Friday, 7 October 2016

Mendefinisikan Ulang Peran Perpustakaan Dan Konsep Life-Long Learning Dalam Teori Persekolahan Menuju Perubahan Pengembangan Kualitas Kehidupan Manusia

A.    Pendahuluan
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, serta ayat 3 menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang, sehingga seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.
Terkait dengan konsep “agar dapat hidup lebih baik dengan membekali diri”, salah satu kebutuhan pokok manusia dalam usaha mengembangkan dirinya serta mempertahankan eksistensinya adalah melalui belajar yang dilakukan sepanjang hayat. Tanpa belajar, manusia akan mengalami kesulitan denan lingkungan maupun dalam memenuhi tuntutan hidupnya dan kehidupan yang selalu berubah.  Pada tahun 1985, UNESCO  menerbitkan buku berjudul an introduction to life long education yang dikarang oleh Paul Lengrand Berdasarkan, dimana di dalam buku tersebut dikatakan bahwa pada tahun 1971 UNESCO membentuk komisi Internasional tentang pengembangan Pendidikan di Ketuai oleh Edgar Paure (bekas Menteri pendidikan dan Perdana Menteri Perancis). Konsep pokok yang direkomendasikan oleh Komisi Faure dalam laporannya berjudul : learning to be yaitu kebijaksanaan pendidikan di masa-masa mendatang hendaknya didasarkan kepada asas pendidikan seumur hidup.
Agama Islam juga menjadikan agama yang pertama merekomendasikan keharusan belajar sepanjang umur. Nabi Muhammad SAW memberikan sabdanya melalui hadisnya yang berbunyi: Thalabul ilmi fariidhatun’alal muslimiina. Uthlubul ilma minal mahdi ilallahdi. Afdhalul amali atta’allumi, yang artinya “menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Tuntutlah ilmu sejak buaian sampai ke liang lahat. Tiada amalan umat yang lebih utama daripada belajar”. (HR. Bukhari dalam Shahih Bukhari).
Didalam ajaran Islam sesungguhnya mencari ilmu pengetahuan adalah kewajiban. Sesuai dengan hadist Rasulullah Saw, “ Sesungguhnya menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki atau perempuan “ (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis ini sangat tegas di sebutkan atas kewajiban seorang muslim oleh sebab itu apabila kewajiban ini tidak dilakukan oleh seorang muslim maka hukumnya adalah dosa. Dalam hadis yang lain Rasulullah saw, mengatakan “Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga”. (HR. Muslim).
Islam memandang pendidikan sebagai proses yang terkait dengan upaya mempersiapkan manusia untuk mampu memikul taklif (tugas hidup) sebagai khalifah di muka bumi. Untuk maksud tersebut, manusia diciptakan lengkap dengan potensinya berupa akal dan kemampuan belajar. Jalan untuk dapat beribadah, menjadi berbudaya, dan memakmurkan bumi guna melaksanakan tugas hidup dari Allah yaitu menuntut ilmu dan pengetahuan yang dijiwai dengan iman. Dalam sejarah umat Islam, pendidikan berjalan sebagai sarana untuk menyampaikan petunjuk dan kebaikan kepada individu, masyarakat dan seluruh umat manusia. Dalam proses tersebut, Rasulullah adalah guru pertama:
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al-Jumuah, 62:2).

Sungguh luar biasa ajaran Islam mendidik umatnya untuk terus menuntut ilmu pengetahuan tanpa mengenal usia, selama kita masih bisa menikmati hidup, selama kita masih bisa menghirup udara, selama kita masih bisa bergerak itu artinya kita wajib menuntut ilmu pengetahuan. Dengan memperhatikan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa aktivitas belajar sepanjang hayat memang telah menjadi bagian dan kehidupan kaum muslimin.
Dari pendahuluan yang tertulis tersebut, maka tujuan penulisan ini untuk mengetahui bagaimana konsep life-long learning dalam mempebaiki persekolahan yang ada saat ini, melalui peran perpustakaan menuju perubahan pengembangan kualitas kehidupan manusia.

B.     Teori persekolahan
Senge (2000, p.19) mengatakan supaya persekolahan tidak terfragmentasi, maka solusinya adalah mengeluarkan pikiran-pikiran kita terhadap ketiga kelemahan tersebut diatas. Disamping itu dalam perbaikan sekolah, juga perlu adanya community building activities dengan cara membangun sense of community dan membangun shared of value culture. Dalam hal ini adalah perlunya membangun kepercayaan kembali kepada sekolah, perlu peran untuk menggerakkan partisipasi masyarakat serta kelerlibatan orang tua secara riil di sekolah.
Di lain pihak, Goodlad (1993, pp. 242-244) juga mengatakan bahwa dalam reinventing aducation dan dalam educational renewal : better teachers, better schools, maka beliau membuat model perbaikan sekolah, bahwa guru yang baik itu berasal dari sekolah yang baik, sekolah yang baik berasal dari guru yang baik pula. Guru yang bagus itu bukan berasal dari bagusnya kualitas, melainkan dari ’school craft’ atau kemampuan mengelola/mengorganisir di sekolah sebagai sesuatu kebersamaan bukan secara individual, sehingga sekolah diharapkan menjadi ”teaching hospital”. Sekolah yang baik akan menghasilkan guru yang baik dan masyarakat yang baik. Jika ingin memperbaiki sekolah, maka perlu pikiran-pikiran yang berbeda dengan pikiran yang selama ini mengatur. Harus menghilangkan mitos bahwa terdapat anak bodoh dan pintar, dengan slogan yang harus dijunjung bahwa sekolah bagus untuk semuanya. Sekolah harus berfungsi secara penuh dengan membangun community. Idealnya sekolah harus dapat berperan melakukan proses engineering dan imaginating.
Salter & Salter, (1991, p.61) mengatakan bahwa sebagai lembaga yang ikut andil dalam bidang pendidikan, perpustakaan sekolah atau dalam hal ini perpustakaan madrasah harus berperan aktif dalam mendukung tujuan kurikulum dan tujuan instruksional, membantu guru dalam mengajar peserta didiknya, mengadakan workshop dan berdiskusi dengan orang tua untuk memberikan dorongan kepada pembelajaran peserta didik.

C.    Life-long learning
Life-long learning diartikan sebagai belajar sepanjang hayat, yaitu kegiatan yang dikelola walaupun tanpa organisasi persekolahan dan kegiatan ini justru mengarah kepada penyelenggaraan asas pendidikan seumur hidup. Hal  itu seperti yang dikatakan juga oleh Andretta (2005:20) bahwa dalam WILL atau the World Initiative on Life-Long Learning bahwa sebuah proses yang suportif dan berkesinambungan dimana peserta didik mempunyai rangsangan dan pemberdayaan individu untuk mendapatkan pengetahuan, nilai-nilai, kemampuan dan pemahaman yang dapat meningkatkan pemahaman seumur hidup serta mampu mengaplikasikannya dengan cara percaya diri, kreatif dan menyenangkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Asas belajar sepanjang hayat merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup. Pendidikan seumur hidup mengarap kepada pembentukan, pembaruan, peningkatan, serta penyempurnaan secara sistematis, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya sehingga tujuan akhir mengembangkan penyadaran diri dan kemampuan untuk belajar sendiri dapat tercapai (Zen, 2006:120).
Belajar sepanjang hayat itu sudah berkembang pemikirannya sejak sekitar tahun 1970an awal. Beberapa tulisan Paul Lengrand dalam An Introduction to Lifelong Education (1970) mengatakan bahwa belajar sepanjang hayat lebih kearah belajar informal (informal learning). Belajar yang tidak di batasi hanya belajar formal di dalah kelas atau sekolah. DfEE (1996:4) dalam Elliot (1999:31) menyebutkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat itu bukan hanya menjadi tanggungjawab dari sebuah institusi namun juga masyarakat yang ada di sekitar institusi tersebut. Prinsip Learning to know yaitu belajar untuk menguasai bahan-bahan pengetahuan, prinsip Learning to do (belajar berbuat) yaitu  sebuah konsepsi bagaimana kita bisa berbuat dan melakukan atau mempraktekan dari apa yang sudah kita pelajari, prinsip Learning to live together (belajar hidup bersama, belajar hidup berasama orang lain yaitu  konsepsi bagaimana kita bisa hidup bersama dengan orang laing yang memiliki latar, budaya, sosial, ekonomi dan agama dan keaneka ragaman yang berbeda-beda, dan prinsip Learning to be (belajar  menjadi seseorang artinya adalah bahwa pendidikan harus bisa menyumbangkan perkembangan yang seutuhnya kepada setiap orang baik dalam jiwa raga, kecerdasan, kepekaan, rasa, rasa bertanggung jawab terhadap pribadi dan nilai-nilai keadaan jiwa, menjadi landasan dalam belajar sepanjang hayat.

Unesco memperkuat konsep belajar sepanjang hayat denan memasukkan dimensi (dua dimensi) belajar yaitu vertikal dan horizontal. Belajar dalam dimensi vertikal adalah kegiatan belajar berjalan sepanjang rentang hidup manusia dari lahir sampai meninggal dengan tujuan dan bentuk yang berbeda-beda. Dalam dimensi horizontal, kegiatan belajar berjalan dalam konteks kehidupan yang mermacam-macam, dirumah, disekolah, di tempat kerjam di tempat rekreasi dan sebagainya. Bahkan Medel-Anonuevo (2002:83) mengatakan bahwa: lifelong learning stars in the home, so education for parents should also include a global dimension.
Asas belajar sepanjang hayat (lifelong learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (lifelong education). Oleh karena itu UNESCO Institute for Education (UIE Hamburg) menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus:
a.       Meliputi seluruh hidup setiap individu
b.      Mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya
c.        Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri.
d.      Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi baik formal, nonformal, dan informal.
Menurut Durori (2002:6) dikatakan bahwa konsep belajar sepanjang hayat mengandung arti "bahwa belajar itu tidak pernah terlalu dini atau terlalu terlambat untuk belajar". Belajar sepanjang hayat adalah sebuah sikap dimana manusia dapat dan seharusnya terbuka dengan gagasan-gagasan baru, keputusan-keputusan, keterampilan-keterampilan atau perilaku-perilaku. Belajar sepanjang hayat menyediakan para warganegara peluang-peluang untuk belajar untuk semua usia dan dalam semua konteks kehidupan yaitu di tempat kerja, di rumah dan melalui aktivitas yang menyenangkan, tidak hanya melalui saluran-saluran formal seperti madrasah dan pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan tujuan belajar seumur hidup itu diawali dengan sikap senang anak didik dalam membangun makna pemahaman informasi dan pengalaman  si pembelajar tersebut. (Durori, 2002:7). Dengan kata lain, kemandirian mendapatkan sumber informasi, mampu belajar sendiri, mampu mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan hidupnya, itulah salah satu cirri dari belajar sepanjang hayat. Disinilah perpustakaan memberikan bekal supaya tidak ada lagi ada istilah stop belajar bagi setiap manusia.
Peran lembaga institusi sendiri, menjadi agen sosialisasi penting yang dapat memodifikasi fungsi-fungsinya. Andretta (2005:154) mengatakan bahwa organisasi institusi beserta seluruh perangkatnya, dapat membentuk inisiatif, tanggungjawab dan pemecahan problem secara independen jika dibuat dalam bentuk yang tepat. Dimulai dari staf pengajarnya tentu saja. Medel-Anonuevo (tt:83) mengatakan bahwa: good teachers are always learning from and with their students, not simply transmitting their knowledge and skills to others.
Konsep belajar itu sendiri seperti yang dinyatakan oleh Bower (1975:1) bahwa “learning” itu adalah “to learn, to gain knowledge, comprehension, or mastery through experience or study”, atau dikatakan bahwa “to acquire through experience”. Belajar itu pada dasarnya adalah mencapai pengetahuan dan pemahaman melalui pengalaman ataupun belajar. Sementara menurut Knowles (1984:5) belajar adalah mengalami perubahan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Menurut Botkin (1979:8) mengatakan bahwa belajar, lebih menekankan kepada sebuah inisiatif terhadap metodologi yang baru, keahlian yang baru, sikap yang baru, nilai yang baru yang diperlukan untuk hidup pada kondisi kehidupan seperti sekarang ini. Belajar adalah proses penyiapan diri untuk melaksanakan kondisi yang baru. Sehingga, belajar sepanjang hayat itu lebih menekankan kepada perubahan pengembangan kualitas kehidupan (Kuntoro, 2001:11). Konsep belajar sepanjang hayat dari UNESCO adalah ada dua aspek/dimensi yaitu: Dimensi vertikal, bahwa belajar terjadi sepanjang waktu hidup yaitu dari lahir sampai meninggal dan Dimensi horizontal, bahwa belajar terjadi dalam bermacam-macam aktivitas kehidupan (di sekolah, di tempat kerja, rekreasi, keagamaan, keluarga dsb).


D.    Peran Perpustakaan
Fungsi dan tugas perpustakaan antara lain adalah sebagai pusat belajar mengajar, membantu peserta didik memperjelas dan memperluas pengetahuannya, mengembangkan minat, bakat, kegemarannya, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju kebiasaan mandiri, membiasakan peserta didik mencari infomasi di perpustakaan, tempat rekreasi dan tempat yang dapat memperluas kesempatan belajar peserta didik serta berperan memberi keterampilan menemukan, menjaring, menilai informasi dan menarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan (Rahmananta, 1995, p.7).

Banyak para penyelenggara pendidikan menganggap bahwa perpustakaan sebagai jantung atau ruh pendidikan (Umam, 2002:69). Karena dianggap bahwa perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat informasi, pusat sumber belajar, pusat penyebaran informasi yang masing-masing masih dipahami secara parsial belum dipahami sebagai bagian penting yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan.
Banyak para penyelenggara pendidikan berpendapat bahwa perpustakaan di lingkungan sekolah atau madrasah merupakan suatu unit yang merupakan bagian integral dari lembaga induknya. Pemahaman tersebut mempunyai arti bahwa perpustakaan mestinya mampu memberikan dukungan, memperlancar dan meningkatkan kualitas lulusan sebuah sekolah melalui penyediaan informasi yang baik.
Peranan perpustakaan sebagai sumber belajar diharapkan mampu memberikan dukungan informasi dan pengayaan program belajar peserta didik melalui koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Untuk itu diperlukan perpustakaan yang baik dan standar serta mampu mendukung kegiatan proses belajar mengajar di sekolah/madrasah. Menurut Qalyubi (2001:10), untuk menyelenggarakan perpustakaan yang baik dan standar paling sedikit akan terkait dengan 3 hal utama yaitu: koleksi; gedung (keluasan ruang perpustakaan dan tata ruang dan kenyamanan); dan pustakawan (Pengelola perpustakaan yang mempunyai kewenangan pendidikan pustakawan).
            Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, sebenarnya kedudukan perpustakaan dalam menunjang proses belajar mengajar sama dengan laboratotorium, keduanya sebagai penunjang pendidikan yang sama pentingnya dan tidak dapat diabaikan keberadaannya, sehingga perpustakaan di sekolah mempunyai tugas dan fungsi yang tidak dapat diabaikan atau ditinggalkan oleh lembaga pendidikan. Dengan memberikan bekal kemampuan literasi informasi maka peserta didik akan memiliki karakter sebagai orang yang dapat belajar secara mandiri dan dengan kesadaran belajar sendiri, seperti yang digambarkan sebagai berikut: (1) bahwa kemampuan dalam literasi informasi berawal dari proses seseorang sadar akan informasi, (2) kemampuan menghubungkan informasi dengan kemandiriannya dalam belajar, (3) proses implementasi informasi dan (4) kemampuan melakukan pendekatan kepada informasi secara kritis. Ke empat kemampuan itu harus diwujudkan dengan cara mempunyai kemampuan dalam mengembangkan tipe informasi, mempunyai pandangan bagaimana memasarkan penggunaan  informasi, menggunakan sistem teknologi informasi dan kemampuan pengetahuan dalam dunia informasi (Breivik, 1998, p.15). Intinya adalah bahwa literasi informasi merupakan kemampuan untuk menemukan dan menggunakan informasi yang mana merupakan “kunci” bagi tercapainya pembelajaran sepanjang hayat. “Menemukan” disini dimaknai dengan peserta didik mendapatkan kebutuhan informasi yang sesuai dengan yang dikehendaki. “Menggunakan informasi” adalah peran peserta didik dalam menyelesaikan kebutuhan informasinya, benar-benar dipastikan dapat menggunakan informasi yang tepat dengan kebutuhannya. Peserta didik yang sudah mempunyai kemampuan literasi  informasi adalah peserta didik yang sadar terhadap kebutuhan informasinya dan sadar bahwa peserta didik tersebut dapat belajar tentang bagaimana belajar itu sendiri. Sedangkan Godwin (2008, p.1) mendefinisikan literasi informasi sebagai suatu kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara mandiri seumur hidup dalam kerangka belajar sepanjang hayat.
Di sisi lain, banyak perpustakaan sudah menyediakan koleksinya, namun belum terlihat program-program yang diselenggarakan menyentuh kepada pemustakanya. Layanan yang tidak di buka setiap saat, kekurangan tenaga perpustakaan dan dana yang sangat minim membuat tersendatnya program-program perpustakaan. Problem lain yaitu kemampuan kreativitas pustakawan dalam mengadakan program-program yang inovatif masih terlihat kurang, sehingga hanya terkesan perpustakaan itu untuk sekedar aksesoris belaka.
Dengan kondisi perpustakaan di Indonesia yang memang kebanyakan masih dibawah standar, diikuti dengan pemustakanya yang rata-rata belum bisa memanfaatkan perpustakaan tersebut dengan maksimal, hal ini menjadikan tantangan dalam memajukan perpustakaan. Beberapa institusi bahkan lebih mementingkan ruang kelas dari pada memilih menyediakan ruangan perpustakaan. Kolaborasi guru, pustakawan dan peserta didiknyapun belum terbangun dengan baik dan bersinergis sehingga yang terlihat adalah masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa secara umum, keadaan perpustakaan belum menggembirakan.
UNESCO Information for All Programme dalam Latuputty, (2009, p.3) mencantumkan definisi literasi informasi sebagai berikut: literasi informasi melengkapi setiap orang dalam setiap jalan hidupnya untuk mencari, mengevaluasi menggunakan dan menciptakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan-tujuan kehidupan pribadi, sosial, pekerjaan dan pendidikan.
Literasi penting karena dapat dijadikan kendaraan untuk membantu memecahkan masalah dalam setiap aspek kehidupan manusia. US National Commision on Library and Information Science (2003) juga menyatakan bahwa literasi informasi mengarahkan pengetahuan akan kesadaran dan kebutuhan informasi seseorang, dan kemampuan untuk mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, mengorganisasi dan secara efektif menciptakan, menggunakan, mengomunikasikan informasi untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi; juga merupakan persyaratan untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan merupakan hak asasi manusia untuk belajar sepanjang hayat. Riedling (2002:2-4) mengatakan bahwa menjadi manusia yang literate itu adalah:
a.      Know how to clearly a subject or area of investigation
b.      Select the appropriate terminology to express the concept or subject under investigation
c.       Formulate a search strategy that takes into consideration different sources of information and the various ways of organizing information
d.      Analyze your data for value, relevancy, quality and suitability and can subsequently turn information into knowledge.

Literasi informasi secara gamblang dinyatakan sebagai hak asasi manusia untuk pembelajar sepanjang hayat bagi pembelajarnya.  Hal ini menjadi kebebasan setiap individu untuk berkembang menjadi pandai dalam memecahkan masalahnya tidak saja saat berada dalam bangku pendidikan formal, tapi dalam sepanjang hayatnya.
Pembekalan keterampilan literasi informasi dalam konteks pembelajaran nasional merupakan sebuah upaya cerdas untuk menunjang Sistem Pendidikan Nasional RI dalam mewujudkan pembelajar yang mandiri sepanjang hayat. Dengan demikian, setelah  melampaui pendidikan formalnya yang telah dilengkapi dengan keterampilan literasi informasi, maka mereka akan membawa keterampilan literasi informasi ini  masuk dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi pula. Lebih dari itu, dalam menghadapi masalah di segala aspek kehidupan mereka, keterampilan ini akan sangat menolong mereka membuat keputusan yang tepat. Akhirnya, pembelajaran seumur hidup diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup mereka seterusnya, (APISI, 2008, p.17).

E.     Simpulan

Sekolah menjadi sumber perbaikan kualitas kehidupan dapat terjalin ketika perpustakaannya memberikan keterampilan literasi informasi kepada seluruh civitas akademikanya. Indikator-indikator yang dapat menujukkan bahwa peran perpustakaan menjadi maksimal dapat dilihat ketika pengajar menjadi semakin rajin ke perpustakaan karena berdiskusi dengan pustakawan ketika harus memulai pembelajaran; pengajar menjadi semakin banyak yang meminja jadwal mengajar di perpustakaan; sementara itu pemustaka juga semakin meningkat datang ke perpustakaan. Pemustaka semakin ingin ke perpustakaan karena koleksinya juga bertambah dan materi yang diajarkan menarik untuk mengajak ke perpustakaan; Banyak staf pengajar melakukan penugasan di perpustakaan, dengan memberikan guideline yang diikuti oleh pendampingan perpustakaan; menjadikan pemustaka tersebut: menyenangi belajar; pemustaka mengetahui bagaimana sejatinya cara belajar itu; menghargai bahwa belajar itu merupakan sebuah proses yang harus dijalani untuk mendapatkan sesuatu informasi yang dibutuhkan; rasa ingin tahu terhadap sesuatu menjadikan sikap “self directing” dalam belajar. Aktivitas-aktivitas tersebut akan memicu perpustakaan untuk bisa melakukan perbaikan-pebaikan.
Dengan posisinya yang strategis maka perpustakaan menjadi sebagai sumber kekuatan, yang berasal dari sumber informasi yang dimiliki oleh perpustakaan yang tersimpan dalam bentuk buku, artikel dan sebagainya. Informasi tersebut merupakan gudang pengetahuan dan rekaman prestasi dan penemuan para ahli terdahulu yang disimpan di perpustakaan. Perpustakaan sebagai pusat sumber informasi, sumber pengetahuan, dapat menjadi pendorong bagi terbentuknya masyarakat belajar (learning society) di masyarakat, dimana setiap warga masyarakat menyenangi dan terlibat kegiatan belaajar sepanjang hayat (life long learning society).


.
Daftar Pustaka
APISI, (2008). Aplikasi literasi informasi dalam kurikulum nasional (ktsp): contoh penerapan untuk tingkat SD, SMP dan SMA, Hasil Diskusi Indonesian Workshop on Information Literacy. CICIO-Bogor, (7-11 Juli 2008). Jakarta: APISI.
Andretta, Susie, (2005). Information literacy: A practitioner’s guide. Oxford: Chandos Publishing.
Brannen, (1993). Mixing methods: Qualitative and quantitative research. England: Avebury Ashgate Publishing Company.
Breivik, P.S., (1998). Student learning in the information age. Phoenix Arizona: The Oryx Press American Council on Education.
Borg, Walter R & Meredith D. Gall,7th. (2003). Educational research: An introduction.  New York & London: Longman.
Botkin, J.W., Mahdi Elmandjra & Mircea Malitza. (1979). No limit to learning: Bridging the human gap, a report to the club of Rome. Oxford: Pergamon Press.
Bower, Gordon H. & Hilgard, Ernest R.. (1975). Theory of learning. New York: Prentice Hall
Chair, J.L.,  (2006). Guidelines on information literacy for lifelong learning. final draft By Jesús Lau Chair, Information Literacy Section / IFLA jlau@uv.mx/www.Ifla.Org/Vii/S42/Pub/IlGuidelines2006.Pdf/www.jesuslau.comuniversidad Veracruzana / DGB / USBI VER www.uv.mx/usbi_verboca del Río, Veracruz, México Reviwed July 39, 2006.
Durori, Muh. (2002). Model pembelajaran mandiri: Dalam pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Banyumas: Mitra Mas.

Elliot, Geoffrey. (1999). Lifelong learning: the politics of the new learning environment. USA: Jessica Kingsley.
Goodlad, J. I., (1993). Educational renewal: Better teachers, better schools. San Francisco: Jossey-Bass.
Godwin, Peter & Jo Parker, (2008). Information literacy meets library 2.0. London: Facet Publishing.
Knowles, Malcolm, (1984). The Adult learner: A neglected species. Houston Texas: Gulf Publishing Company.
Kuntoro, S.A.,  (2001). Pendidikan dalam perspektif tantangan bangsa : Kajian pendidikan sepanjang hidup. Makalah dalam pidato Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta tanggal 21 Mei 2001 di Auditorium UNY. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Latuputty, Hanna,  (2009). Pentingnya literasi informasi dalam peningkatan mutu pendidikan. Makalah di sampaikan pada Seminar Literasi Informasi : Kolaborasi guru dan pustakawan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah/madrasah, Sabtu 2 Mei 2009 di Aula Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Medel-Anonuevo, Carolyn. (2002). Integrating lifelong learning perspectives. JERMAN: UNESCO Institute for Education.
Qalyubi, Syihabuddin, et al. (2001). Pengantar ilmu perpustakaan dan informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
Rahmananta, D.P., (1995).  Pedoman penyelenggaraan perpustakaan sekolah: petunjuk untuk membina, memakai dan memelihara perpustakaan di madrasah. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Reidling, Ann Marlow. (2002). Learning to learn: A Guide to becoming information literate. New York: Neal-Schuman.
Senge, Peter, (2000). School that learn: A fifth discipline fieldbook for educator, parent and everyone who care about education. London: Nicholas Brealey.
Salter, Jeffrey L & Salter. Charles A. (1991). Literacy and library.  Colorado: Library Unlimited.
Umam, Saiful & Arief Subhan (ed.). (2002). Bekerja bersama madrasah membangun model pendidikan di Indonesia. Jakarta: Basic Education Project (BEP) bekerjasama dengan Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP).


No comments:

Post a Comment