Friday, 7 October 2016

Mencintai Apa Yang Kau miliki: Mengelola Perpustakaan dengan Menggunakan Perspektif sebagai Pemustaka

Zulaikha, Sri Rohyanti.(2011).Mencintai Apa Yang Kau miliki: Mengelola Perpustakaan dengan Menggunakan Perspektif sebagai Pemustaka. In The Keyword: Perpustakaan di Mata Masyarakat. Labibah Zain (ed.),  (pp. 155-163). Yogyakarta: Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Kota Yogyakarta and Blogfam.com

Dibenakku, aku selalu saja memikirkan bahwa perpustakaan itu  adalah fun, menyenangkan. Dibenakku, yang ada di perpustakaan itu, aku bisa bermain dan berselancar dengan informasi-informasi yang kaya di sana. Aku membayangkan, perpustakaan tidaklah harus dengan koleksi yang banyak, kalau memang belum bisa melakukannya. Perpustakaan dibenakku, yang menyenangkan itu, bisa diawali dengan melakukan penggalian data yang bersumber pada koleksi-koleksi yang ada itu. Menurutku, perpustakaan akan menyenangkan, kalau isi di dalamnya itu semua siap sedia dimanfaatkan oleh pemustaka (Istilah pemustaka dipakai disini karena memang istulah tersebut sudah dibakukan dalam Undang-undang Perpustakaan nomor 43 tahun 2007}, yang menyebutkan bahwa untuk pengunjung, pengguna, pemakai perpustakaan, sekarang ini dipakai istilah baku dengan sebutan ‘pemustaka’a). Rasa memiliki itu bisa dibangkitkan dengan melibatkan pemustaka untuk ‘masuk’ dalam system. Masuk ke dalam lingkaran komunikasi yang dibangun perpustakaan.
Membangun perpustakaan dengan hati
Aku melihat, bahwa seharusnya, desain perpustakaan dibuat yang ‘sederhana’. Sederhana disini maknanya nya bukan sekedarnya dan sekenanya, tapi lebih kepada ‘berorientasi kepada pemustaka, bukan berorientasi kepada pustakawan. koleksinya standarlah, dan dengan staf ya yang smart dan mempunyai  kecerdasan emosi yang tinggi. Aku juga nggak bisa membayangkan, kalau pustakawan yang ada di perpustakaan itu selalu menyambut kita dengan muka yang serem, dan dengan jawaban : ”hmm, coba deh di cari sendiri di rak sebelah sana”…., atau “tidak ada kalau yang dicari itu mas”….., atau “hmm, yang mana ya koleksi yang dimaksudkan”…
Bagiku, perpustakaan akan menjadi menyenangkan kalau semua alat-alat yang digunakaan itu sangat ‘manusiawi’ , seperti sebuah permainan, yang bisa dijalankan dengan enjoy, tanpa aturan yang rumit dan ‘menyiksa’.
Buatku, perpustakaan harus memahami artinya berpustaka pagi para pemustakanya, membuat segala sesuatu mudah adalah hal yang sangat sulit. Membuat sesuatu yang sulit untuk menjadi mudah bagi pemustaka itulah yang menjadi  beban pekerjaan pustakawan.
Dimataku, pada dalam diri pustakawan, harus ada pribadi sebagai pemustaka, sehingga bisa ‘merasakan’ bagaimana pengalaman berpustaka di perpustakaan. Setiap hari ikut merasakan menjadi pemustaka yang sedang mencari kebutuhan informasi di perpustakaan.dengan demikian, pustakawan yang dalam dirinya juga ada sosok pemustaka, maka akan menjadikan dia sangat dapat menyelami sosok pemustaka yang akan dia layani. Dengan demikian, apa yang diberikan perpustakaan, tidak ada yang mubazir tersia-siakan karena tidak memenuhi kebutuhan pemustakanya.

Perpustakaan yang menyenangkan
Kalau aku, membuat perpustakaan yang fun itu sebnarnya sangat bisa dilakukan. Memberikan ornament-ornament yang bisa menarik minat baca, membuat seluruh buku dapat di ‘telan’ habis oleh pemustakanya, itu sudah menjadikan halk yang luar biasa untuk bisa dikembangkan perpustakaan. Pernah tidak kita membayangkan, kalau perpustakaan memiliki 500 judul buku, dan kesemuanya diberikan abstrak dan reviewnya, wah, aku membayangkan, tiap hari tidak akan pernah habis informasi di baca oleh pemustaka. Abstrak dapat memberikan gambaran yang nyata  tentang isi buku tersebut. Hal itu akan membantu pemustaka memahami lebih awal buku yang akan dia baca secara keseluruhan. Sedangkan review berisi kata-kata yang provokatif, yang dapat memicu gairah kepada bacaan tertentu. Review yang sederhana, lugas, tapi provokatif. Abstrak dan review tersebut kemudian di tampilkan kepada pemustaka, dlam bentuk tayangan di monitor ataupun di tempel sebagian pada sudut-sudut strategis di perpustakaan. Kegiatan ini bisa saja dilakukan oleh semua jenis perpustakaan,misalnya perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan khusus bahkan perpustakaan perguruan tinggi. Dan yang harus diingat adalah penulisan review itu harus diikuti oleh reviewernya. Sangat menarik lagi kalau review itu dilakukan oleh pemustaka yang ada di dalamnya. Contoh saja misalnya di perpustakaan sekolah. Seluruh siswa dimintai tugas meminjam buku di perpustakaan dan dibawa pulang, dalam waktu tertentu dikembalikan lagi ke perpustakaan dengan menyertakan hasil review, nama reviewer. Pustakawan nantinya tinggal menginput di database, semua hasil review tersebut dan menayangkan. Sungguh sebuah pekerjaan yang sangat menarik. Semua siswa akan merasa bangga karena hasil tulisan review nya akan di tayangkan dan dibaca oleh semua orang.

Good design for good library services
Dimataku, ada beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam membangun sebuah system perpustakaan. Kalau boleh aku mengatakan dengan menyitir seorang designer ternama dunia Dieter Rams yang mengatakan bahwa  terdapat 10 prinsip dalam mendesain sesuatu produk yang akan kita layankan. Pengalaman Dieter Rams ini menurutku sangat cocok sekali menjadi pegangan semua pustakawan di dunia ini, dalam membangun system perpustakaan.
Good design is innovative.
Desain yang baik itu adalah yang inovatif. Membuat sesuatu yang inovatif itu tidak perlu dengan biaya yang mahal. Inovatif itu bermakna tidak hanya tampil berbeda, berubah ataupun baru, namun menciptakan sesuatu yang lebih baik, yang lebih jelas, lebih mudah digunakan, yang lebih cepat. Contoh konkrit di perpustakaan adalah dengan menyajikan informasi yang selalu bsru di setiap harinya, selalu berbeda di setiap harinya. Tentu saja semakin hari dengan penampilan yang baru, menjadi lebih mudah di akses oleh pemustaka.
Good design makes product useful
Sebuah desain yang baik itu berfungsi  ‘untuk digunakan’, ‘untuk dialami, ‘untuk digunakan’. Semua layanan dan produk yang ada di perpustakaan itu bukan hanya sebagai mercusuar dan menara gading, namun memang diciptakan untuk digunakan oleh pemustakanya. Apalagi hanya untuk misi proyek dan gagah gagahan. Hahaha…tidak ada itu di dalam kamus perpustakaan. Sebagai konsekuensinya, desain yang baik itu adalah berdasarkan penelitian, pemahaman saat desain itu digunakan atau saat dialami. Perpustakaan bisa melakukan riset-riset kecil-kecilan dengan cara berdialog dengan pemustaka, menanyai pemustaka dan masuk ke dalam lingkarang komunikasi pemustaka sehingga di dapatkan simpulan yang bisa dipakai sebagai dasar mengambil keputusan tindakan. Tidak malah membuat desain sesuai dengan maunya pustakawan. Tidak mengikuti kemauan sekolah atau institusi tanpa melibatkan maunya pemustaka.

Good design is aesthetic
Kalau dalam perpustakaan kita menginginkan sebuah layanan yang hebat, dengan desain yang hebat, namun tidak boleh dilupakan bahwa desain tersebut harus tampil indah. Dan tampil indah tidak serta merta artinya kemudian kita menambahkan aksesoris yang tidak perlu. Keindahan dapat dicapai dari finishing yang baik, mengecek grammar, tanda baca, kerapian, simetris. Tampil Indah. Tuhan aja menyukai keindahan. Pemustaka pun menyukai keindahan dalkam penampilan perpustakaan. Kalau misalnya perpustakaan membuat review untuk sebuah buku, maka tampilan review itu dibuat semenarik mungkin, dengan bahasa yang lugas dan penulisan intonasi yang provokatif, sehingga menarik untuk dibaca.
Good design makes product understandable
Desain yang baik adalah intuitif, 'form is function, function is form' . saat kita melihat bentuknya saja kita menjadi tahu cara menggunakannya atau mengasosiasikan nya dengan apa kita menggunakannya. Dengan kata lain bahwa desain itu sangat bisa dimengerti dan mudah dipakai. ”Pemustaka datang untuk dimengerti, tidak untuk dibuat bingung...”, barangkali ungkapan yang aku tulis itu harus dibawa terus dalam benak pustakawan ketika mereka melayani pemustaka. Susunan koleksi dan tata letak rak yang mudah dijangkau dan dimengerti oleh pemustaka, menjadikan pemustaka betah dan merasa nyaman beerada di perpustakaan.
Good design is unobtrusive
Adalah desain yang tidak menonjolkan apapun untuk dibagikan kepada pengguna. Desain ini malah berbalik menyediakan tempat seluas luasnya bagi penggunanya untuk mengekspresikan kebutuhannya.  Contoh yang ingin aku ungkapkan adalah betapa nyamannya pemustaka ketika masuk ke perpustakaan, melihat hamparan luas dan putih bersih dari seluruh ruangan yang ada. Karena hamparan yang luas itulah yang akan memberikan kesempatan pikiran pemustaka berekspresi. Hamparan luas ruangan dan tidak diusik oleh banyaknya meja kursi yang bertumpuk-tumpuk, membuat pemustaka bisa segar dan leluasa berpikir, berkespresi serta dengan leluasa bisa menuangkan ide-ide smart nya di perpustakaan. Berbeda dengan ruangan yang sumpek, tidak teratur dan berjibun barang yang tidak berguna ada di sana, membuat pemustaka akan lari terbirit-birit keluar dari perpustakaan dan tidak mau lagi datang ke perpustakaan. Karena kedatangan ke perpustakaan hanya akan menambah masalah bagi kehidupannya. Nah, kita harus menghindari hal yang demikian.
Good design is honest
Desain yang baik itu harus jujur. Desain yang tidak menampilkan sesuatu yang lain dari yang seharusnya yang ditampilkan, yang mungkin agak kurang misalnya. Kalau kita hanya dapat menampilkan satu fungsi maka tidak diperlukan object lain yang perlu hadir disitu. Kadang, kita meninabookkan pemustaka dengan memberi 'asesoris' yang tidak begitu penting di perpustakaan dan melupakan kebutuhan pokok dari pemustaka. ’Asesoris' itu perlu,namun ada yang lebih perlu lagi di benahi, sehingga tidak hanya mencoba 'melupakan' kebutuhan pokok pemustaka, dengan menggiring mereka kepada 'kenyamanan semu' yang sebenarnya bukan itu tujuan utama pemustaka datang ke perpustakaan. Kalau aku ambil contoh seoang arsitek yang akan mendesain pepustakaan, sebensrnya arsitek itu tidak mendesain gedung, namun mendesain perilaku pemakai gedung pepustakaan. Hal itu menandakan ada kejujuran dalam mendesain sistem di perpustakaan.
Memaksakan sesuatu harus ada di perpustakaan untuk diberikan kepada pemustaka, padahal jelas-jelas pemustaka tidak membutuhkannya, malah akan membuat pemustaka tidak menjadi betah dan suka dengan perpustakaan. Perpustakaan sudah tidak jujur lagi kepada pemustaka.
Good design is long lasting
Adalah bagaimana membuat desain yang punya relevansi yang tinggi pada kegunaan sehingga tetap relevan digunakan walau pengguna telah mengalami perubahan selera terhadap teknologi, usia, fashion. Kalau melihat generasi kemajuan teknologi sekarang ini, yang kebanyakan menggunakan system barcode dalam proses peminjaman dan transaksi informasi di perpustakaan, maka sistem barcode ini harus bisa mengikuti zaman dimana teknologi terus bergerak.


Good design is thorough, down to last detail
Inti dari prinsip desain ini adalah konsisten. Semua yang terkait dengan layanan perpustakaan haruslah konsisten. Ketika aku datang ke perpustakaan sekarang, maka aku akan mendapati system yang sama dan konsisten ketika aku sebulan lagi aku datang. Tidak menggunakan prinsip ‘esok dhele sore tempe” atau pagi kedelai, sorenya tempe. Plin plan. Konsistensi pola dalam sebuah desain, sangat di perlukan oleh pemustaka, sehingga pemustaka tidak merasa bingung. Konsistensi ini adalah hal yang sangat penting bagi pemustaka untuk memahami environment desain yang kita berikan.
Konsistensi pola ini bisa dilihat dari letak atau posisi dimana Countre layanan peminjaman dan counter OPAC berada. Tidak sehari dipindah di depan, hari besuk sudah dipindah di samping kiri, dan keesokannya lagi, sudah di pindah di sebelah kanan.
Good design is environmentally-friendly
Aku memahami desain ini adalah desain yang ‘ramah kepada pemutaka”. Kalau dalam bahasa ilmu perpustakaan itu ada aspek egonomis di sana. Semua yang ada di perpusutakaan, termasuk peralatannya, ‘ramah’ dengan tubuh kita, dengan otot tangan kita dan dengan posisi badan kita. Contoh yang paling sepele yang bisa kita lihat adalah ketika kita mengoperasionalkan OPAC/Online Public Access Catalog di perpustakaan, maka apakah desain tersebut membuat kita memaksa kita memindahkan mouse sehingga otot tangan kita bekerja lebih sering, ataukah kepala kita menjadi pening mencari dan memperhatikan label punggung buk yang ada di pepustakaan karena posisi letak buku sangat rendah dari posisi badan kita.
Good design is little as possible
Artinya sangat jelas bukan bermaksud simplicity atau memilih desain sesederhana mungkin, bukan itu. Namun bagaimana mengadakan desain yang terlihat sederhana mungkin karena hal-hal yang kompleks dikerjakan dibelakang, tidak tampak oleh pemustaka. Contoh yang selalu bisa kita lihat di perpustakaan adalah ketika kita mengakses informasi di OPAC/, Online Public Access Catalog, maka kita, pemustaka tidak perlu disibukkan dengan mengklik sana mengklik sini dan sulit menemukan informasi yang sedang dia cari karena masih harus menggabungkan kata satu dengan kata yang lain.  Biarkanlah pemustaka merasa nyaman ketika mengakses informasi langsung bisa menemukan, tanpa harus melalui tahapan-tahapasn yang rumit. Kita harus ingat makna otomasi itu adalash otomatis, semua dikerjakan dibalik mesin komputasi, dan bukan pemustaka yang mengerjakannya. Jangan membiarkan pemustaka terlalu lama berselancar tanpa mendapatkan hasil yang benar-benar dia butuhkan. Membuat bagaimana agar pemustaka sedikit mungkin bertanya, sedikit mungkin searching, namun langsung mudah menemukan informasi yang dibutuhkannya.

Pustakawan
Aku pernah menuliskan di jejaring social facebook, yang menggambarkan bagaimana sebenarnya pustakawan itu. Aku menggambarkannya sebagai berikut :
“…Aku adalah seorang ibu, karena aku merawat anak, bukan karena aku seorang perempuan yang ada di rumah. Aku adalah seorang guru, karena aku mengajar murid, bukan karena aku berada di sekolah…”
Selanjutnya, aku juga menulis bahwa :
“…Aku adalah pustakawan, karena aku melayani pemustaka, bukan karena aku berada di perpustakaan. Seseorang disebut pustakawan, bukan cuma karena ada di perpustakaan, bisa ini dan itu; satpam pun bisa. Namun seseorang disebut pustakawan ketika ia berguna bagi pemustakanya. Berpotensi bagi pemustakanya…”

Menurutku, object Pustakawan adalah Pemustaka, sedang Perpustakaan adalah karya Pustakawan untuk Pemustaka. Kalau seseorang tidak ada sangkut pautnya dengan potensi Pemustaka, maka mohon tidak menyebut dirinya sebagai Pustakawan.

Customer Focus Group
Menurutku, untuk mengatasi ‘hubungan atnara pemustaka dan pustakawan, dan mengimplementasikan sebuah desain produk layanan yang bagus bagi pemustakanya, maka sebaiknya memang pepustakaan berinisiatif mengadakan “customer focus group”. Di dalam forum itu, akan dapat  didengarkan apa saja yang dirasakan oleh pemustaka. Melakukan “customer focus group” kepada pemustaka itu sangat diperlukan. menerima masukan dan mengambil tindakan solusi. tidak hanya sekedar mengadakan 'layanan-layanan' tanpa menggunakan dasar pertimbangan dari pemustaka. Seperti moto yangt selalu aku tuliskan dalam facebook ku di about me bahwa "we listen, we want you to know that we are listening..."
Aku menyadari bahwa 90 % isi dari perpustakaan itu adalah pemustaka. Maka kenapa kita tidak libatkan pemustaka supaya bisa lebih memiliki rasa ‘handarbeni’ perpustakaan.

Disitulah aku  benar-benar menemukan experience pemahaman baru tentang perpustakaan. Dan itulah kenapa, aku bangga dengan perpustakaan. I love you full, library.

No comments:

Post a Comment