Friday, 7 October 2016

Peningkatan Layanan Informasi Sumber-sumber Rujukan di Perpustakaan melalui Kompetensi Pustakawan Asertif


A.    Pendahuluan
Seperti diketahui bersama bahawa perpustakaan berperan menyediakan dan menyebarkan informasi kepada pemustakanya. Perpustakaan membantu memberikan solusi-solusi permasalahan yang di hadapi pemustaka terkaait dengan kebutuhan informasi dalan kehidupannya. Oleh sebab itu, perpustakaan selalu berupaya menyediakan seluruh sumber-sumbe informasinya kepada pemustaka, termasuk sumber-sumber rujukan ayang ada di perpustakaan.
Sumber-sumber rujukan akan dapat di maksimalkan penggunaannya, apabila sudah barang tentu, dilayankan dengan maksimal juga oleh pustakawannya. Eksplorasi terhadap seluruh sumber-sumber rujukan, dapat di lakukan apabila terdapat kerjasama yang baik antara pustakawan dengan pemustakanya.
Pustakawanlah yang seharusnya mengetahui layanan apa yang perlu mereka berikan kepada pemustaka supaya pemustaka puas dan pada akhirnya menjadikan pustakawan sebagai partner belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui interaksi rutin dengan pemustaka dan melakukan analisis kebutuhan pemustaka untuk mencapai kepuasan.
Supaya terjadi interaksi yang harmonis, dan supaya pemanfaat sumber-sumber rujukan bisa di maksimalkan seperti juga harapan oleh Ranganathan, maka perlu sikap asertif bagi pustakawannya dalam berinteraksi di perpustakaan. Mengasah kemampuan social dan mempertajam kemampuan asertif akan membuat  pustakawan menjadi agen perubahan.
B.     Jasa Layanan Sumber-sumber Rujukan
Peran jasa rujukan di perpustakaan satu dengan yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dengan besar kecilnya perpustakan, jenis koleksinya dan fungsi serta tradisi perpustakaan. Sulistyo-Basuki[1] mengatakan bahwa jasa rujukan di perpustakaan satu dengan yang lain berbeda-beda tergantung dengan beberapa faktor antara lain : situasi lokal, tradisi lokal, jenis pemakai, besar klecilnya perpustakaan, sumber pustaka yang tersedia, serta pandangan hidup pustakawan yang menyangkut  organisasi dan administrasi perpustakaan. Sedangkan menurut Prytherch [2]mengatakan bahwa “refrence work” is that branch of the library’s services which includes the assistance given to readers in their search for information on various subjects. Yang artinya adalah bahwa jasa referensi adalah sebuah jasa yang merupakan bagian dari sebuah perpustakaan  yang memberikan bantuan kepada pengguna perpustakakan (bantuan jenis apapun) dalam rangka membatu mencarikan informasi bagi penggunanya.

Dan berbagai jenis jasa rujukan yang lazim dilaksanakan di sebuah perpustakaan, antara lain adalah :
1.      Pinjam antar perpustakaan
2.      Tandon (reservation)
3.      Orientasi perpustakaan dan instruksi bibliografi
4.      Kunjungan perpustakaan bagi anggota baru
5.      Menyelenggarakan pameranJasa bimbingan pembaca
6.      Jasa penmgindeksan dan abtrak
7.      Kompilasi bibliografi
8.      Pembuatan kliping
9.      Pembuatan jajaran vertikal (vertical file)[3]

Sementara menurut American Library Association – Reference Service Division menyatakan ada 2 jenis jasa rujukan yaitu jasa langsung dan jasa Tidak Langsung. Jasa rujukan langsung adalah merupakan kegiatan pemberian bantuan personil langsung diberikan kepada pemakai perpustakaan, artinya pustakawan langsung membantu mencarikan informasi. Sedangkan jasa rujukan tidak langsung dapat berupa penyusunan katalog, bibliografi, bantuan rujukan lainnya, pemilihan dokumen, penyusunan bagian referensi, pembuatan jajaran informasi relevan serta yang lainnya. Seperti dijelaskan oleh Samuel  Rothstein dalam Bopp E, Richard[4] bahwa :
…I represent reference work to be the personal assistance given by the librarian to individual readers in pursuit of information; reference service I hold to imply further the definite recognition on the part of the library of its responsibility for such work and a specific organization for that purpose. In short, we are willing to give help and what is more, consider such help an important enough part of our obligations to justify training and assigning staff especially for this work…
            Di dalam konteks kalimat tersebut jelas di sebutkan bahwa pekerjaan jasa rujukan di perpustakaan terfokus pada penyediaan pendampingan kepada pemustaka secara personal dan pemustaka secara kelompok.

Fungsi-Fungsi Referensi

Agar pelayanan referensi dapat berjalan dengan baik, petugas perlu memahami terlebih dahulu fungsi-fungsi referensi, yakni sebagai berikut.
1.      Fungsi Pengawasan
Petugas referensi dapat mengamati pengunjung, baik dalam hal kebutuhan informasi yang diperlukan maupun latar belakang sosial dan tingkat pendidikannya agar dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.
2.      Fungsi Informasi
Fungsi yang terpenting dari pelayanan referensi adalah memberikan informasi kepada pengunjung, yaitu memberikan jawaban terhadap pertanyaan singkat maupun penelusuran informasi yang luas dan mendetail sesuai kebutuhan pemakai.
3.      Fungsi Bimbingan
Petugas referensi harus menyediakan waktu guna memberikan bimbingan kepada pengguna perpustakaan untuk menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan, misalnya melalui katalog perpustakaan, buku-buku referensi, serta bahan pustaka lainnya.
4.      Fungsi Instruksi
Pemberian instruksi yang dimasudkan adalah sebagai cara untuk memperkenalkan kepada pemakai tentang bagaimana menggunakan perpustakaan yang baik. Di samping itu, ditujukan juga kepada usaha untuk menggairahkan dan meningkatkan penggunaan perpustakaan.
5.      Fungsi Bibliografis
Petugas referensi perlu secara teratur menyusun daftar bacaan atau bibliografi untuk keperluan penelitian atau mengenal bacaan yang baik dan menarik. Penyusunan bibliografi lazimnya dipergunakan untuk beberapa tujuan, antara lain:
a.       menyusun bibliografi  tentang subjek tertentu,
b.      menyusun bibliografi untuk mengenal daftar bacaan yang baik dan menarik, karya tulis, atas permintaan guru, siswa atau orang lain yang memerlukannya.[5]

Terkait dengan penelusuran rujukan di perpustakan, prinsip yang harus dipegang pustakwan adalah semua untuk kepentingan pemustaka. Seperti yang dikemukakan oleh Lancaster (1979) disebutkan bahwa temu balik informasi ialah proses penelusuran suatu koleksi dokumen (dalam arti yang seluas-luasnya) untuk mengidentifikasi dokumen-dokumen tentang subjek tertentu. Dan sistem temu kembali informasi adalah setiap sistem yang dirancang untuk memudahkan kegiatan penelusuran bagi pemustaka.


C.    Kompetensi Pustakawan
Mengawali dari diskusi dalam kompetensi pustakawan, akan diuraikan terlebih dahulu mengenai pengertin pustakawan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Pustakawan diartikan sebagai orang yang bergerak di bidang perpustakaan; ahli perpustakaan (tanpa membedakan PNS ataupun Non PNS). [6]
Jabatan Fungsional Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya. Kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian.[7]. Sementara itu, di dalam Kode Etik Pustakawan, dikatakan bahwa pustakawan itu adalah adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan[8] dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan.[9] Dalam undang-undang disebutkan juga bahwa pustakawan itu adalah seseorang yg memiliki kompetensi yg diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab unt melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.[10]
Arti umum dari kompetensi adalah bidang pekerjaan dan pengabdian tertentu, yang karena hakikat dan sifatnya membutuhkan persyaratan dasar, ketrampilan teknis, dan sikap kepribadian tertentu.[11] Atau dikatakan sebagai sejenis pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang untuk melaksanakannya dg baik memerlukan ketrampilan dan/atau keahlian khusus yang diperoleh dari pendidikan dan/atau pelatihan secara berkesinambungan sesuai dg perkembangan bidang pekerjaan atau lapangan kerja yg bersangkutan.[12]
Namun dengan adanya Undang Undang tentang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 telah menumbuhkan harapan baru bagi tenaga perpustakaan di lembaga swasta. Dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan fasilitas layanan perpustakaan, bagaimanapun pustakawan tidak dapat lepas dari peran sebagai mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan siapapun kapanpun di mana pun.  Beberapa ketrampilan yang harus dimiliki profesi pustakawan, antara lain [13]:
1)            Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.
2)            Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai.
3)            Seorang pustakawan harus selalu berpikir positif.
4)            Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus mempunyai nilai tambah, karena informasi terus berkembang.
5)            Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tapi layak pakai.
6)            Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekrjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola[14]
7)            siap atau tidak siap para pustakawan harus ikut bermain di era global sekarang ini. Para penikmat internet atau mereka yang lebih suka berselancar di dunia maya harus dijadikan mitra kerja kita.
8)            pustakawan saat ini bukanlah penjaga koleksi tapi penyedia informasi, media informasi semakin beragam
9)            pustakawan wajib untuk memberikan layanan prima terhadap pemustaka; menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; dan memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya
Terkait dengan kompetensi pustakawan, kompetensi dapat dijelaskan sebagai kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan, dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. [15]
Kompetensi dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu :
a.       Tipe kompetensi pertama yang disebut dengan “soft competency”. Tipe kompetensi ini berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatur proses pekerjaan dan berinteraksi dengan orang lain. Yang termasuk dalam soft competency diantaranya adalah kemampuan manajerial, kemampuan memimpin (kepemimpinan), kemampuan komunikasi, dan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain (Interpersonal relation).
b.      Tipe kompetensi yang kedua yaitu “hard competency”. Tipe kompetensi kedua tersebut berkaitan dengan kemampuan fungsional atau teknis suatu pekerjaan.  Dengan kata lain, kompetensi ini berkaitan dengan seluk beluk teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuni. Contoh hard competency di bidang perpustakaan antara lain kemampuan untuk mengklasir, mengkatalog, mengindek, membuat abstrak, input data, melayani pemustaka, melakukan penelusuran informasi dsb.
The Special Library Association membedakan kompetensi  menjadi kompetensi profesional dan kompetensi personal/individu.[16]
a.    Kompetensi profesional adalah kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen, dan penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi. Kompetensi profesional yang seharusnya dimiliki oleh pustakawan :
1)         memiliki pengetahuan keahlian tentang isi sumber-sumber informasi, termasuk kemampuan untuk mengevaluasi dan menyaring sumber-sumber tersebut secara kritis.
2)         memiliki pengetahuan tentang subjek khusus yang sesuai dengan kegiatan organisasi pelanggannya.
3)         mengembangkan dan mengelola layanan informasi dengan baik, accessable (dapat diakses dengan mudah) dan cost-effective (efektif dalam pembiayaan) yang sejalan dengan aturan strategis organisasi.
4)         menyediakan bimbingan dan bantuan terhadap pengguna layanan informasi dan perpustakaan.
5)         memperkirakan jenis dan kebutuhan informasi, nilai jual layanan informasi dan produk-produk yang sesuai kebutuhan yang diketahui.
6)         mengetahui dan mampu menggunakan teknologi informasi untuk pengadaan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi.
7)         mengetahui dan mampu menggunakan pendekatan bisnis dan manjemen untuk mengkomunikasikan perlunya layanan informasi kepada manajemen senior.
8)         mengembangkan produk-produk informasi khusus untuk digunakan di dalam atau di luar lembaga atau oleh pelanggan secara individu.
9)         mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan menyelenggarakan penelitian yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah manajemen informasi.
10)     secara berkelanjutan memperbaiki layanan informasi untuk merespon perubahan kebutuhan.
11)     menjadi anggota tim manajemen senior secara efektif dan menjadi konsultan organisasi di bidang informasi.

b.      kompetensi personal adalah kompetensi yang menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperhatikan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya. Sedangkan kompetensi personal/individu bagi pustakawan meliputi :
1)      memiliki komitmen untuk memberikan layanan terbaik.
2)      mampu mencari peluang dan melihat kesempatan baru baik di dalam maupun di luar perpustakaan.
3)      berpandangan luas.
4)      mampu mencari partner kerja.
5)      mampu menciptakan lingkungan kerja yang dihargai dan dipercaya.
6)      memiliki ketrampilan bagaimana berkomunikasi yang efektif.
7)      dapat bekerjasama secara baik dalam suatu tim kerja.
8)      memiliki sifat kepemimpinan.
9)      mampu merencanakan, memprioritaskan dan memusatkan pada suatu yang kritis.
10)  memiliki komitmen untuk selalu belajar dan merencanakan pengembangan kariernya.
11)  mampu mengenali nilai dari kerjasama secara profesional dan solidaritas.
12)  memiliki sifat positif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan. 

Kompetensi pustakawan bias berjalan dengan baik dan sesuai standar jika semua sistem mendukung dan mensupport implementasi kompetensi tersebut.[17] Pihak-pihak terkait, semua saluran komunikasi akan membantu memperlancar wujud dari kompetensi pustakawan.Tiga pihak yang mempunyai kepentingan terhadap standar kompetensi pustakawan [18]:
  1. Pertama adalah perpustakaan.  Bagi perpustakaan,  standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk merekrut pustakawan dan mengembangkan program pelatihan agar tenaga perpustakaan mempunyai kompetensi atau meningkatkan kompetensinya.
  2. Kedua adalah lembaga penyelengara sertifikasi pustakawan. Bagi lembaga sertifikasi pustakawan, standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam melakukan penilaian kinerja pustakawan dan uji sertifikasi terhadap  pustakawan.
  3. Sedangkan pihak ketiga adalah pustakawan. Bagi pustakawan standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mengukur kemampuan diri untuk memegang jabatan pustakawan.
Dari uraian di atas, menjadi pustakawan  yang mempunya kompetensi  itu bias dilalui dengan berbagai cara, beragam usaha dengan terukur dan teruji, sehingga dapat mewujudkan profesi yang handal buat pemustakanya di perpustakaan.

D.    Pustakawan Asertif
Interaksi pustakawan dengan pemustaka dalam menuangkan kerjasama dalam kegiatan pencarian  sumber-sumber  informasi referensi, membutuhkan keterampilan kepribadian antara pemustaka dan pustakawan. Keterampilan sosial menjadi salah satu syarat wajib bagi interaksi di perpustakaan, disamping syarat-syarat yang lain yang juga harus ada. Keterampilan Sosial (Social Skills) adalah kemampuan untuk menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim.[19]
Sebagai ilustrasi mengenai pengertian keterampilan sosial, pada sekitar tahun 1970an, di tengah maraknya protes mahasiswa sedunia menentang Perang Vietnam, seorang pustakawati di sebuah kantor US Information Agency diluar negeri menerima kabar buruk : sekelompok mahasiswa mengancam akan membakar perpustakaannya. Reaksinya sepintas nampak konyol, tapi hasilnya luar biasa, pustakawati ini justru mengundang kelompok yang mengancam tesebut untuk mengancam tersebut untuk menggunakan fasilitas perpustakaan sebagai ajang pertemuan-pertemuan mereka,  maka terjadilah dialog bukan konfrontasi. Dalam berbuat demikian, pustakawan ini memanfaattkan hubungan pribadinya dengan beberapa tokoh mahasiswa setempat yang cukup daapat dipercaya dan mempercayainya. Langkah tersebut  membuahkan terbukanya saluran-saluran baru yang saling memahami dan ini mempengaruhi perdahabatannya dengan para tokoh mahasiswa. Perpustakan itu selamat. Pustaakwati tersebut jelas memperagakan keahliannya sebagai negosiator, penengah, atau agen perdamaian yang sangat hebat, yang mampu membaca memuncaknya ketegangan, mendadaknya perubahan situasi, kemudian mengelola tanggapan dengan menyatukan semua orang bukannya saling mempertentangkannya. Kantor terhindar dari kerusakan seperti yang menimpa kantor-kanntor perwakilan Amerika lain yang dipimpin oleh orang-orang yang kurrang memiliki keterampilan sosial.[20]
Dari sumber yang lain di sebutkan bahwa keterampilan sosial adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dengan cara-cara yang dapat diterima secara sosial dan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain secara timbal balik.[21] Keterampilan sosial (Social Skills) itu  intinya adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri untuk berinteraksi dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya secara baik.

Sebagai sebuah sumber informasi, perpustakaan juga merupakan suatu instansi pendidikan non formal yang menyediakan koleksi dan informasi yang beraneka ragam dan berguna untuk mengubah cara berpikir, bertingkah laku dan berperasaan dalam menghadapi proses kehidupan yang terus berubah. Fungsi inilah yang menjadi kunci atau rujukan pustakawan dalam menjalankan tugasnya, dimana pustakawan tidak cukup hanya menyediakan akses informasi, tapi juga menjadikan informasi tersebut bermanfaat bagi pemustaka dalam rangka mencapai masyarakat cerdas dan berpikir kritis, menuju masayarakat yang ‘independent learners’.
Perilaku asertif bagi pustakawan merupakan hal yang sangat penting dalam berhubungan interpersonal dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari di perpustakaan. Tugas pustakawan tidak dapat dipisahkan dari tugas dan fungsi perpustakaan sebagai lembaga penyedia dan pengelola informasi yang bertugas untuk memberikan akses seluas-luasnya bagi pemustakanya  untuk mendapatkan informasi yang tepat secara efisien. Tugas tersebut mengharuskan para pustakawan mempertinggi sikap asertif. Kemampuan berinteraksi merupakan hal utama dalam memberikan layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan. Segala aktifitas di perpustakaan berkaitan erat dengan kemampuan berinteraksi, baik  antar pustakawan maupun antara pustakawan dan pemustaka.
Salah satu teknik berinteraksi yang sangat tepat dimiliki pustakawan adalah perilaku  asertif, yaitu kemampuan menerapkan strategi berkomunikasi yang tepat sesuai karakter pemustakanya. Perilaku asertif menyangkut ekspresi pikiran, perasaan yang positif dan berkaitan dengan ekspresi perasaan negative. [22] Perilaku asertif ini merupakan pengembangan diri yang positif. Menurut Docker [23], dikatakan bahwa perilaku asertif meruapakan perilaku yang jujur, langsung dan ekspresi yang penuh penghargaan terhadap pikiran, perasaan dan keinginan dengan mempertimbangkan perasaan dan hak-hak orang lain. Inti dari perilaku asertif adalah kemampuan mempertahankan hak, kemampuabn mengekspresikan diri, langsung, terbuka dan jujur serta menghargai hak orang lain. Pernyataan tegas pustakawan[24] dalam meng’handle’ segala layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan.
Pustakawan yang menerapkan interaksi asertif memiliki ciri-ciri kemampuan mempertahankan hak-haknya tanpa mengorbankan hak orang lain, seelalu berinteraksi berdasarkan “saling menghargai” dan selalu berusaha menemukan jalan keluar untuk kepentingan bersama, menjadi pendengar aktif, objektif dan tidak emosional dalam menghadapi pemustakanya, memiliki kekuatan personal dan mau berbagi kekuatan yang dimiliki dengan orang lain, mendapatkan ‘respect’, dukungan dan diterima dengan positif oleh lingkungan dan memiliki “good sense of humor” serta siap menanggung resiko yang mungkin timbul dari pekerjaan pustakawan, dan menjadi bertanggung jawab, memiliki integritas dan kebebasan berpendapat dan berdiskusi dengan pemustaka.
Jakubowski, 1973 dalam Caputo menjelaskan bahwa  orang-orang cenderung lebih nyaman menerima kenyataannya adanya hak yang paling mendasar dalam diri manusia, yaitu hak asertif, hak interpersonal. Dengan demikian, setiap orang yang ada di perpustakaan akan menjalin interaksi yang asertif akan menghasilkan hubungan yang harmonis antara pustakawan dan pemustakanya, dimana masing-masing pihak dapat saling memahami dan menghargai sehingga lebih memudahkan untuk memecahkan suatu permasalahan.

E.     Penutup

Perilaku asertif bagi pustakawan merupakan hal yang sangat penting dalam berhubungan interpersonal dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari di perpustakaan. Tugas pustakawan tidak dapat dipisahkan dari tugas dan fungsi perpustakaan sebagai lembaga penyedia dan pengelola informasi yang bertugas untuk memberikan akses seluas-luasnya bagi pemustakanya  untuk mendapatkan informasi yang tepat secara efisien. Tugas tersebut mengharuskan para pustakawan mempertinggi sikap asertif. Kemampuan berinteraksi merupakan hal utama dalam memberikan layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan. Segala aktifitas di perpustakaan berkaitan erat dengan kemampuan berinteraksi, baik  antar pustakawan maupun antara pustakawan dan pemustaka. Dengan demikian, atmosfer layanan informasi sumber-sumber rujukan di perpustakaan akan bisa di manfaat secara maksimal oleh pemustaka.




F.     Daftar Pustaka

Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001.
ALA.  Glossary of library and information science. 1983. Chicago : American Library Association.
Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, hal 85.
Apostle, Richard and Boris Raymond. Librarianship and the information paradigma. Lanham, Md. & London : The Scarecrow Press, 1997.
Bopp, E. Richard and Linda C. Smith. 1995. Reference and Information Services. Englewood Colorado : Libraries Unlimited, hal 3.
Buckland, Michael. 1992. Redesigning Library Services ; A Manivesto. London : Library association.
Caputo, S. Janette. 1984. The assertive Librarian. Canada, Oryx Press,
Djatin, Jusni. Penelusuran Literatur. 1996 Jakarta : Universitas Terbuka.
Forum kajian Budaya dan Agama. 2000. Kecerdasan dan Emosi dan Quantum Learning. Yogyakarta : Forum
Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen. 2006. Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto.
Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1990. Jakarta : Balai Pustaka.
Kartini. 2008. “Kebijakan Pengembangan Pustakawan”. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008
Katz, William A. 1982.   Introduction to reference guide I & II. New York : McGraw-Hill.
Katz, William. 1979. Your Library : A Reference Guide. New York : Holt, Rinehart and Winston.
Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya.
Kismiyati, Titik, 2008. Kompetensi Pustakawan Perguruan Tinggi. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Nasional FPPTI, Seminar Ilmiah, dan Workshop, tanggal 21 Agustus 2008, di Cibogo, Bogor.
Kode Etik Pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998.
Lembaga Pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi. 2001.Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Yogyakarta : LpPI dan FkBA.
Munthe, Bermawi. 2010. Sukses di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Pendit, Putu Laxman. 1992. “Kepustakawanan Indonesia : Potensi dan Tantangan”. Jakarta : Kesaint Blanc
Prytherch 1995. Harrod’s Librarians’ Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. England : Gower.
Rice, James, Jr. 1981.Teaching Library Use : A Guide For Library Instruction. London : Greenwood Press.
Sihabudin, Urip. “Rapat Evaluasi Layanan Perpustakaan”. 13 Agustus 2008.
Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Supriyanto. “Kompetensi dan Sertifikasi Profesi Pustakawan:implikasi UU Perpustakaan No.43 Th.2007” 2008
Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional.
Wedgeworth, Robert (ed.).1993. World encyclopedia of library and information services.3rd ed. Chicago : American Library Association.
Yusman, Dede Gemayuni. 2006.”Peningkatan  Keterampilan Sosial melalui Program Pelatihan Keterampilan Sosial Pada Anak Usia Sekolah”. Thesis. Jakarta : Universitas Indonesia.



[1] Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, hal 448
[2]  Prytherch 1995. Harrod’s Librarians’ Glossary…hal 542
[3] Wedgeworth, Robert (ed.).1993. World encyclopedia of library and information services.3rd ed. Chicago : American Library Association.’, hal. 448

[4] Bopp, E. Richard and Linda C. Smith. 1995. Reference and Information Services. Englewood Colorado : Libraries Unlimited, hal 3.
[5] Lembaga Pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi. 2001.Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Yogyakarta : LpPI dan FkBA, hal. 123.


[6] Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, hal 85.
[7] Dalam Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya.
[8] Kode Etik Pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998, hal 1.
[9] Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen. 2006. Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto, hal
[10]Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Pasal 1
[11] Surakhmad dalam Etika Kepustakawanan, 2006:6
[12] Surakhmad .ibid, hal. 62
[13] Sihabudin, Urip. “Rapat Evaluasi Layanan Perpustakaan”. 13 Agustus 2008.

[14] Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001, hal.
[15] Ahmad. 2001. Ibid., hal. 3

[16] Kartini. 2008. “Kebijakan Pengembangan Pustakawan”. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008, hal 4.

[17] Supriyanto. 2008. “Kompetensi&Sertifikasi Profesi Pustakawan:implikasi UU Perpustakaan No.43 Th.2007” 2008, hal 10.
[18] Kartini. 2008. “Kebijakan Pengembangan Pustakawan”. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008., hal 6.

[19] Forum kajian Budaya dan Agama. 2000. Kecerdasan dan Emosi dan Quantum Learning. Yogyakarta : Forum Kajian Budaya dan Agama, hal.50
[20] Forum kajian Budaya dan Agama. 2000. Ibid. hal.48-49
[21] Yusman, Dede Gemayuni. 2006.”Peningkatan  Keeterampilan Sosial melalui Program Pelatihan Keterampilan Sosial Pada Anak Usia Sekolah”.Thesis. Jakarta : Universitas Indonesia, hal.28.
[22] Munthe, Bermawi. 2010. Sukses di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, hal. 94. Disebutkan juga dalam Hariyadi (2006 : 1), yang mengatakan bahwa  pola interaksi asertif adalah interaksi yang “paling sehat” dan efektif; memudahkan pemecahan masalah; mengurangi ‘ledakan emosi’; membutuhkan ‘skills’ dan perubahan pola pikir. Strategi berinteraksi efektif menjadi sangat penting mengingat karakter masyarakat kita yang kita layani,  dengan kecenderungan budaya lisan
[23] Munthe, Bermawi. 2010. Ibid. hal 94
[24] Caputo, S. Janette. 1984. The assertive Librarian. Canada, Oryx Press, hal. 3. Disebutkan juga bahwa perbedaan antara assertive, nonassertion dan aggression. Bahwa  assertion is standing up for your right without violating the right of others. Sementara itu, non assertive is not standing up for your rights (remaining passive), dan Aggression is assertion is standing up for your right without concern for (or conscious avoidance of ) the violation of others rights.

No comments:

Post a Comment