebelah sana”…., atau “tidak ada kalau yang dicari itu mas”….., atau “hmm, yang mana ya koleksi yang dimaksudkan”…
Bagiku, perpustakaan akan menjadi menyenangkan kalau semua alat-alat yang digunakaan itu sangat ‘manusiawi’ , seperti sebuah permainan, yang bisa dijalankan dengan enjoy, tanpa aturan yang rumit dan ‘menyiksa’.
Buatku, perpustakaan harus memahami artinya berpustaka pagi para pemustakanya, membuat segala sesuatu mudah adalah hal yang sangat sulit. Membuat sesuatu yang sulit untuk menjadi mudah bagi pemustaka itulah yang menjadi  beban pekerjaan pustakawan.
Dimataku, pada dalam diri pustakawan, harus ada pribadi sebagai pemustaka, sehingga bisa ‘merasakan’ bagaimana pengalaman berpustaka di perpustakaan. Setiap hari ikut merasakan menjadi pemustaka yang sedang mencari kebutuhan informasi di perpustakaan.dengan demikian, pustakawan yang dalam dirinya juga ada sosok pemustaka, maka akan menjadikan dia sangat dapat menyelami sosok pemustaka yang akan dia layani. Dengan demikian, apa yang diberikan perpustakaan, tidak ada yang mubazir tersia-siakan karena tidak memenuhi kebutuhan pemustakanya.

Perpustakaan yang menyenangkan
Kalau aku, membuat perpustakaan yang fun itu sebnarnya sangat bisa dilakukan. Memberikan ornament-ornament yang bisa menarik minat baca, membuat seluruh buku dapat di ‘telan’ habis oleh pemustakanya, itu sudah menjadikan halk yang luar biasa untuk bisa dikembangkan perpustakaan. Pernah tidak kita membayangkan, kalau perpustakaan memiliki 500 judul buku, dan kesemuanya diberikan abstrak dan reviewnya, wah, aku membayangkan, tiap hari tidak akan pernah habis informasi di baca oleh pemustaka. Abstrak dapat memberikan gambaran yang nyata  tentang isi buku tersebut. Hal itu akan membantu pemustaka memahami lebih awal buku yang akan dia baca secara keseluruhan. Sedangkan review berisi kata-kata yang provokatif, yang dapat memicu gairah kepada bacaan tertentu. Review yang sederhana, lugas, tapi provokatif. Abstrak dan review tersebut kemudian di tampilkan kepada pemustaka, dlam bentuk tayangan di monitor ataupun di tempel sebagian pada sudut-sudut strategis di perpustakaan. Kegiatan ini bisa saja dilakukan oleh semua jenis perpustakaan,misalnya perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan khusus bahkan perpustakaan perguruan tinggi. Dan yang harus diingat adalah penulisan review itu harus diikuti oleh reviewernya. Sangat menarik lagi kalau review itu dilakukan oleh pemustaka yang ada di dalamnya. Contoh saja misalnya di perpustakaan sekolah. Seluruh siswa dimintai tugas meminjam buku di perpustakaan dan dibawa pulang, dalam waktu tertentu dikembalikan lagi ke perpustakaan dengan menyertakan hasil review, nama reviewer. Pustakawan nantinya tinggal menginput di database, semua hasil review tersebut dan menayangkan. Sungguh sebuah pekerjaan yang sangat menarik. Semua siswa akan merasa bangga karena hasil tulisan review nya akan di tayangkan dan dibaca oleh semua orang.

Good design for good library services
Dimataku, ada beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam membangun sebuah system perpustakaan. Kalau boleh aku mengatakan dengan menyitir seorang designer ternama dunia Dieter Rams yang mengatakan bahwa  terdapat 10 prinsip dalam mendesain sesuatu produk yang akan kita layankan. Pengalaman Dieter Rams ini menurutku sangat cocok sekali menjadi pegangan semua pustakawan di dunia ini, dalam membangun system perpustakaan.
Good design is innovative.
Desain yang baik itu adalah yang inovatif. Membuat sesuatu yang inovatif itu tidak perlu dengan biaya yang mahal. Inovatif itu bermakna tidak hanya tampil berbeda, berubah ataupun baru, namun menciptakan sesuatu yang lebih baik, yang lebih jelas, lebih mudah digunakan, yang lebih cepat. Contoh konkrit di perpustakaan adalah dengan menyajikan informasi yang selalu bsru di setiap harinya, selalu berbeda di setiap harinya. Tentu saja semakin hari dengan penampilan yang baru, menjadi lebih mudah di akses oleh pemustaka.
Good design makes product useful
Sebuah desain yang baik itu berfungsi  ‘untuk digunakan’, ‘untuk dialami, ‘untuk digunakan’. Semua layanan dan produk yang ada di perpustakaan itu bukan hanya sebagai mercusuar dan menara gading, namun memang diciptakan untuk digunakan oleh pemustakanya. Apalagi hanya untuk misi proyek dan gagah gagahan. Hahaha…tidak ada itu di dalam kamus perpustakaan. Sebagai konsekuensinya, desain yang baik itu adalah berdasarkan penelitian, pemahaman saat desain itu digunakan atau saat dialami. Perpustakaan bisa melakukan riset-riset kecil-kecilan dengan cara berdialog dengan pemustaka, menanyai pemustaka dan masuk ke dalam lingkarang komunikasi pemustaka sehingga di dapatkan simpulan yang bisa dipakai sebagai dasar mengambil keputusan tindakan. Tidak malah membuat desain sesuai dengan maunya pustakawan. Tidak mengikuti kemauan sekolah atau institusi tanpa melibatkan maunya pemustaka.

Good design is aesthetic
Kalau dalam perpustakaan kita menginginkan sebuah layanan yang hebat, dengan desain yang hebat, namun tidak boleh dilupakan bahwa desain tersebut harus tampil indah. Dan tampil indah tidak serta merta artinya kemudian kita menambahkan aksesoris yang tidak perlu. Keindahan dapat dicapai dari finishing yang baik, mengecek grammar, tanda baca, kerapian, simetris. Tampil Indah. Tuhan aja menyukai keindahan. Pemustaka pun menyukai keindahan dalkam penampilan perpustakaan. Kalau misalnya perpustakaan membuat review untuk sebuah buku, maka tampilan review itu dibuat semenarik mungkin, dengan bahasa yang lugas dan penulisan intonasi yang provokatif, sehingga menarik untuk dibaca.
Good design makes product understandable
Desain yang baik adalah intuitif, 'form is function, function is form' . saat kita melihat bentuknya saja kita menjadi tahu cara menggunakannya atau mengasosiasikan nya dengan apa kita menggunakannya. Dengan kata lain bahwa desain itu sangat bisa dimengerti dan mudah dipakai. ”Pemustaka datang untuk dimengerti, tidak untuk dibuat bingung...”, barangkali ungkapan yang aku tulis itu harus dibawa terus dalam benak pustakawan ketika mereka melayani pemustaka. Susunan koleksi dan tata letak rak yang mudah dijangkau dan dimengerti oleh pemustaka, menjadikan pemustaka betah dan merasa nyaman beerada di perpustakaan.
Good design is unobtrusive
Adalah desain yang tidak menonjolkan apapun untuk dibagikan kepada pengguna. Desain ini malah berbalik menyediakan tempat seluas luasnya bagi penggunanya untuk mengekspresikan kebutuhannya.  Contoh yang ingin aku ungkapkan adalah betapa nyamannya pemustaka ketika masuk ke perpustakaan, melihat hamparan luas dan putih bersih dari seluruh ruangan yang ada. Karena hamparan yang luas itulah yang akan memberikan kesempatan pikiran pemustaka berekspresi. Hamparan luas ruangan dan tidak diusik oleh banyaknya meja kursi yang bertumpuk-tumpuk, membuat pemustaka bisa segar dan leluasa berpikir, berkespresi serta dengan leluasa bisa menuangkan ide-ide smart nya di perpustakaan. Berbeda dengan ruangan yang sumpek, tidak teratur dan berjibun barang yang tidak berguna ada di sana, membuat pemustaka akan lari terbirit-birit keluar dari perpustakaan dan tidak mau lagi datang ke perpustakaan. Karena kedatangan ke perpustakaan hanya akan menambah masalah bagi kehidupannya. Nah, kita harus menghindari hal yang demikian.
Good design is honest
Desain yang baik itu harus jujur. Desain yang tidak menampilkan sesuatu yang lain dari yang seharusnya yang ditampilkan, yang mungkin agak kurang misalnya. Kalau kita hanya dapat menampilkan satu fungsi maka tidak diperlukan object lain yang perlu hadir disitu. Kadang, kita meninabookkan pemustaka dengan memberi 'asesoris' yang tidak begitu penting di perpustakaan dan melupakan kebutuhan pokok dari pemustaka. ’Asesoris' itu perlu,namun ada yang lebih perlu lagi di benahi, sehingga tidak hanya mencoba 'melupakan' kebutuhan pokok pemustaka, dengan menggiring mereka kepada 'kenyamanan semu' yang sebenarnya bukan itu tujuan utama pemustaka datang ke perpustakaan. Kalau aku ambil contoh seoang arsitek yang akan mendesain pepustakaan, sebensrnya arsitek itu tidak mendesain gedung, namun mendesain perilaku pemakai gedung pepustakaan. Hal itu menandakan ada kejujuran dalam mendesain sistem di perpustakaan.
Memaksakan sesuatu harus ada di perpustakaan untuk diberikan kepada pemustaka, padahal jelas-jelas pemustaka tidak membutuhkannya, malah akan membuat pemustaka tidak menjadi betah dan suka dengan perpustakaan. Perpustakaan sudah tidak jujur lagi kepada pemustaka.
Good design is long lasting
Adalah bagaimana membuat desain yang punya relevansi yang tinggi pada kegunaan sehingga tetap relevan digunakan walau pengguna telah mengalami perubahan selera terhadap teknologi, usia, fashion. Kalau melihat generasi kemajuan teknologi sekarang ini, yang kebanyakan menggunakan system barcode dalam proses peminjaman dan transaksi informasi di perpustakaan, maka sistem barcode ini harus bisa mengikuti zaman dimana teknologi terus bergerak.


Good design is thorough, down to last detail
Inti dari prinsip desain ini adalah konsisten. Semua yang terkait dengan layanan perpustakaan haruslah konsisten. Ketika aku datang ke perpustakaan sekarang, maka aku akan mendapati system yang sama dan konsisten ketika aku sebulan lagi aku datang. Tidak menggunakan prinsip ‘esok dhele sore tempe” atau pagi kedelai, sorenya tempe. Plin plan. Konsistensi pola dalam sebuah desain, sangat di perlukan oleh pemustaka, sehingga pemustaka tidak merasa bingung. Konsistensi ini adalah hal yang sangat penting bagi pemustaka untuk memahami environment desain yang kita berikan.
Konsistensi pola ini bisa dilihat dari letak atau posisi dimana Countre layanan peminjaman dan counter OPAC berada. Tidak sehari dipindah di depan, hari besuk sudah dipindah di samping kiri, dan keesokannya lagi, sudah di pindah di sebelah kanan.
Good design is environmentally-friendly
Aku memahami desain ini adalah desain yang ‘ramah kepada pemutaka”. Kalau dalam bahasa ilmu perpustakaan itu ada aspek egonomis di sana. Semua yang ada di perpusutakaan, termasuk peralatannya, ‘ramah’ dengan tubuh kita, dengan otot tangan kita dan dengan posisi badan kita. Contoh yang paling sepele yang bisa kita lihat adalah ketika kita mengoperasionalkan OPAC/Online Public Access Catalog di perpustakaan, maka apakah desain tersebut membuat kita memaksa kita memindahkan mouse sehingga otot tangan kita bekerja lebih sering, ataukah kepala kita menjadi pening mencari dan memperhatikan label punggung buk yang ada di pepustakaan karena posisi letak buku sangat rendah dari posisi badan kita.
Good design is little as possible
Artinya sangat jelas bukan bermaksud simplicity atau memilih desain sesederhana mungkin, bukan itu. Namun bagaimana mengadakan desain yang terlihat sederhana mungkin karena hal-hal yang kompleks dikerjakan dibelakang, tidak tampak oleh pemustaka. Contoh yang selalu bisa kita lihat di perpustakaan adalah ketika kita mengakses informasi di OPAC/, Online Public Access Catalog, maka kita, pemustaka tidak perlu disibukkan dengan mengklik sana mengklik sini dan sulit menemukan informasi yang sedang dia cari karena masih harus menggabungkan kata satu dengan kata yang lain.  Biarkanlah pemustaka merasa nyaman ketika mengakses informasi langsung bisa menemukan, tanpa harus melalui tahapan-tahapasn yang rumit. Kita harus ingat makna otomasi itu adalash otomatis, semua dikerjakan dibalik mesin komputasi, dan bukan pemustaka yang mengerjakannya. Jangan membiarkan pemustaka terlalu lama berselancar tanpa mendapatkan hasil yang benar-benar dia butuhkan. Membuat bagaimana agar pemustaka sedikit mungkin bertanya, sedikit mungkin searching, namun langsung mudah menemukan informasi yang dibutuhkannya.

Pustakawan
Aku pernah menuliskan di jejaring social facebook, yang menggambarkan bagaimana sebenarnya pustakawan itu. Aku menggambarkannya sebagai berikut :
“…Aku adalah seorang ibu, karena aku merawat anak, bukan karena aku seorang perempuan yang ada di rumah. Aku adalah seorang guru, karena aku mengajar murid, bukan karena aku berada di sekolah…”
Selanjutnya, aku juga menulis bahwa :
“…Aku adalah pustakawan, karena aku melayani pemustaka, bukan karena aku berada di perpustakaan. Seseorang disebut pustakawan, bukan cuma karena ada di perpustakaan, bisa ini dan itu; satpam pun bisa. Namun seseorang disebut pustakawan ketika ia berguna bagi pemustakanya. Berpotensi bagi pemustakanya…”

Menurutku, object Pustakawan adalah Pemustaka, sedang Perpustakaan adalah karya Pustakawan untuk Pemustaka. Kalau seseorang tidak ada sangkut pautnya dengan potensi Pemustaka, maka mohon tidak menyebut dirinya sebagai Pustakawan.

Customer Focus Group
Menurutku, untuk mengatasi ‘hubungan atnara pemustaka dan pustakawan, dan mengimplementasikan sebuah desain produk layanan yang bagus bagi pemustakanya, maka sebaiknya memang pepustakaan berinisiatif mengadakan “customer focus group”. Di dalam forum itu, akan dapat  didengarkan apa saja yang dirasakan oleh pemustaka. Melakukan “customer focus group” kepada pemustaka itu sangat diperlukan. menerima masukan dan mengambil tindakan solusi. tidak hanya sekedar mengadakan 'layanan-layanan' tanpa menggunakan dasar pertimbangan dari pemustaka. Seperti moto yangt selalu aku tuliskan dalam facebook ku di about me bahwa "we listen, we want you to know that we are listening..."
Aku menyadari bahwa 90 % isi dari perpustakaan itu adalah pemustaka. Maka kenapa kita tidak libatkan pemustaka supaya bisa lebih memiliki rasa ‘handarbeni’ perpustakaan.

Disitulah aku  benar-benar menemukan experience pemahaman baru tentang perpustakaan. Dan itulah kenapa, aku bangga dengan perpustakaan. I love you full, library.

Peningkatan Layanan Informasi Sumber-sumber Rujukan di Perpustakaan melalui Kompetensi Pustakawan Asertif


A.    Pendahuluan
Seperti diketahui bersama bahawa perpustakaan berperan menyediakan dan menyebarkan informasi kepada pemustakanya. Perpustakaan membantu memberikan solusi-solusi permasalahan yang di hadapi pemustaka terkaait dengan kebutuhan informasi dalan kehidupannya. Oleh sebab itu, perpustakaan selalu berupaya menyediakan seluruh sumber-sumbe informasinya kepada pemustaka, termasuk sumber-sumber rujukan ayang ada di perpustakaan.
Sumber-sumber rujukan akan dapat di maksimalkan penggunaannya, apabila sudah barang tentu, dilayankan dengan maksimal juga oleh pustakawannya. Eksplorasi terhadap seluruh sumber-sumber rujukan, dapat di lakukan apabila terdapat kerjasama yang baik antara pustakawan dengan pemustakanya.
Pustakawanlah yang seharusnya mengetahui layanan apa yang perlu mereka berikan kepada pemustaka supaya pemustaka puas dan pada akhirnya menjadikan pustakawan sebagai partner belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui interaksi rutin dengan pemustaka dan melakukan analisis kebutuhan pemustaka untuk mencapai kepuasan.
Supaya terjadi interaksi yang harmonis, dan supaya pemanfaat sumber-sumber rujukan bisa di maksimalkan seperti juga harapan oleh Ranganathan, maka perlu sikap asertif bagi pustakawannya dalam berinteraksi di perpustakaan. Mengasah kemampuan social dan mempertajam kemampuan asertif akan membuat  pustakawan menjadi agen perubahan.
B.     Jasa Layanan Sumber-sumber Rujukan
Peran jasa rujukan di perpustakaan satu dengan yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dengan besar kecilnya perpustakan, jenis koleksinya dan fungsi serta tradisi perpustakaan. Sulistyo-Basuki[1] mengatakan bahwa jasa rujukan di perpustakaan satu dengan yang lain berbeda-beda tergantung dengan beberapa faktor antara lain : situasi lokal, tradisi lokal, jenis pemakai, besar klecilnya perpustakaan, sumber pustaka yang tersedia, serta pandangan hidup pustakawan yang menyangkut  organisasi dan administrasi perpustakaan. Sedangkan menurut Prytherch [2]mengatakan bahwa “refrence work” is that branch of the library’s services which includes the assistance given to readers in their search for information on various subjects. Yang artinya adalah bahwa jasa referensi adalah sebuah jasa yang merupakan bagian dari sebuah perpustakaan  yang memberikan bantuan kepada pengguna perpustakakan (bantuan jenis apapun) dalam rangka membatu mencarikan informasi bagi penggunanya.

Dan berbagai jenis jasa rujukan yang lazim dilaksanakan di sebuah perpustakaan, antara lain adalah :
1.      Pinjam antar perpustakaan
2.      Tandon (reservation)
3.      Orientasi perpustakaan dan instruksi bibliografi
4.      Kunjungan perpustakaan bagi anggota baru
5.      Menyelenggarakan pameranJasa bimbingan pembaca
6.      Jasa penmgindeksan dan abtrak
7.      Kompilasi bibliografi
8.      Pembuatan kliping
9.      Pembuatan jajaran vertikal (vertical file)[3]

Sementara menurut American Library Association – Reference Service Division menyatakan ada 2 jenis jasa rujukan yaitu jasa langsung dan jasa Tidak Langsung. Jasa rujukan langsung adalah merupakan kegiatan pemberian bantuan personil langsung diberikan kepada pemakai perpustakaan, artinya pustakawan langsung membantu mencarikan informasi. Sedangkan jasa rujukan tidak langsung dapat berupa penyusunan katalog, bibliografi, bantuan rujukan lainnya, pemilihan dokumen, penyusunan bagian referensi, pembuatan jajaran informasi relevan serta yang lainnya. Seperti dijelaskan oleh Samuel  Rothstein dalam Bopp E, Richard[4] bahwa :
…I represent reference work to be the personal assistance given by the librarian to individual readers in pursuit of information; reference service I hold to imply further the definite recognition on the part of the library of its responsibility for such work and a specific organization for that purpose. In short, we are willing to give help and what is more, consider such help an important enough part of our obligations to justify training and assigning staff especially for this work…
            Di dalam konteks kalimat tersebut jelas di sebutkan bahwa pekerjaan jasa rujukan di perpustakaan terfokus pada penyediaan pendampingan kepada pemustaka secara personal dan pemustaka secara kelompok.

Fungsi-Fungsi Referensi

Agar pelayanan referensi dapat berjalan dengan baik, petugas perlu memahami terlebih dahulu fungsi-fungsi referensi, yakni sebagai berikut.
1.      Fungsi Pengawasan
Petugas referensi dapat mengamati pengunjung, baik dalam hal kebutuhan informasi yang diperlukan maupun latar belakang sosial dan tingkat pendidikannya agar dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.
2.      Fungsi Informasi
Fungsi yang terpenting dari pelayanan referensi adalah memberikan informasi kepada pengunjung, yaitu memberikan jawaban terhadap pertanyaan singkat maupun penelusuran informasi yang luas dan mendetail sesuai kebutuhan pemakai.
3.      Fungsi Bimbingan
Petugas referensi harus menyediakan waktu guna memberikan bimbingan kepada pengguna perpustakaan untuk menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan, misalnya melalui katalog perpustakaan, buku-buku referensi, serta bahan pustaka lainnya.
4.      Fungsi Instruksi
Pemberian instruksi yang dimasudkan adalah sebagai cara untuk memperkenalkan kepada pemakai tentang bagaimana menggunakan perpustakaan yang baik. Di samping itu, ditujukan juga kepada usaha untuk menggairahkan dan meningkatkan penggunaan perpustakaan.
5.      Fungsi Bibliografis
Petugas referensi perlu secara teratur menyusun daftar bacaan atau bibliografi untuk keperluan penelitian atau mengenal bacaan yang baik dan menarik. Penyusunan bibliografi lazimnya dipergunakan untuk beberapa tujuan, antara lain:
a.       menyusun bibliografi  tentang subjek tertentu,
b.      menyusun bibliografi untuk mengenal daftar bacaan yang baik dan menarik, karya tulis, atas permintaan guru, siswa atau orang lain yang memerlukannya.[5]

Terkait dengan penelusuran rujukan di perpustakan, prinsip yang harus dipegang pustakwan adalah semua untuk kepentingan pemustaka. Seperti yang dikemukakan oleh Lancaster (1979) disebutkan bahwa temu balik informasi ialah proses penelusuran suatu koleksi dokumen (dalam arti yang seluas-luasnya) untuk mengidentifikasi dokumen-dokumen tentang subjek tertentu. Dan sistem temu kembali informasi adalah setiap sistem yang dirancang untuk memudahkan kegiatan penelusuran bagi pemustaka.


C.    Kompetensi Pustakawan
Mengawali dari diskusi dalam kompetensi pustakawan, akan diuraikan terlebih dahulu mengenai pengertin pustakawan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Pustakawan diartikan sebagai orang yang bergerak di bidang perpustakaan; ahli perpustakaan (tanpa membedakan PNS ataupun Non PNS). [6]
Jabatan Fungsional Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya. Kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian.[7]. Sementara itu, di dalam Kode Etik Pustakawan, dikatakan bahwa pustakawan itu adalah adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan[8] dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan.[9] Dalam undang-undang disebutkan juga bahwa pustakawan itu adalah seseorang yg memiliki kompetensi yg diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab unt melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.[10]
Arti umum dari kompetensi adalah bidang pekerjaan dan pengabdian tertentu, yang karena hakikat dan sifatnya membutuhkan persyaratan dasar, ketrampilan teknis, dan sikap kepribadian tertentu.[11] Atau dikatakan sebagai sejenis pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang untuk melaksanakannya dg baik memerlukan ketrampilan dan/atau keahlian khusus yang diperoleh dari pendidikan dan/atau pelatihan secara berkesinambungan sesuai dg perkembangan bidang pekerjaan atau lapangan kerja yg bersangkutan.[12]
Namun dengan adanya Undang Undang tentang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 telah menumbuhkan harapan baru bagi tenaga perpustakaan di lembaga swasta. Dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan fasilitas layanan perpustakaan, bagaimanapun pustakawan tidak dapat lepas dari peran sebagai mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan siapapun kapanpun di mana pun.  Beberapa ketrampilan yang harus dimiliki profesi pustakawan, antara lain [13]:
1)            Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.
2)            Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai.
3)            Seorang pustakawan harus selalu berpikir positif.
4)            Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus mempunyai nilai tambah, karena informasi terus berkembang.
5)            Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tapi layak pakai.
6)            Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekrjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola[14]
7)            siap atau tidak siap para pustakawan harus ikut bermain di era global sekarang ini. Para penikmat internet atau mereka yang lebih suka berselancar di dunia maya harus dijadikan mitra kerja kita.
8)            pustakawan saat ini bukanlah penjaga koleksi tapi penyedia informasi, media informasi semakin beragam
9)            pustakawan wajib untuk memberikan layanan prima terhadap pemustaka; menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; dan memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya
Terkait dengan kompetensi pustakawan, kompetensi dapat dijelaskan sebagai kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan, dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. [15]
Kompetensi dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu :
a.       Tipe kompetensi pertama yang disebut dengan “soft competency”. Tipe kompetensi ini berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatur proses pekerjaan dan berinteraksi dengan orang lain. Yang termasuk dalam soft competency diantaranya adalah kemampuan manajerial, kemampuan memimpin (kepemimpinan), kemampuan komunikasi, dan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain (Interpersonal relation).
b.      Tipe kompetensi yang kedua yaitu “hard competency”. Tipe kompetensi kedua tersebut berkaitan dengan kemampuan fungsional atau teknis suatu pekerjaan.  Dengan kata lain, kompetensi ini berkaitan dengan seluk beluk teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuni. Contoh hard competency di bidang perpustakaan antara lain kemampuan untuk mengklasir, mengkatalog, mengindek, membuat abstrak, input data, melayani pemustaka, melakukan penelusuran informasi dsb.
The Special Library Association membedakan kompetensi  menjadi kompetensi profesional dan kompetensi personal/individu.[16]
a.    Kompetensi profesional adalah kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen, dan penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi. Kompetensi profesional yang seharusnya dimiliki oleh pustakawan :
1)         memiliki pengetahuan keahlian tentang isi sumber-sumber informasi, termasuk kemampuan untuk mengevaluasi dan menyaring sumber-sumber tersebut secara kritis.
2)         memiliki pengetahuan tentang subjek khusus yang sesuai dengan kegiatan organisasi pelanggannya.
3)         mengembangkan dan mengelola layanan informasi dengan baik, accessable (dapat diakses dengan mudah) dan cost-effective (efektif dalam pembiayaan) yang sejalan dengan aturan strategis organisasi.
4)         menyediakan bimbingan dan bantuan terhadap pengguna layanan informasi dan perpustakaan.
5)         memperkirakan jenis dan kebutuhan informasi, nilai jual layanan informasi dan produk-produk yang sesuai kebutuhan yang diketahui.
6)         mengetahui dan mampu menggunakan teknologi informasi untuk pengadaan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi.
7)         mengetahui dan mampu menggunakan pendekatan bisnis dan manjemen untuk mengkomunikasikan perlunya layanan informasi kepada manajemen senior.
8)         mengembangkan produk-produk informasi khusus untuk digunakan di dalam atau di luar lembaga atau oleh pelanggan secara individu.
9)         mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan menyelenggarakan penelitian yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah manajemen informasi.
10)     secara berkelanjutan memperbaiki layanan informasi untuk merespon perubahan kebutuhan.
11)     menjadi anggota tim manajemen senior secara efektif dan menjadi konsultan organisasi di bidang informasi.

b.      kompetensi personal adalah kompetensi yang menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperhatikan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya. Sedangkan kompetensi personal/individu bagi pustakawan meliputi :
1)      memiliki komitmen untuk memberikan layanan terbaik.
2)      mampu mencari peluang dan melihat kesempatan baru baik di dalam maupun di luar perpustakaan.
3)      berpandangan luas.
4)      mampu mencari partner kerja.
5)      mampu menciptakan lingkungan kerja yang dihargai dan dipercaya.
6)      memiliki ketrampilan bagaimana berkomunikasi yang efektif.
7)      dapat bekerjasama secara baik dalam suatu tim kerja.
8)      memiliki sifat kepemimpinan.
9)      mampu merencanakan, memprioritaskan dan memusatkan pada suatu yang kritis.
10)  memiliki komitmen untuk selalu belajar dan merencanakan pengembangan kariernya.
11)  mampu mengenali nilai dari kerjasama secara profesional dan solidaritas.
12)  memiliki sifat positif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan. 

Kompetensi pustakawan bias berjalan dengan baik dan sesuai standar jika semua sistem mendukung dan mensupport implementasi kompetensi tersebut.[17] Pihak-pihak terkait, semua saluran komunikasi akan membantu memperlancar wujud dari kompetensi pustakawan.Tiga pihak yang mempunyai kepentingan terhadap standar kompetensi pustakawan [18]:
  1. Pertama adalah perpustakaan.  Bagi perpustakaan,  standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk merekrut pustakawan dan mengembangkan program pelatihan agar tenaga perpustakaan mempunyai kompetensi atau meningkatkan kompetensinya.
  2. Kedua adalah lembaga penyelengara sertifikasi pustakawan. Bagi lembaga sertifikasi pustakawan, standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam melakukan penilaian kinerja pustakawan dan uji sertifikasi terhadap  pustakawan.
  3. Sedangkan pihak ketiga adalah pustakawan. Bagi pustakawan standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mengukur kemampuan diri untuk memegang jabatan pustakawan.
Dari uraian di atas, menjadi pustakawan  yang mempunya kompetensi  itu bias dilalui dengan berbagai cara, beragam usaha dengan terukur dan teruji, sehingga dapat mewujudkan profesi yang handal buat pemustakanya di perpustakaan.

D.    Pustakawan Asertif
Interaksi pustakawan dengan pemustaka dalam menuangkan kerjasama dalam kegiatan pencarian  sumber-sumber  informasi referensi, membutuhkan keterampilan kepribadian antara pemustaka dan pustakawan. Keterampilan sosial menjadi salah satu syarat wajib bagi interaksi di perpustakaan, disamping syarat-syarat yang lain yang juga harus ada. Keterampilan Sosial (Social Skills) adalah kemampuan untuk menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim.[19]
Sebagai ilustrasi mengenai pengertian keterampilan sosial, pada sekitar tahun 1970an, di tengah maraknya protes mahasiswa sedunia menentang Perang Vietnam, seorang pustakawati di sebuah kantor US Information Agency diluar negeri menerima kabar buruk : sekelompok mahasiswa mengancam akan membakar perpustakaannya. Reaksinya sepintas nampak konyol, tapi hasilnya luar biasa, pustakawati ini justru mengundang kelompok yang mengancam tesebut untuk mengancam tersebut untuk menggunakan fasilitas perpustakaan sebagai ajang pertemuan-pertemuan mereka,  maka terjadilah dialog bukan konfrontasi. Dalam berbuat demikian, pustakawan ini memanfaattkan hubungan pribadinya dengan beberapa tokoh mahasiswa setempat yang cukup daapat dipercaya dan mempercayainya. Langkah tersebut  membuahkan terbukanya saluran-saluran baru yang saling memahami dan ini mempengaruhi perdahabatannya dengan para tokoh mahasiswa. Perpustakan itu selamat. Pustaakwati tersebut jelas memperagakan keahliannya sebagai negosiator, penengah, atau agen perdamaian yang sangat hebat, yang mampu membaca memuncaknya ketegangan, mendadaknya perubahan situasi, kemudian mengelola tanggapan dengan menyatukan semua orang bukannya saling mempertentangkannya. Kantor terhindar dari kerusakan seperti yang menimpa kantor-kanntor perwakilan Amerika lain yang dipimpin oleh orang-orang yang kurrang memiliki keterampilan sosial.[20]
Dari sumber yang lain di sebutkan bahwa keterampilan sosial adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dengan cara-cara yang dapat diterima secara sosial dan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain secara timbal balik.[21] Keterampilan sosial (Social Skills) itu  intinya adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri untuk berinteraksi dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya secara baik.

Sebagai sebuah sumber informasi, perpustakaan juga merupakan suatu instansi pendidikan non formal yang menyediakan koleksi dan informasi yang beraneka ragam dan berguna untuk mengubah cara berpikir, bertingkah laku dan berperasaan dalam menghadapi proses kehidupan yang terus berubah. Fungsi inilah yang menjadi kunci atau rujukan pustakawan dalam menjalankan tugasnya, dimana pustakawan tidak cukup hanya menyediakan akses informasi, tapi juga menjadikan informasi tersebut bermanfaat bagi pemustaka dalam rangka mencapai masyarakat cerdas dan berpikir kritis, menuju masayarakat yang ‘independent learners’.
Perilaku asertif bagi pustakawan merupakan hal yang sangat penting dalam berhubungan interpersonal dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari di perpustakaan. Tugas pustakawan tidak dapat dipisahkan dari tugas dan fungsi perpustakaan sebagai lembaga penyedia dan pengelola informasi yang bertugas untuk memberikan akses seluas-luasnya bagi pemustakanya  untuk mendapatkan informasi yang tepat secara efisien. Tugas tersebut mengharuskan para pustakawan mempertinggi sikap asertif. Kemampuan berinteraksi merupakan hal utama dalam memberikan layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan. Segala aktifitas di perpustakaan berkaitan erat dengan kemampuan berinteraksi, baik  antar pustakawan maupun antara pustakawan dan pemustaka.
Salah satu teknik berinteraksi yang sangat tepat dimiliki pustakawan adalah perilaku  asertif, yaitu kemampuan menerapkan strategi berkomunikasi yang tepat sesuai karakter pemustakanya. Perilaku asertif menyangkut ekspresi pikiran, perasaan yang positif dan berkaitan dengan ekspresi perasaan negative. [22] Perilaku asertif ini merupakan pengembangan diri yang positif. Menurut Docker [23], dikatakan bahwa perilaku asertif meruapakan perilaku yang jujur, langsung dan ekspresi yang penuh penghargaan terhadap pikiran, perasaan dan keinginan dengan mempertimbangkan perasaan dan hak-hak orang lain. Inti dari perilaku asertif adalah kemampuan mempertahankan hak, kemampuabn mengekspresikan diri, langsung, terbuka dan jujur serta menghargai hak orang lain. Pernyataan tegas pustakawan[24] dalam meng’handle’ segala layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan.
Pustakawan yang menerapkan interaksi asertif memiliki ciri-ciri kemampuan mempertahankan hak-haknya tanpa mengorbankan hak orang lain, seelalu berinteraksi berdasarkan “saling menghargai” dan selalu berusaha menemukan jalan keluar untuk kepentingan bersama, menjadi pendengar aktif, objektif dan tidak emosional dalam menghadapi pemustakanya, memiliki kekuatan personal dan mau berbagi kekuatan yang dimiliki dengan orang lain, mendapatkan ‘respect’, dukungan dan diterima dengan positif oleh lingkungan dan memiliki “good sense of humor” serta siap menanggung resiko yang mungkin timbul dari pekerjaan pustakawan, dan menjadi bertanggung jawab, memiliki integritas dan kebebasan berpendapat dan berdiskusi dengan pemustaka.
Jakubowski, 1973 dalam Caputo menjelaskan bahwa  orang-orang cenderung lebih nyaman menerima kenyataannya adanya hak yang paling mendasar dalam diri manusia, yaitu hak asertif, hak interpersonal. Dengan demikian, setiap orang yang ada di perpustakaan akan menjalin interaksi yang asertif akan menghasilkan hubungan yang harmonis antara pustakawan dan pemustakanya, dimana masing-masing pihak dapat saling memahami dan menghargai sehingga lebih memudahkan untuk memecahkan suatu permasalahan.

E.     Penutup

Perilaku asertif bagi pustakawan merupakan hal yang sangat penting dalam berhubungan interpersonal dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari di perpustakaan. Tugas pustakawan tidak dapat dipisahkan dari tugas dan fungsi perpustakaan sebagai lembaga penyedia dan pengelola informasi yang bertugas untuk memberikan akses seluas-luasnya bagi pemustakanya  untuk mendapatkan informasi yang tepat secara efisien. Tugas tersebut mengharuskan para pustakawan mempertinggi sikap asertif. Kemampuan berinteraksi merupakan hal utama dalam memberikan layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan. Segala aktifitas di perpustakaan berkaitan erat dengan kemampuan berinteraksi, baik  antar pustakawan maupun antara pustakawan dan pemustaka. Dengan demikian, atmosfer layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan akan bisa di manfaat secara maksimal oleh pemustaka.




F.     Daftar Pustaka

Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001.
ALA.  Glossary of library and information science. 1983. Chicago : American Library Association.
Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, hal 85.
Apostle, Richard and Boris Raymond. Librarianship and the information paradigma. Lanham, Md. & London : The Scarecrow Press, 1997.
Bopp, E. Richard and Linda C. Smith. 1995. Reference and Information Services. Englewood Colorado : Libraries Unlimited, hal 3.
Buckland, Michael. 1992. Redesigning Library Services ; A Manivesto. London : Library association.
Caputo, S. Janette. 1984. The assertive Librarian. Canada, Oryx Press,
Djatin, Jusni. Penelusuran Literatur. 1996 Jakarta : Universitas Terbuka.
Forum kajian Budaya dan Agama. 2000. Kecerdasan dan Emosi dan Quantum Learning. Yogyakarta : Forum
Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen. 2006. Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto.
Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1990. Jakarta : Balai Pustaka.
Kartini. 2008. “Kebijakan Pengembangan Pustakawan”. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008
Katz, William A. 1982.   Introduction to reference guide I & II. New York : McGraw-Hill.
Katz, William. 1979. Your Library : A Reference Guide. New York : Holt, Rinehart and Winston.
Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya.
Kismiyati, Titik, 2008. Kompetensi Pustakawan Perguruan Tinggi. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Nasional FPPTI, Seminar Ilmiah, dan Workshop, tanggal 21 Agustus 2008, di Cibogo, Bogor.
Kode Etik Pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998.
Lembaga Pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi. 2001.Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Yogyakarta : LpPI dan FkBA.
Munthe, Bermawi. 2010. Sukses di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Pendit, Putu Laxman. 1992. “Kepustakawanan Indonesia : Potensi dan Tantangan”. Jakarta : Kesaint Blanc
Prytherch 1995. Harrod’s Librarians’ Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. England : Gower.
Rice, James, Jr. 1981.Teaching Library Use : A Guide For Library Instruction. London : Greenwood Press.
Sihabudin, Urip. “Rapat Evaluasi Layanan Perpustakaan”. 13 Agustus 2008.
Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Supriyanto. “Kompetensi dan Sertifikasi Profesi Pustakawan:implikasi UU Perpustakaan No.43 Th.2007” 2008
Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional.
Wedgeworth, Robert (ed.).1993. World encyclopedia of library and information services.3rd ed. Chicago : American Library Association.
Yusman, Dede Gemayuni. 2006.”Peningkatan  Keterampilan Sosial melalui Program Pelatihan Keterampilan Sosial Pada Anak Usia Sekolah”. Thesis. Jakarta : Universitas Indonesia.



[1] Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, hal 448
[2]  Prytherch 1995. Harrod’s Librarians’ Glossary…hal 542
[3] Wedgeworth, Robert (ed.).1993. World encyclopedia of library and information services.3rd ed. Chicago : American Library Association.’, hal. 448

[4] Bopp, E. Richard and Linda C. Smith. 1995. Reference and Information Services. Englewood Colorado : Libraries Unlimited, hal 3.
[5] Lembaga Pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi. 2001.Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Yogyakarta : LpPI dan FkBA, hal. 123.


[6] Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, hal 85.
[7] Dalam Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya.
[8] Kode Etik Pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998, hal 1.
[9] Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen. 2006. Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto, hal
[10]Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Pasal 1
[11] Surakhmad dalam Etika Kepustakawanan, 2006:6
[12] Surakhmad .ibid, hal. 62
[13] Sihabudin, Urip. “Rapat Evaluasi Layanan Perpustakaan”. 13 Agustus 2008.

[14] Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001, hal.
[15] Ahmad. 2001. Ibid., hal. 3

[16] Kartini. 2008. “Kebijakan Pengembangan Pustakawan”. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008, hal 4.

[17] Supriyanto. 2008. “Kompetensi&Sertifikasi Profesi Pustakawan:implikasi UU Perpustakaan No.43 Th.2007” 2008, hal 10.
[18] Kartini. 2008. “Kebijakan Pengembangan Pustakawan”. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008., hal 6.

[19] Forum kajian Budaya dan Agama. 2000. Kecerdasan dan Emosi dan Quantum Learning. Yogyakarta : Forum Kajian Budaya dan Agama, hal.50
[20] Forum kajian Budaya dan Agama. 2000. Ibid. hal.48-49
[21] Yusman, Dede Gemayuni. 2006.”Peningkatan  Keeterampilan Sosial melalui Program Pelatihan Keterampilan Sosial Pada Anak Usia Sekolah”.Thesis. Jakarta : Universitas Indonesia, hal.28.
[22] Munthe, Bermawi. 2010. Sukses di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, hal. 94. Disebutkan juga dalam Hariyadi (2006 : 1), yang mengatakan bahwa  pola interaksi asertif adalah interaksi yang “paling sehat” dan efektif; memudahkan pemecahan masalah; mengurangi ‘ledakan emosi’; membutuhkan ‘skills’ dan perubahan pola pikir. Strategi berinteraksi efektif menjadi sangat penting mengingat karakter masyarakat kita yang kita layani,  dengan kecenderungan budaya lisan
[23] Munthe, Bermawi. 2010. Ibid. hal 94
[24] Caputo, S. Janette. 1984. The assertive Librarian. Canada, Oryx Press, hal. 3. Disebutkan juga bahwa perbedaan antara assertive, nonassertion dan aggression. Bahwa  assertion is standing up for your right without violating the right of others. Sementara itu, non assertive is not standing up for your rights (remaining passive), dan Aggression is assertion is standing up for your right without concern for (or conscious avoidance of ) the violation of others rights.