Friday, 7 October 2016

Rekayasa Budaya di Taman Bacaan Masyarakat dalam menumbuhkan Nilai-Nilai Budaya Lokal masyarakat di Yogyakarta sebagai Salah satu Bentuk Keistimewaan Yogyakarta

Zulaikha, Sri Rohyanti.(2015). Rekayasa Budaya di Taman Bacaan Masyarakat dalam menumbuhkan Nilai-Nilai Budaya Lokal masyarakat di Yogyakarta sebagai Salah satu Bentuk Keistimewaan Yogyakarta. In Dinamika Kajian Ilmu-ilmu Adab dan Budaya: Bunga Rampai (pp. 253-292). Yogyakarta: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.


A.    Latar Belakang
Fenomena Taman Bacaan Masyarakat sebagai salah satu gerakan dalam menumbuhkan minat baca masyarakat menjadi budaya baca bagi masyarakat kini mulai tumbuh dan berkembang serta mendapat tempat yang positif ditengah masyarakat dan didukung oleh kebijakan pemerintah.  Melihat realita yang ada saat ini, apakah peran Taman Bacaan Masyarakat sudah mampu menjadi salah satu komponen yang mampu meningkatkan nilai-nilai budaya lokal sebagai salah satu ciri khas keistimewaan Yogyakarta?  Dengan adanya Dasar  Hukum  Pengembangan Budaya Baca[1] dan Undang-Undang tentang perpustakaan[2], apakah semua permasalahan dalam ruang lingkup gerakan budaya baca dapat teratasi dan bagaimana langkah pemerintah dalam mengatur peran taman bacaan masyarakat sebagai salah satu komponen dalam menumbuhkan nilai-nilai budaya masyarakat?
Terkait juga dengan misi Pemda DIY yaitu “mewujudkan budaya adiluhung yang didukung dengan konsep, pengembangan budaya, pelestarian dan pengembangan hasil budaya, serta nilai-nilai budaya secara kesinambungan”, maka disamping upaya peningkatan budaya baca, diperlukan upaya-upaya yang dapat dilakukan guna melestarikan nilai-nilai tradisional tersebut, salah satunya adalah melalui perpustakaan dan arsipasi dokumen[3]. Hal ini dikarenakan perpustakaan dan kearsipan merupakan wujud nyata dalam upaya pentransformasian nilai-nilai tradisional tersebut melalui bahan pustaka kepada generasi berikutnya.
Dewasa ini perkembangan perpustakaan dan kearsipan tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi yang memberikan kemudahan dalam mengelola  terutama dalam bidang pengelolaan informasi. Perpustakaan merupakan organisasi publik yang memiliki peran strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Eksistensi dari perpustakaan ini muncul karena adanya kebutuhan masyarakat yang beragam. Sementara itu kearsipan adalah kegiatan pengolahan arsip mulai dari penciptaan, penerimaan, pengumpulan, pengaturan, pengendalian, pemeliharaan dan perawatan serta penyimpanan warkat menurut sistem tertentu agar dapat dipergunakan secara cepat dan tepat. Kebutuhan masyarakat akan pengelolaan informasi pada perpustakaan dan kearsipan makin lama akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu perpustakaan dan kearsipan harus mampu membangun layanan yang bermutu, yaitu layanan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna yang meliputi materi, format, waktu, aturan dan pelayanan. Perpustakaan dan kearsipan harus mampu menjadi media transformasi informasi kepada publik secara prima dalam rangka menjalankan fungsinya. Salah satunya adalah informasi tentang pelestasian budaya dan nilai-nilai budaya masyarakat muslim di Yogyakarta yang terwujud dalam keistimewaan Yogyakarta dalam nilai-nilai budaya lokal dengan mengedepankan konsep Iqra yang dimulai dari perpustakaan sebagai sebuah integrasi interkoneksi rekayasa budaya.
Dengan didasarkan pada latar belakang tersebut, maka peneliti bermaksud untuk meneliti:(1) Bagaimana peran TBM dalam menerapkan rekayasa budaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta sebagai sebuah keistimewaan Yogyakarta.(2) Kendala apa yang dihadapi TBM dalam perannya melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:(1) Untuk memetakan bagaimana peran TBM dalam menerapkan rekayasa budaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta sebagai sebuah keistimewaan Yogyakarta, (2) Untuk mengetahui kendala apa yang dihadapi TBM dalam perannya melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta.(3) Memberikan rekomendasi terhadap kebijakan Pemerintah terhadap peran TBM dalam ikut serta memberi warna keistimewaan Yogyakarta sebagai heritage country.
Topik peran perpustakaan dalam mengembangkan TBM sudah banyak dikaji oleh beberapa peneliti dalam dunia akademik. Akan tetapi untuk penelitian peran TBM dalam melakukan sebuah rekayasa budaya masih sangat jarang ditemukan. Diantara kajian yang berkaitan dengan TBM adalah tentang perpustakaan untuk rakyat yang diteliti oleh Ratih Rahmawati dan Blasius Sudarsono[4]. Dalam penelitian itu dikatakan bahwa Ada riset dari Sigma KAPPA Indonesia tentang keunikan Yogyakarta.Otoritas perpustakaan di yogya telah melahirkan kegiatan yang namanya Jogja library for all. Komunitas-komunitas ‘sinau bareng’ dan komunitas lainnya  yang bermunculan, menjadikan Yogyakarta kaya akan diskusi perpustakaan. TBM sebagai sebuah diskusi budaya, membangun bagaimana sebuah rekayasa di lakukan agar masyarakat bisa tertarik ‘membaca’

B.     Landasan Teori
1.      Keistimewaan Yogyakarta
Didasarkan pada dokumen Perencanaan Bappeda DIY tahun 2013[5], didalamnya dikatakan bahwa di dalam UUD 1945, dikatakaan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia. Sedangkan di dalam pembukaan Undang-undang nomor 43 2007 dikatakan bahwa perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat dan sebagai wahaya pelestarian kekayaan budaya bangsa[6]. Lebih lanjut di dalam UU No. 43 Tahun 2007, dituliskan bahwa masyarakat mempunyai hak yang sama  untk memperoleh layanan serta memanfaatkan  dan mendayagunakan perpustakaan, masyarakat di daerah terpencil, terisolasi atau terbelakang  sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus dan masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan  fisik, emosional  berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing.
Memahami perpustakaan berkaitan dengan keberadaan Provinsi DIY sebagaimana ditetapkan dalam UU No.13 tahun 2012 tentang penetapan status Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta[7], kiranya tidak bisa dilepaskan dari perangkat pendukung perpustakaan. Perangkat pendukung yang dimaksud adalah keberadaan UU No.43 tahun 2007 yang menegaskan peran perpustakaan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan UUD 1945.  UU No.43 tahun 2007  pasal 2 tentang dasar penyelenggaraan perpustakaan di Indonesia yang menyebutkan bahwa: Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran dan kemitraan. Lebih jauh Pasal 7 ayat 1b menyatakan bahwa Pemerintah berkewajiban menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat.
Penjelasan tersebut dalam kaitannya dengan penyelenggaraan perpustakaan berbasis keistimewaan DIY berhubungan erat dengan UU No.13 tahun 2012 pasal 7 ayat 1 dan 2c tentang kewenangan DIY sebagai daerah otonom  dalam urusan keistimewaan yang salah satunya meliputi kebudayaan serta pasal 31 ayat 1 tentang kebudayaan[8]. Kewenangan dalam bidang kebudayaan tersebut diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY (Pasal  31 ayat 1). Kewenangan dalam bidang kebudayaan tersebut menegaskan bahwa pemerintah provinsi DIY dapat menonjolkan kekhasannya.
Sejalan dengan kekhasan DIY, Presiden Republik Indonesia dalam UU NO.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan memberikan pertimbangan  bahwa perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa sebagai salah satu upaya untuk memajukan budaya nasional. Menilik dari penyataan tersebut jelaslah bahwa kehadiran perpustakaan sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan budaya setempat di mana perpustakaan itu berada. Keberadaan budaya, seperti dinyatakan dalam Pasal 31 ayat 1 UU No.13 tahun 2012, salah satunya terekam dalam bentuk naskah-naskah yang biasanya sudah berumur puluhan bahkan raturan tahun. Naskah-naskah budaya tersebut jika dikelola dengan baik bersemangatkan keistimewaan akan menjadi sebuah aset yang sangat berharga dan berdayaguna bagi generasi mendatang dan sekaligus dapat menjadi salah satu ciri dari keistimewaan DIY. Keberadaan naskah tersebut juga telah diatur dalam UU No.43 tahun 2007 sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 ayat 4 yang medefinisikan tentang naskah yang termasuk kuno dan bernilai penting bagi perbendaharaan budaya nasional.
Guna mendukung keberadaan naskah-naskah budaya daerah dan budaya nasional tersebut, UU No.43 tahun 2007 mengamanatkan sebagai berikut: (1) Pemerintah berkewajiban memberikan penghargaan kepada setiap orang yang menyimpan, merawat dan melestarikan naskah kuno. Penjelasan: naskah kuno berisi warisan budaya karya intelektual Bangsa Indonesia yang sangat berharga dan hingga saat ini masih tersebar di masyarakat dan untuk melestarikannya perlu peran serta pemerintah (Pasal 7 i), (2) Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota berkewajiban menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasarkan kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah di wilayahnya (Pasal 8 f), (3) Pemerintah daerah berwenang mengalihmediakan naskah kuno yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah masing-masing untuk dilestarikan dan didayagunakan (Pasal 10 c) dan (4) Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan perpustakaan umum yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya masing-masing dan memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat (Bab VII pasal 22 ayat 2)[9].
Senada dengan UU No. 43 tahun 2007, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pidato Rapat Paripurna DPRD DIY tentang pemaparan visi, misi dan program kerja calon gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012-2017 yang bertema Yogyakarta Menyongsong Peradaban Baru, menyampaikan bahwa visi pembangunan DIY berlandaskan filosofi “Hammayu-Hayuning Bawono”[10]. Filosofi tersebut mengandung makna kewajiban melindungi, memelihara, dan membina keselamatan dunia. Berdasarkan filosofi tersebut, visi pembangunan DIY tahun 2025 adalah “Mewujudkan DIY menjadi: Pusat Pendidikan, Budaya dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri, Sejahtera”.  Visi diterjemahkan dalam empat misi. Adapun yang berkaitan dengan pengembangan perpustakaan berbasis keistimewaan tercantum dalam misi kedua: Mewujudkan budaya adiluhung yang didukung dengan konsep, pengetahuan budaya, pelestarian dan pengembangan hasil budaya, serta nilai-nilai budaya secara berkesinambungan.
Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur UU[11]. Pasal 7 ayat 2 dikatakan bahwa Kewenangan urusan keistimewaan tersebut meliputi: tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas dan wewenang Gubernur dan Wagub, kelembagaan pemerintah daerah DIY, kebudayaan, pertanahan  dan tata ruang. Sedangkan Pasal 31 tentang kebudayaan. Kewenangaan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta rasa karsa dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni dan tradisi luhur  yang mengakar kuat dalam masyarakat DIY .
Terkait dengan peran perpustakaan dalam menonjolkan sisi keistimewaan, secara jelas perwujudan misi kedua tersebut disinggung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X  dalam konsep Renaisans Yogyakarta dan Arah Renaisans Pendidikan[12]. Adapun Konsep Renaisans Yogyakarta menyatakan:
“Dengan mengadopsi Renaisans Eropa dan mengadopsi Renaisans Asia, konsep Renaisans Yogyakarta harus diawali dengan menggali, mengkaji, dan mengembangkan sumber-sumber ilmu pengetahuan canggih di bidang konstruksi yang telah menghasilkan Candi Borobudur dan Prambanan. Bersamaan dengan itu, mencermati karya-karya susastra seperti Surat Pararaton, Negarakretagama, Centhini, Wredotomo, Wulangreh dan sebagainya. Dengan cara itu, dapat digunakan untuk memperkaya nilai-nilai filosofis yang mengajarkan kebajikan bagi bangsa, juga untuk mencerahkan nalar, agar tercipta kondisi kondusif berkembangnya seni dan sains, seperti sejarah Renaisans Eropa”
Adapun Arah Renaisans Pendidikan di DIY bidang perpustakaan menurut Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dapat dicapai melalui program pembinaan dan pengembangan perpustakaan, pengembangan budaya baca, pengembangan jurnal internasional serta pengembangan sarana dan prasarana perpustakaan.
Pemerintah DIY melalui visi-misinya tersebut sangat memperhatikan pelestarian dan pengembangan hasil budaya. Lebih dari itu, dukungan pemerintah pusat melalui UU No. 43 tahun 2007 kiranya juga sangat terlihat. Dalam UU tersebut sangat jelas amanat apa saja yang menjadi tanggungjawab pemerintah, baik pusat maupun daerah berkaitan dengan koleksi-koleksi budaya setempat. UU No. 13 tahun 2012 Pasal 2, Pasal 7 ayat 2, UU No.43 tahun 2007 dan Visi, Misi & Program Calon Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012-2017 kiranya menjadi dasar bagi penyelenggaraan perpustakaan di DIY berbasis keistimewaan.
Dalam Undang-undang republik Indonesia no 12 tahun 2012 jelas dikatakan bahwa Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus ata bersifat istimewa yang diatur uu. Diulas juga pada Pasal 7 ayat 2 dikatakan bahwa Kewenangan urusan keistimewaan tersebut meliputi:
a.       Tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas dan wewenang Gubernur dan Wagub
b.      Kelembagaan pemerintah daerah DIY
c.       Kebudayaan
d.      Pertanahan
e.       Tata ruang
Dijelaskan dalam Pasal 31 tentang kebudayaan, bahwa Kewenangaan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta rasa karsa dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni dan tradisi luhur  yang mengakar kuat dalam masyarakat DIY, sedangkan Budaya itu adalah cipta rasa karsa yang mewarnai kehidupan kita, bukan hanya sekedar tari ataupun seni. semua kegiatan tersebut dilaksanakan dengan didasari pada filosofi keistimewaan yaitu Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Gusti, Tahta Untuk Rakyat, Golong-Gilig Sawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh, Catur Gatra Tunggal dengan Sumbu Tugu-Krapyak dan Pathok Negara
Sasaran dari pelaksanaan fungsi perpustakaan adalah terbentuknya masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat. Dalam melaksanakan fungsi tersebut, perpustakaan berazaskan pada demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran dan kemitraan dengan tujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan pengetahuan serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Asas tersebut berkaitan erat dengan kewenangan DIY sebagai daerah otonom  yang mempunyai wewenang khas dalam bidang kebudayaan dan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY.
Peran dan fungsi perpustakaan sebagai pusat budaya dan agen budaya diharapkan dapat memberi pengaruh bagi masyarakat setempat. Oleh karena mudahnya masyarakat dalam mengakses dan mengenal kebudayaan itulah diharapkan kemudian akan memahami dan akhirnya melestarikan hasil budaya (nguri-uri kabudayan). Ruang-ruang di perpustakaan yang sebelumnya terbatas, menjadi ruang yang tak terbatas atau tak terlihat (invisibel, maya). Koleksi yang tadinya berupa fisik mengalami perubahan bentuk menjadi digital yang tak tersentuh. Adalah perusahaan-perusahaan pengembang teknologi informasi lah yang sebenarnya turut membantu transformasi perpustakaan  dari bentuk fisik ke bentuk maya (library without wall). Dari situlah sebenarnya rekayasa budaya terbentuk.
Perpustakaan dengan pustakawan yang terampil atau kompeten dibidangnya menjadi syarat utama bagi rekayasa tersebut.  Salah satu kompetensi tersebut kompetensi adminstrasi dimana pustakawan wajib mampu untuk mengoperasikan komputer dan mampu menerapkan teknologi baru dalam layanan perpustakaan. Kata kunci dari kompetensi ini adalah mampu menerapka teknologi baru. Pustakawan yang mampu dalam bidang teknologi dan menerapkan ilmunya untuk mengemas ulang informasi di perpustakaan dan kemudian menyebarkannya ke seluruh lapisan masyarakat melalui internet merupakan modal dasar bagi perpustakaan dalam rangka menyebarluaskan koleksi hasil budaya. Pustakawan yang kompeten, koleksi (cetak dan digital), dan teknologi yang digunakan serta tampilan laman perpustakaan yang menarik merupakan perpaduan bagi terselenggaranya proses penciptaan budaya baru.  Dengan demikian rekayasa budaya yang diterapkan di perpustakaan mampu menciptakan perpustakaan dengan sistem yang menarik supaya minat baca masyarakat menjadi meningkat.

Jadi bisa dikatakan bahwa rekayasa budaya[13] ini dilakukan dalam usaha melakukan perubahan dan perbaikan sesuatu dengan memberi peluang perbaikan melalui pendekatan budaya, misalnya pendekatan budaya yang berasal dari mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.
Rekayasa budaya di sini dimaksudkan untuk menjadi peluang untuk daya tarik di TBM yang ada di Yogyakarta. Rekayasa budaya tersebut dimaknai dengan format baru yang berorientasi pada pengembangan budaya di Taman Bacaan Masyarakat yang ada. Rekayasa budaya tersebut tentu saja disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan serta perkembangan zaman, sehingga tetap mengedepankan nilai tradisional namun tetap relevan dengan zamannya. Bahkan menurut Kuswasantyo[14] dikatakan bahwa dalam rekayasa budaya, sangat dibutuhkan langkah-langkah yang tepat agar tidak menimbulkan persoalan sosial, antara lain dengan memiliki objek yang menjadi unggulan, menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat sampai kepada melakukan proses kajian. Rekayasa budaya itulah yang dimaksudkan dalam penelitian ini, yang diterapkan di dalam proses penyelenggaraan TBM Cakruk Pintar, TBM Luru Ilmu dan TBM Mata Aksara.
2.      Pengertian Taman Bacaan Masyarakat
Menurut Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 pasal 22 ayat 1 tentang perpustakaan disebutkan perpustakaan umum[15] diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota, Kecamatan dan Desa serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat. Sulistyo-Basuki[16] Perpustakaan Umum merupakan perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum dan salah satu kelompok perpustakaan umum adalah perpustakaan komunitas. Perpustakaan komunitas (community library) merupakan perpustakaan yang didirikan oleh komunitas tertentu dengan menyediakan materi perpustakaan umum. Salah satu bentuk perpustakaan komunitas di Indosesia dikenal dengan nama Taman Bacaan Masyarat (TBM)
 Menurut Sutarno[17] Taman Bacaan Masyarakat pada dasarnya bukanlah sebuah perpustakaan, seperti standar koleksi, standar sarana dan prasarana, standar pelayanan perpustakaan, standar tenaga perpustakaan, standar penyelenggarakan dan standar pengelolaan. Taman Bacaan Masyarakat lebih tepat disebut fasilitas membaca yang berada di tengah-tengah komunitas (community based library) dan dikelola secara sederhana, dan swadana oleh masyarakat yang bersangkutan.
Taman bacaan masyarakat adalah untuk melayani kepentingan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Mereka terdiri atas semua lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan, umur dan lain sebagainya.  Taman Bacaan Masyarakat adalah sebuah tempat/wadah yang didirikan dan dikelola baik masyarakat maupun pemerintah untuk memberikan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar sebagai sarana pembelajaran seumur hidup dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar TBM[18].
Taman Bacaan Masyarakat mempunyai tanggung jawab, wewenang, dan hak masyarakat setempat dalam membangunnya, mengelola dan mengembangkannya. Dalam hal ini perlu dikembangkan rasa untuk ikut memiliki (sense of belonging), ikut bertanggung jawab (meluhangrukebi)[19]
Rahmawati[20] menjelaskan bahwa sejarah TBM Indonesia tidak terlepas dari sejarah perkembangan perpustakaan. Sejarah mencatat perpustakaan pertama di Indonesia adalah Batavian Kerkeraad yang dibangun pada tahun 1624. Perkembangan berikutnya adalah ditemukannya banya persewaan buku yang berkembang antara than 1790-1900 yang dikelola oleh orang Cina peranakan (Iskandar, 1981; Drewes, 1981 dalam Haklev:2008)[21].
Lebih lanjut Rahmawati[22] menjelaskan bahwa pada masa itu mulai dikenal istilah “taman pustaka” atau “taman bacaan” (reading gardens) yang dikenal masyarakat lebih ramah dari perpustakaan yang banyak dibangun oleh pemerintah colonial. Perkembangan perpustakaan maupun taman pustaka pada masa itu juga dilatarbelakangi oleh kebijakan politik etis pemetintah kolonial Belanda yang mencakup pendidikan untuk orang pribumi. Sejalan dengan pendapat Stain Haklev dalam Rahmawati[23]  yang mengatakan bahwa taman bacaan masyarakat pada dasarnya diangn oleh tiga penggagas yaitu: 1) taman bacaan yang dibangun oleh pemerintah pusat maupun pemerintah local ataupemerintah daerah, 2) taman bacaan yang dibangun oleh donator misalnya dalam program CSR perusahaan, 3) taman bacaan yang dibangun oleh LSM maupun komunitas masyarakat lokal.
Demikian juga dengan perkembangan TBM di Yogyakarta. Perkembangan taman bacaan masyarakat di Yogyakarta berasal dari beberapa pihak taitu TBM yang tumbuh karen abentukan pemerintah, berasal dari pribadi yang mencintai buku memiliki kepedulian terhadap masyarakat, juga beberap peranan perusahaan yang membangun TBM karena program CSR mereka.
Menurut Amrin[24] Taman bacaan Masyarakat adalah sebuah lembaga atau unit layanan berbagai kebutuhan bahan bacaan yang dibutuhkan dan berguna bagi setiap orang per orang atau sekelompok masyarakat di desa atau diwilayah TBM berada dalam rangka meningkatkan minat baca dan mewujudkan masyarakat berbudaya baca.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga atau unit layanan yang menyediakan bahan bacaan untuk sekelompok masyarakat di suatu wilayah dalam rangka meningkatkan minat baca.


3.      Pengertian, Tujuan, Fungsi dan Tugas Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
Saat media dan semakin banyak pihak membicarakan dan bergerak untuk mengembangkan minat baca masyarakat di berbagai daerah, maka salah satu media selain perpustakaan adalah adanya keberadaan Taman Belajar Masyarakat (TBM). Untuk mengenal dan bisa mengerti lebih dekat tentang Pengertian, Tujuan, Fungsi dan Tugas Taman Bacaan Masyarakat (TBM) berikut sebuah tulisan yang dikutip langsung dari repository.usu.ac.id mengenai TBM. Dalam proses belajar mengajar di semua jenjang pendididkan baik TK, SD, SMP, SMU, PERGURUAN TINGGI maupun para peneliti tidak lepas dari perpustakaan maupun taman bacaan masyarakat, dari taman bacaan masyarakat mereka akan memperoleh informasi tentang bermacam-macam hal karena pada hakekatnya suatu taman bacaan masyarakat adalah tempat berkumpulnya pengetahuan dari masa ke masa. Taman bacaan masyarakat adalah untuk melayani kepentingan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Mereka terdiri atas semua lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan, umur dan lain sebagainya.
Dalam pengelompokan perpustakaan, taman bacaan masyarakat tergolong dalam Perpustakaan Umum[25]. Dalam pengertian sederhana definisi di atas menyatakan bahwa perpustakaan umum adalah sebuah perpustakaan atau sistem perpustakaan yang menyediakan akses yang tidak terbatas kepada sumberdaya perpustakaan dan layanan gratis kepada warga masyarakat di daerah atau wilayah tertentu, yang didukung penuh atau sebahagian dari dana masyarakat (pajak). Menyimak definisi di atas, perpustakaan umum memiliki tugas yang sangat luas dalam hal penyedia akses informasi kepada masyarakat. Mengingat pentingnya perpustakaan umum sebagai perpustakaan masyarakat umum, sehingga UNESCO (badan PBB yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan) menyatakan perpustakaan umum sebagai media kehidupan bangsa. Pada tahun 1972 UNESCO mengeluarkan Manifesto perpustakaan umum yang menyatakan bahwa perpustakaan umum harus tebuka bagi semua orang tanpa membeda – bedakan warna kulit, jenis kelamin, usia, kepercayaan, ras. Lebih rinci tujuan perpustakaan umum dalam manifesto Unesco[26] adalah:
a.       Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.
b.      Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama mengenai topik yang berguna bagi mereka yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.
c.       Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka.
Bertindak selaku agen kultural , artinya perpustakaan umum pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.
Sejak awal sebuah perpustakaan didirikan, apa pun jenisnya telah disebutkan bahwa perpustakaan atau taman bacaan masyarakat mempunyai kegiatan utama mengumpulkan semua sumber informasi dalam berbagi bentuk yakni tertulis (printed matter), terekam (recorded matter) atau dalam bentuk lain, kemudian semua informasi tersebut diproses, dikemas, dan disusun untuk disajikan kepada masyarakat yang diharapkan menjadi target dan sasaran akan menggunakan taman bacaan tersebut. Oleh karena itu penyelenggaraan taman bacaan tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Untuk mewujudkan kandungan maksud dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, diperlukan langkah-langkah strategis, kebijakan yang aplikatif dan terencana secara konseptual serta tindakan yang kongkrit.
Menurut Sutarno NS[27], sebuah Taman Bacaan Masyarakat dibentuk atau dibangun dengan maksud:            Menjadi tempat mengumpulkan atau menghimpun informasi, dalam arti aktif, taman bacaan masyarakat tersebut mempunyai kegiatan yang terus-menerus untuk menghimpun sebanyak mungkin sumber informasi untuk di koleksi.
Sebagai tempat mengolah atau memproses semua bahan pustaka dengan metode atau sistem tertentu seperti registrasi, klasifikasi, katalogisasi serta kelengkapan lainnya, baik secara manual maupuan menggunakan sarana teknologi informasi, pembuatan perlengkapan lain agar semua koleksi mudah di gunakan.
Program Taman Bacaan Masyarakat belum dapat dikatakan berhasil apabila kemampuan, keterampilan dan kinerja pengelola belum memadai untuk mengelola Taman Bacaan Masyarakat, sehingga bagi para Pengelola TBM agar dapat mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan penyelenggaraan TBM sebelum melaksanakan tugasnya.
Menurut Buku Pedoman Pengelolahan Taman Bacaan Masyarakat[28] (2009: 23) Pengelola Taman Bacaan Masyarakat harus memiliki:
a.       Pengelola TBM yang diselenggarakan oleh masyarakat harus memiliki sikap peduli tanpa pamrih (relawan) untuk membantu melayani bahan bacaan dan pembimbing masyarakat membaca, berbeda dengan TBM yang dikelola oleh pemerintah.
b.      Pengelola diutamakan berlatar pendidikan bidang komunikas atau pendidikan yang memahami berbagai bahan bacaan serta responsif gender dan berkomitmen untuk mengembangkan minat baca masyarakat.
c.       Pengelola TBM diutamakan memiliki usaha ekonomi ditempat TBM, misalnya warung kopi, wartel, counter HP, dll.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengelola TBM harus memiliki sikap peduli dan tanpa pamrih untuk melayani bahan bacaan dan membimbing masyarakat dengan latar belakang pendidikan bidang komunikasi agar dapat mengembangkan minat baca masyarakat serta memiliki usaha ekonomi ditempat dimana TBM tersebut didirikan sehingga memberi kenyamanan pada pengguna TBM.

C.    Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan kualitatif dengan lebih menekankan kepada pemaknaan mendalam atau pendeskripsian dan eksplanasi dari sebuah hasil penelitian[29]. Metode ini digunakan secara tidak bersamaan, tetapi teknik pengumpulan yang dapat digabungkan. Menurut Brannen (1992) dengan teknik pengumpulan data yang utama adalah kuesioner, selanjutnya untuk mengecek dan memperbaiki kebenaran data dari kuesioner tersebut dilakukan dengan pengumpulan data dengan teknik kualitatif yaitu dengan teknik observasi dan wawancara.
Dalam penelitian ini, dipilih beberapa informan yang dapat memberikan beberapa penjelasan mengenai peran TBM serta menghasilkan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah berkaitan dengan hal-hal yang harus dipersiapkan dalam menyediakan layanan perpustakaan TBM.
Sementara dalam penelitian ini, penentuan ‘populasi’ atau social situation atau situasi sosial yang terdiri dari tempat (place), pelaku (actors) dan aktivitas (activity), dengan melakukan pengamatan secara mendalam aktivitas orang-orang di tempat tertentu. Sementara untuk sampel, maka digunakan narasumber, partisipan dalam hal ini adalah pengelola perpustakaan masjid yang ada di Yogyakarta dan para pemustaka perpustakaan masjid tersebut.  Selanjutnya dilakukan wawancara[30] mendalam untuk mendapatkan infomasi yang detail pengenai peran perpustakaan masjid dengan menggunakan dasar pedoman pengelolaan perpustakaan tempat ibadah. Berikut disampaikan informasi mengenai jumlah perpustkaan TBM di DIY yaitu Di Indonesia ada 7.000. di DIY ada 349. Di Sleman ada 73. Di Yogya ada 200. Di Bantul ada 30. Di GK ada 24. Di KP ada 22.
Berdasarkan informasi dari BPAD[31], dari jumlah perpustakaan TBM tersebut, akan diambil 3 TBM yang representatif untuk keperluan penelitian dimaksud didasarkan pada TBM yang sudah mendapatkan penghargaan nasional dari pemerintah yaitu: TBM Cakruk Pintar di Nologaten Sleman (2010), TBM Luru Ilmu Yogyakarta (2011) dan TBM Mata Aksara di Jalan Kaliurang km 14 Sleman ( 2012).
Dengan demikian, maka penelitian dengan judul ini akan dilakukan di 3 TBM di Yogyakarta, dengan menggunakan tahapan-tahapan penelitian : Pembuatan rancangan penelitian, Pelaksanaan penelitian dan Pembuatan laporan penelitian. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ini adalah kata-kata, tindakan dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lainnya[32].
Sementara itu, untuk proses analisis datanya, menurut Moleong[33] bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dibaca, dipelajari, ditelaah, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yaitu dengan jalan melakukan abstraksi yaitu upaya melakukan rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-penyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya, menyusun dalam satuan-satuan kemudian dikategorikan serta mengadakan keabsahan data.
Analisis data dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, tetapi lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data. Menurut Miles and Huberman[34] dikatakan bahwa analisis data dilakukan dengan cara data reduction, data display dan Conclusion drawing/verification Kemudian untuk pengujian validitas dan reabilitas penelitian ini, penulis akan melakukan pengujian yang  meliputi : uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas) dan confirmability.

D.    Hasil Penelitian
Dari data dokumentasi, wawancara dan survey lapangan, didapatkan informasi bahwa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar berlokasi di Dusun Nologaten, Gang Selada No. 106 Rt.04/01, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. TBM ini  berdiri sejak tahun 2003. Awalnya, area bangunan TBM Cakruk Pintar merupakan tempat pembuangan akhir (TPA) yang di sekitarnya terdapat kandang babi. Kondisinya pun kumuh. Muhsin Kalida yang merupakan penggagas awal adanya TBM Cakruk Pintar tersebut.
 Cakruk bisa diartikan sebagai saung atau gubug tempat orang berteduh atau istirahat dari sawah. Dulu, banyak orang yang mampir istirahat di situ setelah dari sawah atau selesai kerja, mereka berkumpul di Cakruk. Mereka saling bertegur sapa antar warga, dan ngobrol-ngobrol santai. Selain itu, bangunan Cakruk Pintar dulu dijadikan sebagai tempat ronda para warga. Singkatnya, Bangunan Cakruk Pintar merupakan tempat berkumpulnya para warga kala itu. Dari sini lah kemudian muncul ide menamakan Cakruk Pintar. Nama “Pintar” di sini agar orang-orang yang datang ke Cakruk dapat menjadi lebih pintar. Atau dengan kata lain, melalui Cakruk ini dapat mencerdaskan masyarakat sekitar yang memanfaatkannya.
Motto dari TBM ini adalah “Datang Menyenangkan, Pulang Merindukan”. Hal ini dikarenakan suasana TBM Cakruk Pintar yang asri dan segar. TBM Cakruk Pintar berdiri diapit oleh dua sungai, yaitu sungai Gajahwong, dan sungai kecil. Gemericik air dan pemandangan alam yang masih asri membuat orang yang datang ke sana mendapatkan kesan menyenangkan, dan ketika orang tersebut pulang, ia merindukan Cakruk Pintar dan ingin kembali berkunjung ke Cakruk Pintar. Kini, selain berfungsi sebagai Taman Bacaan, Cakruk Pintar juga sering dijadikan tempat aktifitas para warga, misalnya untuk rapat RT ataupun RW, pemilihan Kepala Desa, dan sebagainya. Sebelumnya, pada tahun 2004-2005, TBM Cakruk Pintar bernama TBM Suka Caturtunggal yang berada di dalam naungan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Suka Caturtunggal di bawah Yayasan Yasuka. Kemudian pada tahun 2007, berubah menjadi TBM Cakruk Pintar dan berada langsung di bawah Yayasan Yasuka. Jadi, Yayasan Yasuka membawahi dua bidang, yaitu PKBM Suka Caturtunggal dan TBM Cakruk Pintar.
TBM berikutnya adalah TBM Luru Ilmu. Sejarah panjang dari TBM Luru Ilmu dimulai pada Sebuah dusun di wilayah Kabupaten Bantul yang menjadi miniatur kehidupan masyarakat yang memiliki budaya literasi melalui kegiatan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Semangat untuk membangun desanya paska gempa bumi tahun 2006, menjadi energi bagi Sugiyono Saiful Hadi (45) untuk mendirikan sanggar kegiatan bagi masyarakat. Tidak ingin melihat dampak buruk gempa bumi yang dapat menimpa anak-anak di dusun, maka didirikanlah sanggar belajar yang diberi nama Sanggar Zeny Zulfy yang menjadi cikal bakal terbentuknya TBM Luru Ilmu. Berawal dari sebuah dusun kecil yang kemudian berkembang hingga ke daerah lain, jadi tahapan berdirinya TBM Luru Ilmu dalam melayani kebutuhan literasi bagi masyarakat. Berlokasi di Dusun Gresik, Kelurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, TBM Luru Ilmu berkembang pesat hingga mampu mengukir prestasi hingga tingkat nasional.
Didasarkan pada survey lapangan, data dokumentasi dan wawancara dengan para pengelola TBM, maka didapatkan informasi sebagai berikut:
Taman Bacaan Mata Aksara beralamatkan di jalan Kaliurang km. 14 No. 15 A Tegalmanding, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Telp- Fax 0274-898334. TBM Mata Aksara ini sangat mudah di jangkau karena memang letaknya yang cukup strategis yakni berjarak 500 meter dari Universitas Islam Indonesia.
Adapun visi dari TBM Mata Aksara adalah mewujudkan masyarakat yang gemar membaca, kreatif, cinta ilmu dan melestariak budaya. Sementara itu untuk misi TBM Mata Aksara adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan kemudahan bagi masyarakat khususnya anak-anak untuk mendapatkan bacaan yang bermutu.
b.      Menumbuhkembangkan kegiatan menulis sebagai pengembangan kegiatan membaca.
c.       Menyelenggarakan kegiatan kretif yang memupuk kegemaran membaca dan cinta ilmu.
d.       Merevitalisasi permainan tradisional sebagai sarana pendidikan karakter.
e.        Menghimpun peran serta semua pihak dalm mencerdaskan masyarakat melalui buku dan minat baca.
Dari data yang diperoleh, Taman Bacaan Mata Aksara ini berdiri berawal dari perpustakaan pribadi keluarga Nuradi Indra Wijaya. Buku-bukunya telah dikoleksi sejak tahun 2002 yang sebagian besar berupa buku anak-anak dan novel. Sudah menjadi kebiasaan sejak awal bahwa jadwal jalan-jalan keluarga Nuradi selalu menjadikan toko buku sebagai tujuan utama. Buku yang telah banyak mulai ditata dan dihitung buku pada tahun 2009. Barulah kemudiaan tersadar bahwa koleksi sudah mencapai 600 (enam ratus) eksemplar buku.
Diawali dari keprihatinan terhadap materi bacaan anak-anak, diiringi keinginan untuk berbagi bacaan bermutu, serta mengoptimalkan fungsi perpustakaan, maka pada tanggal 9 Juli 2010 Mata Aksara resmi didirikan. Diawali dengan satu langkah kecil, Mata Aksara bertujuan untuk memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat. Dengan keyakinan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa terbaik untuk pembentukan kebiasaan membaca, Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara ingin menjadi mitra bagi anak-anak dan sekolah untuk mewujudkannya. Dengan keyakinan bahwa setiap orang selalu punya kesadaran berbagi, Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara ingin menjadi mitra bagi masyarakat untuk bersama-sama menebar kebaikan bersama buku.
Mata Aksara mempunyai dua unsur kata yaitu Mata dan Aksara. Masing-masing kata mempunyai makna yang berbeda. Mata adalah alat untuk melihat. Melihat yang dimaksud disini adalah dengan indra mata maupun dengan mata hati. Aksara adalah unsur penyusun kata. Rangkaian aksara yang membentuk makna. Tidak sekedar aksara alphabeth pembentuk kata, aksara yang dimaksud termasuk segala ciptaan Tuhan yang harus dicari maknanya. Keberadaan Mata Aksara dimaksudkan untuk membantu setiap orang untuk memahami segala ciptaan Tuhan sebagai aksara yang tersirat, dan memahami buku dan ilmu sebagai aksara yang tersurat melalui mata hati dan indra mata. Dalam perjalanannya, sesuai dengan data dalam dokumentasi TBM Mata Aksara tahun 2014, Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara semakin menunjukkan eksitensinya  sebagai alternatif tempat belajar masyarakat.
Pelayananan di TBM Mata Aksara terkadang dibantu oleh ibu Siti Adiyanti atau yang akrab di sapa Mbak Dian. Beliau adalah kader BKB di desa Tegalmanding yang turut serta ikut membantu operasional di TBM Mata Aksara. Dari analisi data diatas, dapat diuraikan bahwa peran TBM dalam menerapkan rekayasa budaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yoyakarta sebagai sebuah keistimewaan Yogyakarta, dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.       TBM Cakruk Pintar
Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada pemustaka mengenai informasi tentang informasi dari pemustaka tentang peran TBM Cakruk Pintar dan manfaat bagi kehidupannya  dan informasi dari pemustaka tentang kendala yang dirasakan di TBM kehidupannya, bahwa seorang pemustaka bernama Poniati (42 th/P) menceritakan bahwa adanya Cakruk Pintar membawa berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar, terutama bagi dirinya Ia menuturkan bahwa ia pernah mengikuti kegiatan pelatihan membuat kelepon yang diadakan di TM Cakruk Pintar. Berkat pelatihan tersebut, ia dapat menambah pemasukannya untuk kebutuhan keluarga dengan berjualan kelepon yang dititipkan di beberapa warung. Lain halnya dengan Rezda (10 th L), ia menjelaskan bahwa banyak hal yang didapatkan di TBM Cakruk Pintar, selain bukunya menarik untuk dibaca, Cakruk Pintar juga kerap mengadakan kegiatan bagi anak-anak, misalnya dalam kepenulisan, dan jalan santai, dan beberapa kegiatan lain. Ia bercerita bahwa bersama temannya, ia selalu antusias mengikuti kegiatan-kegiatan di Cakruk Pintar. Ia juga bercerita bahwa terkadang ada lomba-lomba dan pengenalan budaya, misalnya wayang dan mendongeng bareng di Cakruk Pintar. tidak hanya itu, mereka juga diajak untuk menyumbangkan buku bekas yang masih layak baca untuk disumbangkan ke Cakruk Pintar. Annas (22 th/ L) mengutarakan bahwa ia banyak menemukan gagasan baru di Cakruk Pintar. Selain ada buku-buku bacaan, tempatnya juga enak, asri dan sejuk. Sangat sesuai dijadikan untuk tempat nongkrong dan mencari ide-ide segar. Ia pernah mengikuti kegiatan diskuis di Cakruk Pintar. Ia bercerita bahwa waktu itu ia berdiskusi bersama para mahasiswa bule-bule terkait perbedaan budaya antara di Indonesia, terutama Yogyakarta dengan tempat asal mereka di luar negeri.  Selain itu, ia juga pernah mengikuti kegiatan shalawatan tetapi di dalamnya disisipi dengan kiat-kiat untuk memulai usaha (dzikirpreneurship). Dan ia merasa bahwa ada banyak hal yang ia dapatkan dari Cakruk Pintar.
Umamah (26 th/ P) ia menuturkan bahwa keberadaan Cakruk Pintar seakan menjadi rumah kedua baginya. Ia menjelaskan bahwa di Cakruk suasananya menyenangkan dan sejuk. Dari sini, ia pernah mengikuti kegiatan pelatihan kesenian origami. Cakruk Pintar menjadi ruang negosiasi bagi dia di mana dia dapat mengenal banyak orang.
Dari hasil analisis di lapangan, sistem pengelolaan TBM Cakruk Pintar didesain sedemikian fleksibel dengan masyarakat. Misalnya jam buka TBM yang 24 jam. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah masyarakat untuk memanfaatkan TBM tersebut. Dengan dibuka 24 jam, juga memberikan kesempatan bagi mereka yang tidak mempunyai waktu di siang hari karena bekerja sampai sore bahkan malam. Tidak hanya itu, jika ada orang yang ingin meminjam buku juga cukup menuliskan nama dan buku yang akan dipinjam serta tanggal berapa buku tersebut ingin dikembalikan. TBM Cakruk Pintar menerapkan sistem kejujuran atau kepercayaan bagi masyarakatnya. Hanya saja, secara berkala pengelola Cakruk Pintar melakukan pemantauan, jika ada buku yang sudah lama belum dikembalikan, maka akan ditanyakan kepada yang bersangkutan. Sistem denda pun tidak ada di TBM Cakruk Pintar, siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua boleh datang ke Cakruk Pintar. Tidak ada ketentuan harus memakai pakaiaan apa, yang terpenting sopan bagi warga di tempat tersebut. Baik memakai sarung, celana pendek, dan lainnya.
            Hingga kini, ada beberapa penghargaan yang diperoleh TBM Cakruk Pintar. Di antaranya adalah pada tahun 2009 terpilih sebagai tempat yang siap dikunjungi oleh peserta tamu dari 33 provinsi. Kemudian pada tahun 2010 TBM Cakruk Pintar mendapat juara 2 Jambore tingkat Provinsi DIY, dan kemudian di tahun yang sama pula, 2010, TBM Cakruk Pintar mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai TBM kreatif dan rekreatif yang penghargaanya diserahkan secara langsung oleh Bapak Menteri pada saat itu.
            Ada beberapa program yang sudah dilakukan di TBM Cakruk Pintar. Paling tidak meliputi Peningkatan Budaya Baca, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan masyarakat melalui program Tri Daya.
            Untuk pelestarian budaya lokal, ada beberapa budaya lokal yang dilestarikan, yaitu tari-tarian dan permainan tradisional yang kini keduanya mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang. Adapun jenis tari yang dilestarikan adalah Tari Bondan dan Tari Gejog Lesung. Sementara untuk permainan tradisional adalah theklek, egrang, dakon, wayang, dan lainnya. Secara berkala, Cakruk Pintar mengadakan event untuk nguri-nguri budaya lokal tersebut. Adapun sasarannya lebih banyak kepada anak-anak. Pasalnya, anak-anak tersebut lah yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa. Sebagai bangsa yang besar, anak-anak tersebut harus tahu dan memegang terus budaya-budaya lokal yang mereka miliki di setiap daerah.
            Kemudian, untuk peningkatan budaya baca tulis, TBM Cakruk Pintar tidak hanya menyediakan bahan bacaan saja, tetapi juga melakukan beragam kegiatan untuk merangsang minat baca masyarakat. Dalam hal ini, strategi yang dipakai adalah dengan mendekatkan masyarakat kepada TBM. Adapun cara mendekatkannya dengan melibatkan para warga dalam setiap kegiatan. Misalnya adalah pemilihan kepala desa diselenggarakan di TBM Cakruk Pintar serta dilengkapi dengan adanya doorprize. Dengan demikian, para masyarakat semangat untuk datang ke Cakruk Pintar. Ketika masyarakat sudah akrab dan sering datang ke Cakruk Pintar, lama kelamaan mereka akan bersentuhan dengan buku-buku bacaan. Sehingga ada sebuah rangsangan untuk membaca buku.
            Selain itu, TBM Cakruk Pintar juga aktif mengadakan beberapa event menulis. Misalnya adalah menulis mimpi bagi para anak-anak. Dalam kesempatan ini, anak-anak diajak untuk menuliskan apa mimpi mereka, baik mimpi dalam artian cita-cita, maupun mimpi dalam artian mimpi ketika mereka tidur. Selain menulis mimpi, ada juga event “bengkel menulis” bagi para guru. Para guru diajak untuk belajar dan mengembangkan skillnya dalam dunai kepenulisan. Selain program-program tersebut, masih banyak lagi kegiatan yang ada di Cakruk Pintar, misalnya jalan sehat.
            Selanjutnya, TBM Cakruk Pintar juga mempunyai program pemberdayaan masyarakat melalui konsep Tri Daya yang meliputi pemberdayaan lingkungan, pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM), dan pemberdayaan ekonomi. Melalui program Tri Daya ini, TBM Cakruk Pintar menegaskan fungsinya tidak sekedar sebagai tempat atau sarana baca saja, tetapi juga sarana untuk menigkatkan kualitas lingkungan, kualitas SDM, dan kualitas ekonomi masyarakat. TBM Cakruk Pintar mempunyai 9 kolam ikan yang dikelola oleh masyarakat sekitar di mana hasilnya diperuntukkan bagi masyarakat dan operasional Cakruk Pintar.
            Selain itu, TBM Cakruk Pintar juga pernah melakukan pendampingan kepada ibu-ibu di sekitar Cakruk Pintar untuk membuat jajanan pasar, misalnya kelepon dan beberapa jajanan lainnya. Dari kegiatan ini, ternyata ada beberapa masyarakat yang sebelumnya tidak mempunyai usaha, kini telag mempunyai usaha tambahan dengan membuat jajanan pasar sehingga mampu membantu perekonomian keluarga.
            Untuk perkembangan minat baca di TBM Ckruk Pintar, tidak dapat diukur secara kualitatif. Hanya saja, ada beberapa indikator yang menggembirakan. Misalnya, banyak anak-anak yang sepulang dari sekolah dan belum sampai di rumah mereka mampir dulu ke Cakruk Pintar untuk meminjam buku. Bahkan, kadang mereka keasyikan bermain di Cakruk Pintar. Selain itu, di kala pagi, ada warga yang sambil momong cucunya sembari membaca buku di Cakruk Pintar. Dari sini bisa dilihat bahwa masyarakat kiranya sudah dekat dengan buku.
            Terkait keistimewaan Yogyakarta, Muhsin Kalida sebagai pengelola TBM Cakruk Pintar mengemukakan bahwa TBM menempati posisi strategis dalam pelestarian budaya. Pada dasarnya, budaya lokal, misalnya permainan tradisional, mempunyai nilai-nilai edukatif yang sangat tinggi. Kalaupun hingga sekarang masih ada yang tidak mau melestarikan budaya, berarti dia belum menemukan nilai-nilai edukatif atau nilai manfaat di dalamnya. Padahal, budaya lokal dan permainan tradisional adalah salah satu bagian terpenting dalam konteks keistimewaan Yogyakarta.
            Melalui TBM Cakruk Pintar ini pula tidak hanya memperkuat keistimewaan Yogyakarta dalam bidang budaya, tetapi juga pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa laju pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Melalui TBM ini, menjadi sarana efektif untuk meningkatkan laju pendidikan dengan pendidikan formal melalui TBM. Antara pemerintah dan TBM harus saling menguatkan. Jika TBM kuat, tetapi pemerintah lemah, maka tidak akan terjadi sinergi yang baik. Demikian halnya ketika pemerintah kuat akan tetapi TBMnya yang lemah. Misalnya ketika pemerintah getol memberikan pendampingan dan bantuan secara operasional, maka dari pihak TBM pun harus kuat secara manajemen dan kapasitas SDM.
b.      TBM Luru Ilmu
Peran TBM Luru Ilmu ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Hasil wawancara dengan pengunjung TBM Luru Ilmu dapat disimpulkan bahwa TBM Luru Ilmu memiliki manfaat untuk menambah pengetahuan. Untuk refreshing ketika di rumah bosan, dan juga dapat mengasah pikiran. “Biasanya sih, baca-baca buku masak. Nanti bisa di praktekan di rumah” kata seorang pengunjung. “Baca buku kan biar pikirannya tidak tumpul, mbak. Saya kan berhenti kuliah jadi ibu rumah tangga, jadi kalo pas nganter anak paud gini sambil baca-baca dan pinjam buku biar mengasah pikiran” kata Bu Vita.
TBM Luru Ilmu ini menjadi TBM yang diminati oleh pemustaka masyarakat sekitarnya. Untuk menjadi TBM yang diminati, dibutuhkan pengelolaan yang baik. Dari hasil wawancara dengan pengeola TBM Luru Ilmu, Bapak Saiful dan Ibu Erna. Mereka menjelaskan untuk manajemen pengelolaan di TBM luru ilmu ini dikelola oleh mereka sendiri dan terkadang mengikut sertakan saudara dan pemuda-pemuda dusun.
Setiap buku yang datang ke TBM baik dari Bantuan ataupun hibah, biasanya mereka memilah dan memilih buku yang layak dan tidak, kemudian mengambil beberapa eksemplar saja jika jumlah buku dengan judul yang sama banyak.
Tujuh tahun bersama masyarakat Dusun Gresik, TBM Luru Ilmu telah mampu memberikan warna baru dalam kehidupan warga sekitar. Adanya penyediaan buku bacaan ringan maupun buku pelajaran untuk anak-anak usia sekolah dasar, menjadi daya tarik untuk mengunjungi TBM Luru Ilmu. Anak-anak yang biasanya bermain, setelah mereka pulang dari sekolah, lebih memilih untuk berkunjung ke TBM untuk membaca buku. Setiap harinya tidak kurang dari dua puluh orang datang ke TBM Luru Ilmu untuk meminjam dan membaca buku di perpustakaan. Layanan peminjaman buku sangatlah mudah untuk diakses oleh masyarakat mulai dari anak-anak hingga orangtua. Upaya pengelola memberikan kesempatan masyarakat agar lebih dekat dengan lingkungan perpustakaan terus dilakukan. Salah satunya dengan pelayanan peminjaman buku mandiri. Dimana peminjam langsung dapat memilih hingga mencatat buku yang dipinjam, sebutlah di antaranya Ane, Keke, Tami dan Andika yang datang untuk meminjam buku sekaligus mencatatkan dirinya sebagai peminjam.
Adapun sumber daya manusia di TBM Luru Ilmu adalah pengelola sendiri, Bapak Saiful dan Ibu Erna. Relawan dari mahasiswa yang akan penelitian skripsi juga membantu di TBM Luru Ilmu. Dari hasil wawancara, pak Saiful mengatakan bahwa, jika ada pelatihan atau seminar-seminar tentang TBM, beliau menyuruh istri, Kakak atau pemuda untuk mewakilinya menghadiri acara tersebut. Ini bertujuan untuk kaderisasi. Karena menurut pak Saiful bahwa sebuah sistem lebih penting dari pda Tokohnya, ini berarti apabila Tokoh atau yang mendirikan TBM itu lebih baik dari pada sistemnya, maka ketika tokohnya roboh maka TBM nya juga akan roboh. Tetapi ketika sistemnya lebih baik, maka apabila tokohnya sudah tidak adapun TBM akan terus berjalan.
Ketika peneliti menanyakan soal anggaran di TBM Luru Ilmu, Pak Saiful menjelaskan bahwa semua anggaran untuk koleksi buku di Luru Ilmu ia dapatkan sendiri. Mulai dari mengirim proposal ke penerbit-penerbit, mengirim permintaan buku ke surat kabar, bantuan dari Perpustakaan Daerah dan uang dari kantong pribadi.
Dari hasil wawancara, bahwa sebenarnya TBM Luru Ilmu mendapatkan SK dari kelurahan, tetapi untuk anggaran berupa uang dari pemerintah secara berkala maupun intensif sama sekali belum pernah ada. bapak Saiful sendiri tidak mau bergantung pada pemerintah, beliau menyatakan bahwa TBM ini lebih bergantung pada masyarakat sekitar karena tanpa masyarakat sekitar yang mendukung TBM ini tidak akan maju berkembang sepeti sekarang ini. Beliau mengatakan juga bahwa pernah dijanjikan oleh pemerintah daerah akan dibangunkan gedung untuk TBMLuruh Ilmu, namun sampai sekarang belum ada realisasinya.
Peran dari TBM Luru Ilmu adalah sebagai tempat belajar/ pembelajaran bagi anak-anak,sebagai tempat hiburan atau wisata, sebagai sumber inspirasi masyarakat, sebagai pusat informasi masyarakat. Model integrasi antara perpustakaan dan pendidikan anak usia dini (PAUD) juga terlihat berbeda di Luru Ilmu ini. Adanya perpustakaan yang terpadu dengan KB Zeny Zulfy mampu memberikan pembelajaran kepada anak tentang cinta baca. Dimulai dari anak usia dini, pengenalan budaya cinta baca dapat dilakukan guru maupun orangtua. Termasuk dalam pelestarian budaya local mengenai tari-tarian tradisional, secara rutin juga diberikan pelatihan kepada anak-anak.
Respon positif masyarakat terhadap adanya TBM Luru Ilmu, tak menghentikan langkah Pakdhe Saiful, sapaan akrab Saiful Hadi dan pengelola lainnya untuk mengembangkan model layanan yang lebih menarik. “Motor Pintar” menjadi media yang kreatif untuk mengenalkan budaya baca.
Adanya motor pintar juga mempermudah pengelola TBM Luru Ilmu untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari Dusun Gresik. Luasnya daerah yang telah dijangkau oleh layanan perpustakaan keliling ini memberikan timbal balik bagi lembaga yakni dikenalnya TBM Luru Ilmu oleh masyarakat luas.
Dari sumber Hamemayu Edisi 4 September 2013, dijelaskan juga bahwa keberadaan lembaga pelayanan literasi menjadi penting di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kian dinamis. Pengenalan budaya cinta baca menjadi contoh yang inspiratif mengurangi dampak negatif perubahan zaman. Perubahan pola belajar dan komunikasi yang praktis menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola perpustakaan untuk terus menciptakan inovasi dalam melayani  masyarakat.
c.       TBM Mata Aksara
Wawancara kemudian dilanjutkan kepada Bapak Nuradi dan menghasilkan informasi mengenai ciri khas TBM Mata Aksara. Nuradi mengungkapkan bahwa yang menjadi ciri khas dari TBM Mata Aksara adalah adanya program “Dari Buku Menjadi Karya”. Kegiatan tersebut dilakukan agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk masyarakat, Selain itu, dengan adanya kegiatan terrsebut diharapkan masyarakat lebih dekat dekat dengan buku, juga mengenal TBM sebagai sumber informasi dan hasil praktik dari buku tersebut dapat membantu meningkatakan taraf hidup masyarakat.
TBM Mata Aksara ini di bina langsung oleh Kantor Perpustakaan Kab. Sleman, adapun bentuk pembinaanya berupa pendampingan kegiatan, pelatihan dan juga adanya insentif untuk pengelola sebesar 900.000/tahun. Anggaran dana tersebut selanjutnya oleh pengelola digunakan untuk menambah sumber dana untuk kegiatan yang ada di Mata Aksara. Pemerintah DIY (BPAD) secara khusus tidak memberikan memberikan bantuan dana, namun dari BPAD DIY pernah memberikan bantuan berupa dua set rak buku kepada TBM Mata Aksara.
Harapan Pengelola TBM terkait dengan keisteimewaan Yogyakarta diungkapkan oleh Ibu Heni bahwa dengan keistimewaan yogyakarta pengelola TBM lebih di perhatikan. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di TBM juga mendapatkan dukungan dari pemerintah. Selama ini kegiatan tentang budaya yang dilakukan di TBM Mata Aksara sudah cukup banyak seperti aneka macam dolanan anak dan membatik. Namun selanjutnya bagaimana agar tradisi tersebut tidak hanya di laksanakan, tetapi juga bagaimana caranya agar berbagai macam kegiatan lokal/budaya tersebut dapat disimpan dalam sebuah karya dalam bentuk tulisan, sehingga nantinya di budaya tersebut tidak luntur karena hanya diwariskan melalui tradisi lisan. Heni juga menambahkan bahwa nantinya dengan adanya Dana Keistimewaa Yogyakarta ia mendapatkan bantuan 1 set gamelan yang nantinya dapat digunakakan untuk menumbuhkembangkan tradisi musik jawa dan tembang jawa.
Pengembangan Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara juga merambah kepada pengembangan program yaitu mengembangkan jangkauan pelayanan Mata Aksara melalui motor keliling ke semua kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman dan DIY. Dalam konteks keistimewaan adalah menyelenggarakan wahana praktik perikanan dan pertanian sebagai rintisan unit usaha yang merupakan optimalisasi sentra perikanan lele dan pembangunan sentra pertanian vertikultur. Disaming itu juga, melakukan pembuatan mug atau pin bergambar dan menambah alat permainan tradisional. Rumah pohon juga menjadi ciri khas TBM Mata Aksara ini. Rumah pohon difungsikan untuk menarik minat pemustaka untuk naik ke rumah yang ada di atas pohon dan membaca di rumah tersebut.
Mendukung progam kegiatan yang akan dilaksanakan, saat ini pengembagan fisik yang sedang dilaksanakan di Mata Aksara adalah: membuat kolam lele, dengan ukurang 2 x 0,5 m; membuat rumah bambu/ para-para untuk pertanian veltikulture; dan menyiapkan wahana bermain berupa jembatan tali dan membuat tempat duduk di ruang-ruang. Kegiatan lain yang dilaksanakan terkait dengan pengembangan SDM adalah mengadakan pertemuan rutin evaluasi penyelenggaraan TBM, menyelenggarakan pelatihan internal penyelenggaraan ice breaking, mengikutsertakan pengelola TBM dalam kegiatan pengelolaan TBM yang diselenggarakan oleh Mitra Mata Aksara dan menyelenggarakan studi banding ke TBM lain yang berada di sekitar Yogyakarta dan di luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Mata Aksara juga melakukan kerjasama dengan pihak lain, antara lain dengan media massa, forum TBM tingkat kabupaten dan Propinsi serta menjalin kerjasama dengan organisasi mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan perpustakaan daerah kabupaten dan propinsi, dinas pendidikan kabupaten dan propinsi serta pihak lain yang bisa diajak bekerjasama.
Dari data dokumentasi yang ada dan hasil wawancara dengan pengelolan Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara, dalam kurun waktu terkini, TBM Mata Aksara mempunyai beberapa pernghargaan antara lain: Anugerah TBM Kreatif Rekreatif tingkat Nasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2012; Pustaka Bhakti Tama dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY atas nama Heni Wardatur Rohmah tahun 2012; Juara II Apresiasi PTK-PNFI Daerah Istimewa Yogyakarta, Balai Pengembangan Kegiatan Belajar DIY tahun 2013; Juara I Lomba bercerita Tingkat SD/ MI se-DIY atas nama Syakira Divany Wijaya, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY tahun 2013; Finalis Lomba Menulis Cerita Barbahasa jawa se-DIY atas nama Dewi Rukmini, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY tahun 2013.
Adapun kendala yang dihadapi TBM dalam perannya melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta, sebagai berikut:
a.       TBM Cakruk Pintar
Dari hasil wawacara dan observasi di TBM Cakruk Pintar, beberapa pemustaka menceritakan tentang kendala-kendala terkait dengan peran TBM dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal, seperti yang disampaikan oleh Poniati (42 th/P) menuturkan bahwa kendala utama bagi dirinya adalah minimnya waktu sehingga ia terkadang melewatkan beragam pelatihan yang diadakan di Cakruk Pintar. Selain itu, karena mempunyai tingkat penglihatan yang kurang, jadi ia mengalami kendala ketika ingin membaca buku. Rezda (10 th/ L), ia mengutarakan bahwa buku-buku anak kurang banyak karena sudah habis dibaca. Harus ada penambahan buku baru untuk anak-anak biar anak-anak rajin datang ke cakruk pintar. Annas (22 th/ L) ia mengutarakan bahwa buku-buku perkuliahan di TBM Cakruk Pintar masih minim, kebanyakan adalah buku pengembangan skill, motivasi dan buku-buku teknis. Selain itu, terkadang buku yang dicari tidak ditemukan. Belum adanya sarana temu kembali informasi, misalnya automasi, menjadi pencarian buku harus manual. Bambang (35 th/L) ia menuturkan bahwa kebanyakan kegiatan pelatihan yang ada di Cakruk Pintar dilaksanakan di siang hari, jadi ia tidak bisa mengikutinya. Sementara Umamah (26 th/ P) mengutarakan bahwa kendala yang dialami hanya ketika ada event budaya, ia jarang mendapatkan informasi karena tidak mengakses di jejaring sosial, jadi sering tidak tahu kalo ada event-event.
            Dari perspektif pengelola TBM Cakruk Pintar, dirasakan ada kendala terkait dengan kebijakan dan peran pemerintah. Dikatakan oleh Muhsin Khaleda bahwa  hingga kini peran pemerintah belum begitu dirasakan dalam bidang budaya. Memang untuk apresiasi pemerintah terhadap TBM yang kreatif sudah ada, hanya saja belum dalam bidang budaya. Dalam hal ini, paling tidak ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah. Pertama, pemerintah harus melakukan pembinaan budaya di TBM-TBM. Kedua, Pemerintah bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan budaya. Ketiga, pemerintah harus terus menggali budaya lokal saat ini yang mulai terkikis oleh budaya global. Misalnya, pada saat belum ada TV, masyarakat masih sangat dekat dengan budaya-budaya lokal, hanya saja setelah ada TV, masyarakat mulai beralih perhatian dan minatnya. Keempat, Pemerintah harus bersinergi kepada pihak-pihak yang memiliki kekuatan (power) dalam bidang pelestarian budaya, salah satunya melalui TBM.

b.      TBM Luru Ilmu
Dalam penyelenggaraan, TBM Luru Ilmu juga mengalami berbagai kendala. Kendala yang dihadapi adalah, jarak rumah yang jauh dengan TBM, waktu dan kurangnya minat baca. Untuk kendala di TBM nya menurut salah seorang pengunjung, kurang tertatanya koleksi di TBM, harus memilih sendiri buku-buku di TBM yang sesuai dengan kebutuhan dengan waktu yang lama. Salah satu kendala yang dihadapi oleh TBM Luru Ilmu adalah menumbuhkan budaya baca. Disadari oleh Pak Syaiful bahwa buku merupakan jendela informasi dunia. Menumbuhkan minat baca masyarakat dekade ini tidaklah mudah, apalagi di daerah-daerah pedesaan. Pimpinan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Luru Ilmu, Syaiful Hadi memaparkan, taman bacaan yang dirintis sejak 2009 itu, semata-mata hanya untuk membantu masyarakat di semua kalangan supaya dapat mengakses informasi dengan mudah. Dengan bertambah informasi otomatis dapat merubah pola pikir masyarakat terutama di daerah pedesaan. Hal itu peneliti telusuri dari sumber jogjakartanews.com, dimana Pak Syaiful memaparkan informasi tersebut kepada wartawan pada hari Minggu, 01 Desember 2013, yaitu "Selain buku-buku dan koran, TBM juga sudah dipasang internet, semua gratis untuk masyarakat,". Melalui usahanya itu, Syaiful 3 kali mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, Muhammad Nuh. Selain itu, dia juga dinobatkan sebagai Tokoh Penggerak Baca Nasional oleh Perpustakaan Nasional Jakarta. "Tantangan yang terpenting sekarang adalah dapat mengubah pola pikir masyarakat, lewat budaya gemar membaca di  TBM Luru Ilmu, Sumbermulyo, Bantul.”Akan tetapi, Syaiful menilai minat baca masyarakat dirasa masih kurang, terutama untuk kalangan dewasa dan orang tua.
Budaya baca di TBM dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan di TBM. Kegiatan ini dimaksudkan untuk merangsang minat baca bagi anak dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan ikut menyelenggarakan world book day. (bukti kegiatan foto di folder Budaya dan budaya baca). Untuk masyarakat disana minat baca cukup baik, terutama untuk anak-anaknya. Di TBM Luru Ilmu juga menyediakan papan Koran dan banyak di minati oleh masyarakat sekitar.
Yang menjadi ciri khas dari TBM Luru Ilmu adalah TBM yang Mandiri, tidak bergantung pada pihak manapun, kegiatan-kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, dan letak yang strategis karena terdapat masjid dan PAUD. Bangunan yang unik, terdapat taman bermain dan patung-patung dari ukiran batu. Ini yang membuat orang-orang penasaran, tertarik dan betah di TBM Luru ILmu.
Untuk prestasi yang disebutkan dalam buku Jogja TBM Kreatif pada halaman 55. TBM Luru Ilmu mendapatkan 3 penghargaan sepanjang 2011. Untuk tahun 2012 hingga sekarang tidak ada prestasi ataupun penghargaan, dari hasil wawancara, Pak Saiful sebagai pengelola TBM mengemukakan bahwa TBM nya tidak akan mengikuti Perlombaan karena Beliau menginginkan kader dan memberi kesempatan TBM-TBM lain.
Pengelola TBM Luru Ilmu ini juga berharap peran Pemerintah lebih di perbaiki, karena kegiatan ataupun pelatihan bagi TBM hanya seperti itu saja, monoton dan tidak berkembang. Bapak Saiful juga berharap untuk ada monitoring langsung saja dari pusat. Sudah sering beliau mengirim kritikan ke pemerintah daerah maupun DIY untuk masa depan TBM, namun tidak ada respon.
Adapun menyangkut peran TBM dalam melestarikan budaya lokal DIY, peran nya adalah ikut menjaga dan melestarikan budaya lokal dengan cara mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan budaya lokal. Juga menyediakan koleksi-koleksi dengan konten budaya lokal.

c.       TBM Mata Aksara
Berbeda dengan TBM Cakruk Pintar, TBM Mata Aksara mempunyai kendala tersendiri dalam pengelolaan TBM nya, baik kendala yang dihadapi oleh pemustakanya maupun kendala yang dihadapi oleh pengelolanya.
Dalam penelitian ini, dijelaskan pemustaka yang dapat di temui untuk wawancara ada 4 orang. Yakni Ibu Dian (Ibu Rumah Tangga), Alza (Pelajar SMP),  Angga (Pelajar SMP) dan Dita (SD). Berdasarkan wawancara dengan pemustaka yang mengunjungi TBM mata Aksara, didapatkan informasi yang menyebutkan bahwa yang menjadi kendala mereka untuk mengakses TBM mata Aksara adalah minimnya pengelola. Alza dan Angga adalah pelajar SMP kelas VIII. Mereka sudah menjadi pengguna aktif sejak kelas IV SD. Biasanya mereka mendapatkan informasi mengenai kegiatan TBM melalui jejaring sosial, Facebook. Mereka  mengungkapkan, ketika ia sedang liburan sekolah ia sering mengunjungi TBM mata Aksara untuk meminjam buku, belajar kelompok, belajar main musik (gitar) juga terkadang sengaja mengunjungi Mata Aksara untuk mencari referensi buku yang menunjang pelajaran di sekolahnya. Menurut mereka keberadaan TBM Mata Aksara sangat bermanfaat bagi mereka. Dengan adanya TBM tersebut mereka merasa leluasa untuk mendapatkan bahan bacaan untuk menambah wawasan dan juga sebagai sumber belajar. Hal yang disayangkan oleh Angga adalah, ketika ia datang ke TBM Mata Aksara terkadang harus pulang dengan tangan hampa karena pintu terkunci saat pengelola sedang ada tugas/kegiatan diluar kota. Ibu Dian adalah ibu rumah tangga. Beliau juga seorang kader BKP di desa Tegamanding. Beliau menjadi anggota TBM selama 2 tahun terakhir. Ibu dari dua anak ini mengungkapkan bahwa TBM mata aksara memiliki berperan penting dalam kehidupannya. Dengan adanya TBM mata aksara, ia bisa mendapatkan buku-buku untuk menunjang pendidikan anaknya. Selain itu a juga dapat memenuhi kebutuhan informasi untuk anakanya, karena koleksi buku anak-anak yang ada di TBM mata Aksara cukup banyak. Menurut Ibu Dian kegiatan yang dilakukan di TBM mata Aksara ini juga menunjang kehidupannya dalam hal ekonomi keluarga. Di TBM Mata Aksara sering di adakan kegiatan pelatihan bagi ibu-ibu seperti membuat kue, membuat bros dari kain perca/flanel yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sedangkan kendala yang dihadapi pun sama yakni minimnya pengelola TBM Mata Aksara untuk memberikan pelayanan. Dita adalah pelajar SD berusia 10 tahun. Dita mengungkapkan bahwa ia sangat senang ketika mengunjungi TBM Mata Aksara karena ia dapat meminjam buku anak-anak yang tidak bisa di dapatkannya di sekolah. Biasanya ia mengunjungi TBM Mata Aksara dengan diantarkan oleh Ibunya. Terkadang ibunya juga mengikuti kegiatan di TBM Mata Aksara. Sedangkan kendala yang dihadapi adalah terkadang ia sulit untuk mendapatkan informasi tentang jam pelayanan di TBM, karena rumahnya juga cukup jauh. Terkadang ia sudah datang ke TBM, tapi ternyata sedang tutup.
Dari perspektif pengelola, dapat dijelaskan bahwa berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada Sabtu, 15 November 2014 kepada pihak pengelola TBM Mata Aksara yakni Ibu Heni dan Bapak Nuradi, kendala yang dihadapi adalah minimnya SDM untuk mengelola. Minimnya pengelola tersebut berdampak pada pelayanan, yang mana ketika pihak pengelola sedang tidak ada di rumah atau sedang ada tugas keluar kota, kondisi taman bacaan kosong sehingga terkadang pelayanannya menjadi terhambat. Selain itu, Nuradi juga mengungkapakan bahwa yang disayangkan adalah, ketika ada mahasiswa sedang meneliti di TBM tersebut, diharapakan terus ikut berpartispasi untuk ikut mengelola TBM, tidak hanya datang kemudian penelitian, ambil data dan ketika penelitian sudah selesai tidak ada ketertarikan untuk menjadi voulenteer atau turut serta membantu pengelolaan TBM Mata Aksara.
E.     Diskusi dan Rekomendasi
Dari hasil olah data dan pembahasan peran TBM dalam menerapkan rekayasa budaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta sebagai sebuah keistimewaan Yogyakarta , dapat dilihat bahwa ketiga TBM, baik TBM Luru Ilmu, TBM Cakruk Pintar dan TBM Mata Aksara mempunyai peran yang sangat signifikan di dalam memberikan kontribusinya dalam penerapan rekayasa budaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal, terutama pada masyarakat sekitar TBM tersebut yang menjadi pemustaka aktif di TBM-TBM yang ada. Di TBM Mata Aksara misalnya, Taman Bacaan Masyarakat Tegal manding Yogyakarta, yang lekat dikenal dengan rumah pohon mata aksara, disamping menjadi pusat pinjam meminjam koleksi, maka berperan juga sebagai tempat pengembangan minat baca dengan progam-program yang dimiliki oleh Mata Aksara diantaranya yaitu praktek buku menjadi karya, batik bareng, Sekolah Menulis Mata Aksara, Sekolah Mitra Mata Aksara dan motor keliling. Selain itu,  juga sebagai tempat pengenalan dan pelestarian budaya dengan progam membatik, tembang dolanan, dan melestarikan permainan tradisional, yang sangat kental dengan prinsip keistimewaan Yogyakarta, dan berperan sebagai tempat magang dan KKN bagi para pemuda maupun mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuannya khususnya di bidang perpustakaan dan masyarakat. Intinya, TBM Mata Aksara mampu menjadi tempat sumber informasi masyarakat yang menyediakan kebutuhan informasi masyarakat di sekitarnya.
Tidak kalah di TBM Cakruk Pintar, dengan moto “datang menyenangkan, pergi dirindukan”, maka TBM Cakruk Pintar yang khas dengan cakruk, hansip, kenthongan dan jimpitan ini memegang peranan penting di masyarakat. TBM Cakruk Pintar mengembangkan budaya baca dan budaya tulis bagi para pemustakanya. Kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan TBM Cakruk Pintar yang mendapatkan apresiasi dari masyarakat adalah membaca dan jalan sehat, lomba nangkap lele, nonton bareng, mendongeng, menulis mimpi, bengkel menulis, training life skills, pentas seni, dzikir entrepreneur. Dengan mengungkapkan dan mengeksplorasi budaya-budaya lokal yang ada, ketiga TBM ini mampu membuat masyarakat sekitar menjadi lebih berdaya guna.


F.     PENUTUP
1.      Simpulan
Dari hasil survey lapangan, pengolahan data didasarkan ada sumber dan dokumentasi serta hasil observasi, maka dapat disimpulkan bahwa:
a.       TBM Luru Ilmu, TBM Cakruk Pintar dan TBM Mata Aksara memegang peran kunci dalam menerapkan rekayasa budaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta sebagai sebuah keistimewaan Yogyakarta. Hal itu terlihat dalam kegiatan dan program kerja yang dilaksanakan di TBM-BM tersebut, mengandung unsur kearifan lokal yang terkandung dalam masyarakat muslim di Yogyakarta. Contoh yang diimplementasikan adalah pelestarian dolanan tradisional, pembuatan kue yang didasarkan pada panduan dalam buku, tersedianya koleksi local conten.
b.      Kendala-kendala yang muncul yang dihadapi TBM dalam perannya melestarikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat muslim di Yogyakarta adalah pengelolaan TBM, peningkatan budaya baca, minimnya sumber daya masyarakat, dan system layanan yang diberlakukan di TBM.
c.       Rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian yang di lakukan di TBM Luru Ilmu, TBM Cakruk Pintar dan TBM Mata Aksara adalah adanya peran pemerintah yang lebih aktif lagi dalam pembinaan penyelenggaraan TBM, terkait dengan sumber daya manusia yang bisa mengelola TBM. Adanya juga sosialisasi yang intens mengenai konsep keistimewaan Yogyakarta sehingga TBM bisa menyesuaikan lagi dalam mengimplementasikan program-program kegiatannya.

2.      Kontribusi
Hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap peran Taman Bacaan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa betapa TBM-TBM yang ada memberikan peran penting dan memberikan warna bagi keistimewaan yang selama ini diusung Yogyakarta. Disamping itu, penelitian ini memberi kontribusi terhadap kepekaan pemerintah dan instansi perpustakaan terkait untuk lebih bisa menyediakan anggaran untuk penyelenggaraan TBM yang ada di DIY dan memberikan pendampingan-pendampingan dalam pengelolaan Taman bacaan Masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Ajip Rosidi. 1983. Pembina Minat Baca. Surabaya : TP Bina Ilmu.
Amrin. 2011. Acuan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat. Medan : Pustaka.
Amrin. 2011.Cara Praktis Merintis Dan Mendirikan Taman Bacaan Masyarakat. Bandung : Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Daerah.
Bhea. 2004. Buku Perpustakaan perguruan Tinggi. Yogyakarta: Kanisius.
Busha, Charles H dan Stephen P. Harter. 1980. Research Methods in Librarianship: Techniques and Interpretation. New York: Academi Press.
Delly, Dadang. 2005. Strategi Dinas Pendidikan, Dalam Meningkatkan Budaya Baca.Jakarta:s.a.
Direktorat Pendidikan Masyarakat. 2009. Taman Bacaan Masyarakat: Pedoman Penyelenggaraan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal: Departemen Pendidikan Nasional.  Edisi ketigaNew York: The MacMillan Company.
Direktorat Pembinaan Pendidikan  Masyarakat. 2012. Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan Penyelenggarakan Keaksaraan Dasar, Keaksaraan Usaha Mandiri, dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rintisan (Dekosentrasi). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat.
Hamid, Muhammad  2010. Taman Bacaan Masyarakat Kreatif. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.
Hananta, Basri. 2013. Buku Panduan Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Istimewa. Yogyakarta: Balai Pengembanagan Kegiatan Belajar Yogyakarta
Haris, Chesyer W, dan Marie L. Liba. 1960. Encyclopedia of Educational. Jakarta: Gramedi Pustaka Utama. Jawa Barat.
Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
Jeannette Vos. 2003. Revolusi Cara Belajar, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Johnson, David. W. 1991. Learning together and alone. Boston: University of Minnesoto.
Kalida, Muhsin. 2012. Jogja TBM Kreatif:dilengkapi panduan pengelolaan TBM dan 6 profil TBM Kreatif di Yogyakarta. Yogyakarta: Forum TBM di Yogyakarta
Kalida, Muhsin dan Moh. Mursyid. 2014. Gerakan Literasi:mencerdaskan bangsa. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Kompas, 2 Maret 2003. Kualitas pendidikan sangat menentukan masa depan bangsa. Jakarta.
Mulyasa. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Perpustakaan Pola 3 Dimensi. Medan : Pustaka TBM MRD Pustaka. Medan : TBM MRD
Rahmawati, Ratih dan Blasius Sudarsono. 2012. Perpustakaan untuk Rakyat. Jakarta: Sagung Seto.
Rohani, Ahmad. 1997. Fungsi Sumber Belajar: Media Intruksional. Jakarta:  Rineka Cipta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.




[1] Dalam Undang-undang nomor  20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 4 ayat 5
[2] Dalam undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpusakaan
[3] Hamengku Buwono X, 2013. Arah Pembangunan DIY Dalam Perspektif Keistimewaan, Yogyakarta 29 Agustus 2013

[4] Rahmawati, Ratih dan Blasius Sudarsono. 2012. Perpustakaan untuk Rakyat. Jakarta: Sagung Seto.
[5] Dalam dokumen Perencanaan BAPPEDA DIY tahun 2013. Yogyakarta: Bappeda, 2013
[6] Dalam Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2007.    Halaman 2
[7] Indonesia. 2012. Undang-undang RI Nomor 13 tahun 2012 Tentang Keistimewaan Daerah istimewa Yogyakarta
[8] Dalam Hamengku Buwono X. 2013. Yogyakarta Menyongsong Peradaban Baru (Perspektif Paska Disahkannya UU No 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY),  Yogyakarta, 27 Desember 2012
[9]  Dalam Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, halaman 3.
[10] Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pidato Rapat Paripurna DPRD DIY tentang pemaparan visi, misi dan program kerja calon gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012-2017 yang bertema Yogyakarta: Menyongsong Peradaban Baru.
[11] Indonesia. 2012. Undang-undang RI Nomor 13 tahun 2012 Tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
[12] Hamengku Buwono X, 2013. Arah Pembangunan DIY dalam Perspektif Keistimewaan, Yogyakarta 29 Agustus 2013

[13] Rekayasa menurut KBBI diartikan sebagai penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaan (seperti perancangan, pembuatan konstruksi, serta pengoperasian kerangka, peralatan, dan sistem yang ekonomis dan efesien). Sementara kata budaya masih menurut sumber yang sama diartikan sebagai pikiran; akal budi; hasil budaya.adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Berdasarkan pengertian di atas serta pendapat Drewes, perpustakaan sebagai sebuah rekayasa budaya dapat diartikan sebagai penerapan aturan-aturan keilmuan yang merupakan buah pikiran untuk mempersiapkan, melindungi, memelihara dan kemudian menyebarluaskan koleksi hasil budaya dengan perpustakaan sebagai pusatnya. Penerapan aturan keilmuan tersebut diharapkan dapat mengembangkan peran dan fungsi perpustakaan sehingga menjadi lebih optimal dan berdampak bagi masyarakat yang dilayaninya. Budaya itu adalah cipta rasa karsa yang mewarnai kehidupan kita, bukan hanya sekedar tari ataupun seni. Menurut Fathur rahman (2011), ketika kita membahas dialog budaya, maka akan ada 4 hal yang penting, yaitu (1) fakta-fakta budaya (cultural facts), (2) fenomena budaya (cultural phenomena), pelestarian budaya (cultural maintenance) dan rekayasa budaya (cultural engineering). Fathurrahman mengatakan bahwa rekayasa budaya sering terlupakan padahal Indonesia butuh terapi yang sistematis untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.  Lebih lanjut Fahurrahman memberikan contoh bahwa Malaysia, mengalami multikultur dan multietnik. Mereka sadar bahwa hal itu harus ditangani dari berbagai perspektif. Jadi bisa dikatakan bahwa rekayasa budaya ini dilakukan dalam usaha melakukan perubahan dan perbaikan sesuatu dengan memberi peluang perbaikan melalui pendekatan budaya. Perpustakan dalam perspektif budaya adalah membangun minat baca yang merupakan bagian dari rekayasa budaya di perpustakaan. Perpustakaan sebagai sebuah diskusi budaya, adalah membangun bagaimana sebuah rekayasa dilakukan agar masyarakat bisa tertarik ‘membaca’ . Peran dan fungsi perpustakaan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dewasa ini menjadi lebih luas. Perpustakan sekarang juga berperan dan berfungsi sebagai pusat budaya, agen budaya, dan agen perubahan. Sebagai pusat budaya lokal tempat di mana perpustakaan tersebut berada, perpustakaan dapat sebagai tempat berhimpunnya koleksi hasil-hasil budaya yang telah dibukukan atau yang telah dikemas dalam bentuk digital. Untuk dapat menghimpun koleksi tersebut, perpustakaan dapat bekerjasama dengan Dinas Pendikan dan Kebudayaan. Sebagai agen budaya, perpustakaan dapat menjadi tempat atau ajang untuk menunjukkan/memamerkan hasil budaya, misalnya sebagai tempat pameran lukisan, pameran dolanan anak, dan lain sebagainya. Selain itu perpustakaan juga dapat menjadi tempat bagi berkumpulnya para budayawan dalam acara-acara budaya tertentu, misal sebagai tempat seminar bertemakan budaya. Dalam menjunjang peran dan fungsi sebagai agen budaya tersebut, perpustakaan menjalin kerjasama dengan museum, para seniman dan para budayawan, baik lokal maupun nasional.  Peran dan fungsi perpustakaan sebagai pusat budaya dan agen budaya tersebut diharapkan dapat memberi pengaruh bagi masyarakat setempat. Oleh karena mudahnya masyarakat dalam mengakses dan mengenal kebudayaan itulah diharapkan kemudian akan memahami dan akhirnya melestarikan hasil budaya (nguri-uri kabudayan).
[14] Kuswasyantyo. 2014. “Yogya  Perlu Lakukan Rekayasa Budaya ”. Kedaulatan Rakyat, Rabu Paing 19 November 2014, halaman 9. http://202.65.121.186/read/237907/yogya-perlu-lakukan-rekayasa-budaya.kr , di unduh tanggal 25 November 2014.
[15] Ibid, pasal 2 ayat 1.
[16] Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993. Halaman 46.
[17] Sutarno. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta, Sagung Seto., halaman 127.
[18] Menurut Buku Pedoman Penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat, 2006, halaman 6.
[19] Menurut Sutarno NS dalam Satu Abad  Kebangkitan Nasional 1908-2008 Dan Kebangkitan Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto, 2006, halaman  19.
[20]Rahmawati, Ratih dan Blasius Sudarsono. 2012. Perpustakaan untuk Rakyat. Jakarta: Sagung Seto, halaman 31.
[21] dalam Rahmawati (2012:31).
[22] Ibid.halaman 34-36.
[23] Ibid. halaman 46.
[24]  Dalam Amrin. Cara Praktis Merintis Dan Mendirikan Taman Bacaan Masyarakat. Bandung: IPI, halaman 4
[25] Perpustakaan Umum (public library) menurut Reitz (2004) adalah ”A library or library system that provides unrestricted acces and services free of change to all the resident of a given community, distric, or goegraphic region, supported wholly or in part by publics funds”.
[26] Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia, 1993, halaman 36.
[27] Menurut Sutarno NS dalam Satu Abad  Kebangkitan Nasional 1908-2008 Dan Kebangkitan Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto, 2006, halaman  19.
[28] Direktorat Pendidikan Masyarakat. 2009. Taman Bacaan Masyarakat: Pedoman Penyelenggaraan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal: Departemen Pendidikan Nasional.  Edisi ketigaNew York: The MacMillan Company.
[29] Bungin. Dalam Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Public Dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana, 2007, halaman 68.
[30] Busha, Charles H dan Stephen P. Harter. Research Methods in Librarianship: Techniques and Interpretation. New York: Academi Press, halaman 77-80.

[31] Dokumentasi BPAD tahun 2014.
[32] Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong, Lexy J. Metodologi Kualitaif. Bandung: Remaja Rosdakarya,2006, halaman 157 .
[33] Ibid. Menurut Moleong, halaman  247.
[34] Miles dan Huberman. Qualitative Data Analysis. California: Sage, 1994, halaman 388.

No comments:

Post a Comment