Friday, 7 October 2016

Shiyali Ramamrita Ranganathan ”The Father of Library Science” Dan Kontribusinya Dalam Perkembangan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Dewasa Ini

Zulaikha, Sri Rohyanti. (2014). Shiyali Ramamrita Ranganathan ”The Father of Library Science” Dan Kontribusinya Dalam Perkembangan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Dewasa Ini. In Fihris: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Volume VII Nomor 1 (Januari-Juni 2012), pp. 93-113. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.


Pendahuluan
Kemajuan ilmu perpustakaan telah mengalami beberapa perkembangan sampai sekarang ini. Beberapa tokohpun mewarnai perjalanan kemajuan ilmu perpustakaan, seperti yang akan diulas dalam makalah ini, yaitu SR Ranganathan. Konsep-konsep yang ditawarkan sampai sekarang masih dominan mewarnai seluruh aktivitas dan pengelolaan perpustakaan. Rumusan The Five laws of Library Science, menjadi landasan pelaksanaan seluruh aktivitas baik yang dilakukan oleh pustakawan, pemustaka dan seluruh civitas akademika di lingkungan perpustakaan. Disaat perpustakaan udah mendapatkan tempat di hati para pemustakanya, dan disaat peran perpustakaan menjadi bagian penting dari suatu institusi,  maka konsep dasar yang fundamental dari SR Ranganathan menjadi motivator dan pemicu untuk meningkatkan lagi peran perpustakaan.[1]
Bahkan, di dalam ilmu informasi yang terkait dengan aplikasi penelitian teradap penggunaan buku dan perpustakaan[2]  telah digunakan metode survey sosial yang bertujuan untuk memahami sebenaranya bagaimana memaknai ”the use of books and libraries” yang sesungguhnya. SR. Ranganathan , seorang ahli matematika dari India mengatakan bahwa dia mempunyai pedoman praktis yang baik terhadap pengelolaan informasi secara umum di perpustakaan yaitu : every reader his book, books are for use, every book its reader, save the time of the reader and the staff,  library is a growing organism (SR. Ranganathan, 1957)[3]
Dan dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang sudah demikian mengglobal dewasa ini, ternyata konsep Five laws of library science masih relevan dan masih diperlukan dalam menangani perpustakaan.[4]


Kontribusinya untuk ilmu perpustakaan

Dr. Shiyali Ramamrita (SR). Ranganathan[5] (1892-1972) merupakan pustakawan yang terbesar dari abad 20. Sebagai satu pendidik, pustakawan, dan pemikir, sumbangan-sumbangan nya yang luar biasa kepada subjek dari ilmu perpustakaan, menempatkan negeri India menjadi negara yang dikenal di seluruh dunia. SR. Ranganathan membuat dua sumbangan yang sangat dibutuhkan dalam profesi kepustakawanan yaitu : Five Laws of Library Science (1931) dan Colon Classification (1933)[6]. Di samping dua  sumbangan-sumbangan yang utama ini, SR. SR. Ranganathan juga konsen kepada  topik-topik kepustakawanan yang luas, termasuk pendidikan pustakawan-pustakawan, administrasi pustaka dan organisasi, jasa rujukan dan manajemen koleksi.
SR. Ranganathan dilahirkan di Madras[7], India di Agustus 9, 1892, dan pertama terlatih sebagai seorang ahli matematik, seorang dosen dari matematika di Universitas Madras.[8] Pada tahun 1924, ia ditawarkan suatu posisi pustakawan di University, dengan syarat ia akan bepergian ke University College di London untuk belajar  mengenai ruang lingkup kerja kepustakaan zaman ini. Selama studi-studi nya di Britania Raya, SR.. Ranganathan mengunjungi berbagai perpustakaan umum  dan perguruan tinggi di sepanjang negeri, yang membantu dia untuk berfokus pemikiran nya di dalam bidang-bidang klasifikasi, cataloguing, dan jasa perpustakaan. SR. Ranganathan melihat bahwa perpustakaan sebagai unsur esensial dalam membantu masyarakat-masyarakat untuk tumbuh dan berkembang dengan subur melalui penyebaran yang melek huruf, yang membuat dia berfokus studi-studi nya di dalam area jasa pustaka.
SR. Ranganathan juga menganggap bahwa perpustakaan[9] merupakan sebuah  tempat pusat layanan dan tempat untuk berdialog intelektual dan dia juga merasakan bahwa pekerja di perpustakaan (sebut pustakawan) sebagi orang yang seharusnya selalu melakukan riset-riset dan selalu berbagi pengetahuan dengan usernya.
Dasar pemikiran SR. Ranganathan disandarkan kepada studi-studi nya dari latar belakang matematika dan kepercayaan-kepercayaan nya pada Hindu mysticism (ilmu kebatinan Hindu) dan Analytico-Synthetic ( Pruiett ). Di dalam metoda ini, ia menguji fenomena-fenomena atau gejala-gejala yang kompleks, merinci observasinya ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil lagi dan mencoba untuk menyambung satu dengan yang lain dengan  cara yang sistematis.
Girja Kumar menuliskan di suatu riwayat hidup dari SR. Ranganathan, "bahwa sebenarnya SR. Ranganathan tidak bermimpi dan bercita-cita terjun dalam ruang lingkup kerja kepustakawanan dan ilmu kepustakaan." (Kumar, 1992). Kumar juga berkata, (SR. Ranganathan) telah menghabiskan waktu selama dua dekade sebagai pustakawan dari Univesitas Madras. Jarang SR. Ranganathan  mengambil liburan-liburan selama periode ini, dan selama dua puluh tahun masa jabatannya sebagai  pustakawan di University, ia bahkan tidak pernah mengambil cuti. Ia mengalokasikan waktu 13 jam setiap hari selama tujuh hari per minggu untuk memikirkan perkembangan perpustakaan.
Setelah meninggalkan  Universitas Madras pada tahun 1945, SR. Ranganathan bertindak sebagai pustakawan dan profesor ilmu kepustakaan pada University Hindu di Varanasi , dan ia juga mengajar di Universitas Delhi dari tahun 1947 sampai tahun 1954. Selama tahun 1954 sampai tahun 1957, ia sibuk dengan riset dan memberikan kontribusinya dalam bidang tulis menulis di Zurich, Switzerland, dan ia kembali ke India pada tahun 1957 dan bertindak sebagai visiting profesor pada Vikram University sampai dengan tahun 1959. Pada tahun 1962, ia menjadi kepala dari Documentation Research and Training Centre di Bangalore, dan pada tahun 1965 ia diberi penghargaan[10]  oleh Pemerintah  India dengan sebutan profesor riset nasional di dalam bidang  ilmu kepustakaan.
Sumbangan-sumbangan pemikiran pokok SR. Ranganathan kepada ilmu perpustakaan adalah dalam kajian classification[11] and indexing theory.[12] Colon Classification (1933)[13], yang merupakan karyanya juga, memperkenalkan suatu sistim yang secara luas digunakan di dalam kajian-kajian ilmu perpustakaan di seluruh dunia dan mempengaruhi evolusi dari system Dewey Decimal Classification. Selanjutnya, SR. Ranganathan juga memikirkan tentang teknik chain indexing[14] yang merupakan turunan dari subject-index entries. [15]   Disamping itu juga, SR. Ranganathan juga memberikan kontribusi garis-garis  besar perencanaan untuk sistem perpustakaan nasional. Beberapa karya SR. Ranganathan dalam menulis 62 buku yang utama nya antara lain adalah :
  1. Five Laws of Library Science
  2. Colon Classification
  3. Classified Catalogue Code (1934),
  4. Theory of Library Catalogue (1938),
  5. Element of Library Classification (1945),
  6. Classification and International Documentation (1948),
  7. Classification and Communication (1951)
  8. Headings dan Canons (1955),

Terkait dengan karya SR. Ranganathan, bahwa dalam teori klasifikasi, terdapat dua sistem klasifikasi yang terbesar yaitu DDC dan UDC, dimana kedua sistem tersebut berusaha mengategorikan semua ilmu pengetahuan yang tertuang dalam sebuah dokumen. Dalam pengelolaan  pembagian ilmu pengetahuan sesuai dengan sistem klasifikasi tersebut, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang pengindeks. Pengindeks harus mengenali berbagai jenis konsep dan peran konsep tersebut dalam analisis subjek. Kemudian dimunculkan juga konsep-konsep yang penting  yang terdiri dari : a. Disiplin ilmu (disiplin fundamental dan subdisiplin), b. Fenomena, c. Faset dan fokus, d. Bentuk (bentuk fisik, bentuk penyajian dan bentuk intelektual, e. Jenis subjek, f. Urutan sitasi ( PMEST), dan Rangkuman spesifik.[16] bahwa karakteristik utama dalam beberapa system klasifikasi, didasarkan pada beberapa urutan, yang dinamakan urutan sitasi[17] yaitu sebuah peraturan yg menetapkan urutan prioritas bila ada lebih dari satu faset yaitu disebut : urutan sitasi atau citation order, yang bisa disebut juga Formula Faset / Faset Formula[18] atau Urutan kombinasi/Combination Order, yang dihasilkan oleh Kelompok Penelitian Klasifikasi yaitu Classification Research Group, CRG, UK, dengan faset (....) yang terkenal yang dihasilkan oleh SR. Ranganathan yaitu : PMEST (P= personality, M= matter, E= energy, S= space dan T= time. Menurut SR. Ranganathan, fenomena dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori dasar yaitu : (Personality = wujud atau hasil/produk akhir, Matter = materi/sifat, Energy = aktivitas/kegiatan, Space = ruang dan Time = waktu.(....disamping juga yang telah dihasilkan oleh  Fosket, 1962;Vickery, 1975;Coates, 1983 dengan BSO nya (Broad System of Ordering)[19]
Sebagai tambahan terhadap sejumlah besar dari buku dan artikel-artikel yang ditulis oleh SR. Ranganathan, ia juga menciptakan banyak organisasi-organisasi profesional dan organisasi-organisasi bidang pendidikan, terutama di India, dan ia berperan sebagai penggerak perpustakaan di seluruh dunia..
Bahkan ketika SR. Ranganathan meninggal pada tanggal 27 September tahun 1972 di usianya yang 80 tahun, di Bangalore, Mysore, dunia kehilangan salah satu pelopor-pelopor, mungkin bahkan penciptanya, bahkan penggagas bidang  ilmu perpustakaan dan informasi, dan tulisannya akan memberikan dampak dan pengaruh yang penting di dalam dunia perpustakaan, terutama pada era sekarang ini dimana dominasi elektronik dan digital information sudah sangat akrab dan bahkan menjadi kebutuhan kita sehari-hari.

Berikut gambaran kronologis kehidupan dan peran SR. Ranganathan :

No
Tahun
Keterangan
1
9 Agst 1892
SR. Ranganathan lahir di Madras, India
2
1913-1916
Ia dididik di Hindu High School di Shiyali, pada Madras Christian College (di mana ia mengambil BA. dan MA dan berijazah matematika dalam 1913 dan 1916, dan pada Teachers College, Saidapet.
3
1917
Dalam 1917 ia bergabung dengan  fakultas/pancaindera dari Government College, Mangalore
4
1920-1923.
SR. Ranganathan mengajar pada Government College, Coimbatore, dan pada Presidency College, Universitas Madras.
5
1924
SR. Ranganathan diangkat menjadi  pustakawan untuk pertama kalinya, yang ditetapkan dari Universitas Madras, dan agar mendapatkan pengalaman-pengalaman yang banyak, SR. Ranganathan melakukan kunjungan ke Inggris untuk belajar pada University College, London.
6
1925- 1944
Mulailah bekerja di Madras dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh semangat
7
1945- 1954
SR. Ranganathan bertindak sebagai pustakawan dan menjadi profesor pada bidang ilmu kepustakaan di University Hindu di Varanasi (Banaras), dan dari 1947 sampai 1954 ia mengajar di Universitas Delhi.
8
1954- 1957
Dari 1954 sampai 1957 SR. Ranganathan dengan riset dan memberi karya-karyanya di Zürich, Switzerland.
9
1959
Ia kembali ke India kemudian tahun dan bertindak sebagai visiting  profesor pada Vikram University, Ujjain, sampai 1959.  
10
1962
SR. Ranganathan menjadi kepala dari Documentation Research dan Pusat Latihan di Bangalore sampai kepada sisa-sisa hidupnya.
11
1965
Pemerintah India menghormati karya besar SR. Ranganathan danmemberinya pernghargan kepada SR. Ranganathan dengan sebutan profesor riset nasional di dalam ilmu kepustakawanan.
12
27 Sept. 1972
SR. Ranganathan meninggal di Bangalore, Mysore,
.
SR. Ranganathan  hidup pada tahun  1892 sampai dengan 1972. SR. Ranganathan adalah satu pencipta, pendidik, pustakawan, ahli filsafat dan ahli matematik. Pada tahun 1928 SR. Ranganathan menjadi orang yang dilibatkan di dalam pengembangan  pustaka di Universitas Madras. Inilah suatu periode di dalam sejarah pustaka ketika dunia itu sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan pokok :  Apa sesungguhnya perustakaan itu? Apa layanan perpustakaan itu ? SR. Ranganathan percaya bahwa semua aktivitas manusia peka kepada analisa menggunakan metode latihan dan pengujian seperti itu. Dan dari pekerjaan pustaka bisa menjurus kepada perumusan “hukum” yang empiris.
Prinsip-prinsip SR. Ranganathan dituangkan dalam  5 hukum dari Ilmu Perpustakaan atau Five Laws of Library Science[20] adalah pertama dan, sampai saat ini, satu-satunya definisi yang jelas dari suatu fungsi-fungsi dan tanggung-jawab perpustakaan. Meski dapat dikatakan bahwa Hukum[21] tersebut menuntut perenungan dan pengalaman sebelum menuju kepada kesempurnaan untuk digunakan sebagai petunjuk penting untuk pustakawan-pustakawan dengan potensi yang ada, untuk merencanakan dan menyediakan jasa pelayanan di dalam semua jenis perpustakaan. Five Laws of Library Science yang diungkapkan oleh SR.  Ranganathan  adalah :
  1. Books are for use
  2. Every reader his/her book
  3. Every book, its reader
  4. Save the time of the reader
  5. Library is a growing organism [22]
Hukum Pertama : Books are for use
Penekanan pada hukum yang pertama ini adalah bahwa perpustakaan harus mendapatkan pustaka dan membuat bahan perpustakaan[23] tersebut mudah untuk digunakan oleh pemustaka[24], karena prinsip dasar hukum yang pertama ini mengandung dasar bahwa buku itu ada untuk digunakan. Hukum yang pertama ini memberikan batasan definisi kepada dua konsep yaitu perpustakaan yang dapat diakses secara terbuka dan tertutup dan pada perpustakaan yang harus menentukan peralatan dan perabotan perpustakaan untuk menempatkan koleksi secara baik dan benar. Koleksi perpustakaan di ambil dari ruang pengolahan dan dibawa keluar diletakkan di rak yang terbuka. Dalam hal ini, rak perpustakaan harus mampu diakses dengan baik oleh pemustaka. Sehingga perpustakaan harus ditempatkan di tengah-tengah atau di dekat civitas akademika yang ada. Tetapi, dimanapun lokasi perpustakaan, bagaimanapun jam buka layanannya, bagaimanapun tipe perabotannya serta bagaimanapun cra mendapatkan buku di perpustakaan, staf perpustakaanlah yang paling bertanggungajwab terhadap perpustakaan. Nah, sebuah perpustakaan yang senang dengan hukum ini, pasti akan merasa bangga apabila rak-rak yang ada di perpustakaan selalu kosong karena dipinjam oleh penggunannya.

Hukum kedua : Every Reader His or Her Book

Hukum kedua ini mengungkapkan isu perdebatan yang fundamental antara harga koleksi dengan kebutuhan dasar pemustaka yang harus bisa mengakses koleksi yang mereka butuhkan. Hal ini membuat pengadaan menjadi sesuatu yang sangat  penting, pengadaan harus   mengakomodir kebutuhan pemustaka. Kita harus sadar betul bahwa tidak satupun orang dapat memiliki semua buku yang diinginkannya. Oleh sebab itu, menurut hukum ini, perpustakaan harus memperoleh rincian bahan kajian atau penelitian  yang seharusnya sangat menguntungkan bagi  pembaca dan bahkan para peneliti. Koleksi harus sesuai dengan misi perpustakaan.
Berkaitan dengan koleksi di perpustakaan,  Carrigan[25] mengatakan bahwa antara pengembangan koleksi dan manajemen koleksi keduanya merupakan kegiatan yang saling melengkapi. Manajemen koleksi membangun istilah-istilah dan kondisi pemakai dalam menggunakan koleksi, sedangkan pengembangan koleksi menghasilkan koleksi dan menentukan investasi sehingga merupakan kegiatan yang paling penting dalam kegiatan manajemen koleksi. Pengembangan koleksi adalah suatu proses perencanaan dari program pengadaan koleksi dan membangun koleki sesuai dengan kebutuhan pemakai serta mempertimbangkan juga kualitas koleksi, yang dilakukan bersama-sama dengan pengambil kebijakan, pustakawan serta pemustaka perpustakaan.[26]  Dikatakan bahwa pengembangan koleksi meliputi kegiatan penginformasian, evaluasi dan kebijakan dengan manajemen yang baik terhadap pengembangan koleksi yang harus dilakukan oleh berbagai pihak di perpustakaan, baik staf perpustakaan maupun pemakai, dengan diberi dukungan oleh kelompok pustakawan yang profesional. Sedangkan (Evans, 1979 : 28) mengatakan bahwa :
"collection development is the process of identifying the strengths and weaknesses of a library's materials collection in terms of patron needs and community resources, and attempting to correct existing weaknesss, if any. his requires the constant examination and evaluation of the library,s resources and the constant study of both patron needs and changes in the community to be served".[27]

Bahwa pengembangan koleksi merupakan proses mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bahan pustaka dalam konteks sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan berusaha untuk selalu mengevaluasi kelemahan tersebut sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Dengan demikian, dengan adanya hukum kedua ini, maka perpustakaan berkewajiban menyediakan koleksi sesuai dengan kebutuhan pemustakannya.[28]
Masih terkait dengan kewajiban perpustakaan dalam mengembangkan koleksi, lebih lanjut Cenzer mengatakan bahwa pengembangan koleksi merupakan pertanggungjawaban terhadap pengadaan dan pengembangan koleksi melalui seleksi bahan pustaka, analisis koleksi, pengalokasian anggaran sampai kepada pengadaan koleksi lewat pembelian, hadiah dan tukar menukar.[29]
Pengembangan koleksi merupakan kegiatan atau serangkaian kegiatan yang mencakup penentuan kebijakan umum pengembangan koleksi berdasarkan identifikasi kebutuhan masyarakat pengguna, menentukan kewenangan tugas dan tanggungjawab semua unsur terkait dalam pengembangan koleksi, mengidentifikasi kebutuhan informasi, memilih dan mengadakan bahan pustaka, merawat, menyiangi dan mengevaluasi bahan pustaka. Jenkins mengatakan bahwa antara pengembangan koleksi dan manajemen koleksi pada dasarnya sama hanya kalau manajemen koleksi cakupannya lebih luas dari pengembangan koleksi [30]  Menurut Evans,[31] suatu kebijakan pengembangan koleksi setidaknya memuat tiga hal utama :
a.       Gambaran umum perpustakaan dan masyarakat yang dilayani, identifikasi karakter spesifik dan kebutuhan mereka, gambaran kondisi perpustakaan sekarang, koleksi yang dimiliki, dsb.
b.      Penjelasan detail mengenai bahan pustaka yang akan dikoleksi berdasarkan format dan subjek serta tingkatan kedalamannya, siapa yang berperan dalam pengembangan koleskis, pengadaan, siapa yang berpartisipasi, dsb.
c.       Membahas berbagai kebijakan yang ditempuh seperti masalah hadiah, penyiangan, evaluasi, koleksi khusus, dsb.
Dan kebijakan pengembangan koleksi hendaknya selalu dapat mencerminkan fungsi perpustakaan sebagai penunjang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat  sesuai dengan PP. no. 30 th. 1990, pasal 34.[32]
Selanjutnya, pengembangan koleksi meliputi kegiatan memilih dan mengadakan pustaka sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan, yang didasari pada asas-asas berikut :

a.       Kerelevanan
Koleksi hendakanya relevan dengan program pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabadian masyarakat perguruan tinggi. Sehinnga harus diperhatikan jenjang dan jenis program yang ada. Jenis program berhubungan dengan jumlah dan besar fakultas, jurusan, program studi. Jenjang program meliputi program diploma, sarjana S1, pasca sarjana S2, S3, spesialisasi, dsb.
b.      Berorientasi kepada kebutuhan pemustaka
Pengembangan koleksi harus ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan pemustaka perpustakaan. Seperti dikatakan oleh Graf dalam "Collection Development in the Information Age" bahwa inti dari program pengembangan koleksi adalah mampu menyesuaikan koleksi dengan kebutuhan pemakai.[33]
c.       Kelengkapan
Koleksi hendaknya meliputi bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada secara lengkap.                                 
d.      Kemutakhiran
Berkaitan dengan kemutakhiran koleksi, perpustakaan harus mengadakan dan memperbaharui pustaka sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti dikatakan oleh Evans, bahwa pengembangan koleksi merupakan proses yang berulang-ulang, dan akan selalu ada evaluasi untuk menjaga kemutakhiran koleksi dan meningkatkan komposisi koleksi, sehingga mencapai tujuan yang diinginkan masyarakat pemakainya.[34]
e.       Kerjasama,
Koleksi hendaknya merupakan hasil kerjasama dari semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi, yaitu antara pustakawan, tenaga pengajar dan mahasiswa, juga pemegang kebijakan perpustakaan.[35]
Hal itu sejalan dengan isi yang ada dalam "Tiga Hukum Pengembangan Koleksi " yang dikatakan Evans yaitu :
a.       as the size of the patron community increases, the degree of divergence in patron needs for materials increases proportionally,
b.      as the degree of divergence in patron needs increases, the need for cooperative materials sharing programs increases,
c.       a library will never be able to completely satisfy all of the materials needs of any single class of patron in its communit.[36]
Dari keterangan diatas, terkait dengan pernyataan SR. Ranganathan,   dapat dijelaskan bahwa ketika volume pemustaka perpustakaan bertambah, maka tingkatan bahan perpustakaan yang ada juga harus bertambah dan ketika kebutuhan pemustaka akan bahan perpustakaan tertentu bertambah, maka perpustakaan juga perlu memutuskan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dan satu hal lagi bahwa pada akhirnya perpustakaan tidak akan pernah dapat memenuhi segala kebutuhan yang memuaskan untuk pemustaka perpustakaan hanya dengan berusaha sendiri. Sehingga memang diperlukan adanya kerjasama dengan perpustakaan yang lain.
Para pustakawan harus mengetahui bahan perpustakaan, penggunaannya dan bagaimana menggunakan bahan perpustakaan tersebut. Jasa referensi harus memperoleh keuntungan dari penerapan hukum ini. Dan jelasnya, jiwa enterprenership dari para pustakawan terhadap pengetahuan bagaimana mengetahui pemustaka, bagaimana mengetahui buku dan bagaian secara aktif membantu pemustaka dalam mencari koleksi di perpustakaan, harus benar-benar dimaknai dan dipahami.

Hukum ketiga : Every Book its Reader

Hukum ini menekankan pada isu dasar tentang open access atau layanan terbuka sebuah perpustakaan. Open access artinya bahwa koleksi dapat diakses dengan bebas oleh pemustaka. Hal ini menunjukkan bahwa seharusnya, ketika ada pemustaka akan mengakses koleksi tertentu, maka koleksi tersebut harus pasti dapat ditemukan. Hal ini adalah menjadi tugas pustakawan dalam menjamin bahwa hubungan antara koleksi dengan pemustaka harus harmonis, dan  kecepatan akses dalam penemuan kembali koleksi di perpstakaan harus dimaksimalkan. Menurut hukum ini terdapat beberapa cara yang dapat membuat hubungan perpustakaan dengan pemustaka yaitu :
1.      Distribution of acquisition lists
2.      New Book displays
3.      Providing Research Guides
4.      Newsletters
5.      Book Lists
Selain itu, agar supaya hubungan koleksi dengan user menjadi harmonis, maka  skema klasifikasi yang digunakan koleksi yang bervariasi juga harus familier  terhadap pemustaka. Susunan koleksi di rak yang menarik dan tidak “broken order”.

Hukum keempat : Save the Time of the Reader

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa perpustakaan harus selalu meneliti ulang setiap aspek kebijakan, aturan, prosedur dan system yang berlaku. Aturan-aturan yang simple lah yang banyak diharapkan oleh pemustaka, sehingga dapat menyingkat waktu pengguna perpustakaan dalam mengakses informasi. Kebijakan harus dirumuskan sesuai dengan kebutuhan pemustaka Jangan sekali kali membiarkan pemustaka kebingungan dan membutuhkan waktu yang lama dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Informasi yang dikumpulkan dan diolah perpustakaan harus disesuaikan dengan tujuan perpustakaan serta harus disesuaikan dengan lingkungan perguruan tinggi, kebiasaan dan sikap pemakai serta kebutuhan informasinya.[37]

Hukum kelima : The Library is a Growing Organism

Hukum kelima ini memberitahu kepada kita bahwa yang terpenting dari perpustakaan adalah bahwa perpustakaan itu selalu tumbuh dan berkembang serta berubah dan akan selalu mengalami hal seperti itu.  Koleksi perpustakaan selalu bertambah dan berubah,[38] teknologi terus berkembang maju dan budget juga selalu mengikuti perubahan itu. Perubahan-perubahan yang kompleks tersebut harus diantidipasi dan diimbangi dengan manajemen yang baik.[39]


Penutup
Perubahan-perubahan besar telah terjadi sejalan dengan adanya perkembangan perpustakaan. Sejak tahun 1924, S.R. Ranganathan telah mengabdikan hidupnya kepada ilmu perpustakaan. Sehingga, konsep-konsep yang ditawarkan SR. Ranganathan tersebut mampu melandasi seluruh kegiatan dan pengelolaan perpustakaan. Dan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan web yang sudah menjadi kebutuhan pencarian informasi, memaksa kita untuk selalu dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan kondisi yang ada. Dasar-dasar yang diberikan oleh Bapak Perpustakaan tersebut, masih sangat relevan dan sesuai dengan kebutuhan perpustakaan dewasa ini. Semua ini diharapkan dapat menjadi cambuk bagi para pengelola perpustakaan untuk dapat lebih meningkatkan lagi pelayanan dalam memenuhi seluruh kebutuhan pemustakanya. @Semoga@.

Daftar pustaka
Carrigan, Dennis. P., 1995. "Toward a theory of collection development", dalam Library Acquisitions : practice and theories, vol.19, no. 1. USA : Pergamon.
Cenzer, Pamela S. and Cynthia I. Gozzi. 1991. Evaluating acquisitions and collection management. New York : Haworth Press.

Cleveland, Donald B dan Ana D. Cleveland. 1990. Introduction to Indexing and Abstracting. 2nd. Englewood, Colorado : Libraries Unlimited.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi  Depdikbud Dirjen Dikti edisi ke 2 , penyelia : Parlinah Moedjono. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Evans, G. Edward. 1987. Developing library and information center collection. 2nd ed.Littletown, Colorado : Library Unlimited.

Graf, Nancy. 2001. "Collection development in the information age" oleh Nancy Graf. http://www.sagebrushcorp.com/support/collectiondev.cfm. 10 Mei 2008. 17.00 Washington : Sagebrush Corporation

Grimes, Deborah J.1998. Academic library centrality : user success through service, access and tradition. USA : American Library Association

http://www.britannica.com/eb, yang diupload tanggal 15 Mei 2008,


http://www.britannica.com/SR. Ranganathan diupload tanggal 15 Mei 2010


Ingwersen, Peter.1992. Information Retrieval Interaction. London : Taylor Graham.

Jenkins, Clare and Mary Morley. 1992. "Collection" dalam Librarianship and information work world wide 1992 an annual survey oleh  Maurice B. Line ; Graham Machenzie and Ray Prytherch.

Lancaster, F.W., 1986. Vocabulary Control for Information Retrieval. 2nd ed.  Virginia : Information Resources Press.

Lancaster, F.W., 1988. If You want to evaluste your library … USA : University of Illinois.

Magriil, Rose Mary and John Corbin. 1989. Acquisition management and collection development in libraries. 2nd ed. Chicago : American Library Association.
Noruzi, Alireza. 2004. “Application of SR. Ranganathan laws to the Web”. Dalam Webology, Volume 1, Number 2, Desember 2004.
Perpusnas RI. 1992. Survai dan kajian perpustakaan perguruan tinggi : kajian pelayanan di 7 propinsi. Jakarta : Perpusnas RI.

---------------. 2008. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007

Peter. 1992.  Information Retrieval Interaction. London : Taylor Graham.

Prytherch, Raymond John. 1995. Harrod’s Librarians”Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. 8th ed : England : Gower.

Sulistyo-Basuki. 1998. Pengantar Ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia  Pustaka Utama.

Wedgeworth, Robert, editor. 1993. World encyclopedia of Library and Information Services. USA : Americn Library Association. @srz@




[1] SR. Ranganathan mengatakan bahwa "perpustakaan merupakan jantungnya perguruan tinggi", sementara dikatakan Grimes Grimes, Deborah J.1998. Academic library centrality : user success through service, access and tradition. USA : American Library Association, hal 2, bahwa  " the library is of central importance to the institution. It is an organic combination of people, collection and building whose purpose is to assit user in the process of transforming informaton into knowledge", maka keberadaan perpustakaan diharapkan menjadi tolok ukur kadar kualitas, harkat dan martabat institusi.

[2]  Lihat dalam Waples, 1932

[3] Ingwersen, Peter.1992. Information Retrieval Interaction. London : Taylor Graham. Hal. 2 - 3 :
[4] Noruzi, Alireza. 2004. “Application of SR. Ranganathan laws to the Web”. Dalam Webology, Volume 1, Number 2, Desember 2004. Lebih jauh lagi, Noruzi mengatakan bahwa berdasarkan hukum SR. Ranganathan, Jim Thompson (1992) membuat pernyataan bahawa terdapat hubungan yang siginfican antara hukum yang dihasilkan oleh SR. Ranganathan dengan kemajuan perkembangan teknologi informasi sekarang ini, yaitu bahwa : Books are for profit, Every reader his bill, Every copy its bill, Take the cash of the reader.and The library is a groaning organism. Hal itu mengandung makna bahwa perpustakaan dan Web harus ada untuk melayani seluruh kebutuhan pemustaka.
[5] Lebih lanjut bisa juga di lihat pada Wedgeworth, Robert, editor. 1993. World encyclopedia of Library and Information Services.USA : American Library Association. hal. 697-698.

[6] http://www.britannica.com/eb/article-9024821/Colon-Classification, diupload tanggal 15 Mei 2008 bahwa colon classification adalah system of library organization developed by the Indian librarian,  S.R. SR. Ranganathan. Juga lihat dalam http://www.britannica.com/SR. Ranganathan in 1933. It is general rather than specific in nature, and it can create complex or new categories through the use of facets, or colons. The category of dental surgery, for example, symbolized as L 214:4:7, is created by combining the letter L for medicine, the number 214 for teeth, the number 4 for diseases,
[7] Sebuah kota kecil di India, tepatnya.

[8] Dalam http://www.britannica.com/eb, yang diupload tanggal 15 Mei 2008, merupakan The state-controlled institution of higher learning located in Madras, India. One of three affiliating universities founded by the British in 1857, Madras has developed as a teaching and research institution since the 1920s. By the mid-1970s the university comprised 11 postgraduate faculties and 22 constituent colleges and was the examining and degree-granting authority for 149 affiliated…
[9] Lebih lanjut baca Perpustakaan Nasional. 2007. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional, hal 2 yang mengatakan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam secara professional dengan system yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Terkait dengan posisinya yang sangat penting dan strategis, dimana dikatakan oleh SR. Ranganathan seorang ahli perpustakaan bahwa "perpustakaan merupakan jantungnya perguruan tinggi", dan sementara dikatakan Grimes (1998:2) bahwa  " the library is of central importance to the institution. It is an organic combination of people, collection and building whose purpose is to assit user in the process of transforming informaton into knowledge", Juga baca Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia, hal. 3 yang mengataan bahwa pepustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah ruangan gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertntu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.

[10] Prytherch, Raymond John. 1995. Harrod’s Librarians”Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. 8th ed : Librarianship, documentation and the book crafts and reference books.  England : Gower, hal. 533, dibahas mengenai SR. Ranganathan Award for Classificaion Research. Penghargaan ini diberikan oleh the Committee on Classification Research of International Federation for Documentation (FID) kepada Dr. SR. SR. Ranganathan, ahli klasifikasi dari India.

[11] Prytherch, Raymond John. 1995. Harrod’s Librarians”Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. 8th ed : England : Gower, hal. 136

[12] Ibid. hal. 315.

[13] Dikatakan juga oleh Prytherch, Raymond John. 1995. Harrod’s Librarians”Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. 8th ed : England : Gower, hal. 148 bahwa Colon Classification adalah  skema klasifikasi yang didesain oleh SR SR. Ranganathan  yang diterbikan pada tahun 1933, yang didasarkan pada klasifikasi subjek dengan menggunakan tanda kolon atau “:”Colon Classification is the system of library organization developed by SR. Ranganathan in 1933. It is general rather than specific in nature, and it can create complex or new categories through the use of facets, or colons.
[14] Ibid. hal 120.

[15] Ibid, hal. 620, disebutkan bahwa subject index entry adalah an entry in the subject index of a classified catalogue which entries amre made, as well as those from which references are merely made to other subject terms.
[16] Menurut , Peter.1992. Information Retrieval Interaction. London : Taylor Graham. Halaman 64,

[17] Lihat juga di Prytherch, Raymond John. 1995. Harrod’s Librarians”Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. 8th ed : Librarianship, documentation and the book crafts and reference books.  England : Gower, hal. 133 bahwa urutan sitasi dikatakan juga citation order yaitu urutan aplikasi pprinsip-prinsip pembagian yang menunjukkan suatu kelas atau subjek dari sebuah dokumen. Urutan sitasi juga disebut “Faset Formula”.

[18] Cleveland, Donald B dan Ana D. Cleveland. 1990. Introduction to Indexing and Abstracting. 2nd. Englewood, Colorado : Libraries Unlimited. Halaman : 65 mengatakan bahwa SR SR. Ranganathan lah yang pertama kalinya menggunakan istilah dan mengawali konsep system klasifikasi berfaset (faceted classification) tersebut. lihat juga Prytherch, Raymond John. 1995. Harrod’s Librarians”Glossary : 9000 terms used in information management, library science, publishing, the book trades and archive management. 8th ed : Librarianship, documentation and the book crafts and reference books.  England : Gower, hal. 244-245, bahwa  klasifikasi berfaset adalah sebuah skema klasifikasi yang merefleksikan sebuah konsep pola analisis subjek berdasarkan kepada sejumlah konsep yang mendasar atau fundamental, seperti personality, matter, energy, space dan time. Penelitian terhadap system klasifikasinya dimulai pada tahun 1925 dan pada tahun 1930, karya dasarnya mengenai klasifikasi berfaset mulai dipublikasikan.

[19] Dalam : Lancaster, F.W., 1986. Vocabulary Control for Information Retrieval. 2nd ed.  Virginia : Information Resources Press. Hal. 32 – 33;lihat juga Cleveland, Donald B dan Ana D. Cleveland. 1990. Introduction to Indexing and Abstracting. 2nd. Englewood, Colorado : Libraries Unlimited. Halaman : 65



[20] Juga dikemukakan oleh Lancaster, F.W., 1988. If You want to evaluste your library … USA : University of Illinois, hal. 8 – 15.bahwa merujuk dari sebuah teori perpustakaan yang dikemukakan oleh SR. Ranganathan yang ditulis oleh Lancaster dalam bukunya yang berjudul If you want to evaluate your library …, dikatakan bahwa terdapat lima hukum dalam ilmu perpustakaan (The five laws of library science) yaitu : Books are for use, Every reader his book, Every book its reader, Save the time of readers dan The Library is a growing organism.
[21] Hukum SR. Ranganathan tersebut dapat diambil intisarinya bahwa ketika kita akan mengevaluasi perpustakaan maka kita harus memperhatikan kelima hal tersebut di atas. The five laws of library science tersebut dapat menjadi pedoman membuat keputusan dalam sebuah evaluasi perpustakaan dan dapat dijadikan dasar untuk mengetahui tujuan dari layanan informasi oleh sebuah perpustakaan. S.R. SR. Ranganathan (1892-1972) dalam "Five laws of library science" antara lain  mengatakan bahwa " every book its reader" . Hal itu mengandung makna bahwa perpustakaan harus peduli akan ketersediaan dan aksesabilitas bahan pustaka.
[22] Lihat juga  Lancaster, F.W., 1988. If You want to evaluste your library … USA : University of Illinois, hal. 8 – 15 dikatakan bahwa terdapat lima hukum dalam ilmu perpustakaan (The five laws of library science) yaitu : Books are for use, Every reader his book, Every book its reader, Save the time of readers dan The Library is a growing organism.
[23] Dalam Perpustakaan Nasional. 2007. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional, hal. 3 dikatakan bahwa Bahan perpustakaan  adalah semua hasil karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam.

[24] Ibid. hal. 3, dikatakan bahwa Pemustaka adalah pengguna perpustakaan yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Atau dengan istilah lain yang sering digunakan adalah pemakai perpustakaan, pengunjung perpustakaan, user perpustakaan ataupun pengguna perpustakaan.

[25] Carrigan, Dennis. P., 1995. "Toward a theory of collection development", dalam Library Acquisitions : practice and theories, vol.19, no. 1. USA : Pergamon, hal. 118.
[26] Dalam Prytherch Wedgeworth, Robert, editor. 1993. World encyclopedia of Library and Information Services.USA : Americn Library Association, hal 146
[27] Evans, G. Edward. 1979. Developing library collections. Colorado : Libraries Unlimited, hal. 28.

[28] Lihat Perpustakaan Nasional. 2007. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional, hal.4  dikatakabahwa perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, dmokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran dan kemitraan. Juga dirujuk pada halaman 9 bab IV pasal 12 bahwa koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, juga pada pasal 12 point 2 dikatakanbahwa pengembangan koleksi perpustakaan dilakukan sesuai dengan standar nasional perpustakaan.
[29] Cenzer, Pamela S. and Cynthia I. Gozzi. 1991. Evaluating acquisitions and collection management. New York : Haworth Press., hal. 117.

[30] Lihat Jenkins, Clare and Mary Morley. 1992. "Collection" dalam Librarianship and information work world wide 1992 an annual survey oleh  Maurice B. Line ; Graham Machenzie and Ray Prytherch, hal 71.
[31] Evans, G. Edward.1987.Developing library and information center collection. 2nd ed.Littletown, Colorado : Library Unlimited, hal 68.Baca juga Graf, Nancy. 2001. "Collection development in the information age" oleh Nancy Graf. http://www.sagebrushcorp.com/support/collectiondev.cfm. 10 Mei 2008. 17.00 Washington : Sagebrush Corporation, hal. 1, dimana Graf mengatakan bahwa untuk efisiensi program pengembangan koleksi  harus ada tinjauan terhadap empat hal yaitu : penilaian koleksi, penambahan koleksi yang dibutuhkan untuk pemakai, hubungan antara pemakai dengan koleksi dan monitoring serta pemeliharaan koleksi.

[32] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1994. Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi  Depdikbud Dirjen Dikti edisi ke 2 , penyelia : Parlinah Moedjono. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal.33

[33] Graf, Nancy. 2001. "Collection development in the information age" oleh Nancy Graf. http://www.sagebrushcorp.com/support/collectiondev.cfm. 10 Mei 2008. 17.00 Washington : Sagebrush Corporation, hal 2
[34] Evans, G. Edward.1987.Developing library and information center collection. 2nd ed.Littletown, Colorado : Library Unlimited, hal 14.

[35] Perpusnas RI. 1992. Survai dan kajian perpustakaan perguruan tinggi : kajian pelayanan di 7 propinsi. Jakarta : Perpusnas RI, hal.26
[36] Evans. 1987.  Developing library and information center collection. 2nd ed.Littletown, Colorado : Library Unlimited, hal 25.

[37] Magriil, Rose Mary and John Corbin. 1989. Acquisition management and collection development in libraries. 2nd ed. Chicago : American Library Association, hal 2.

[38] Lancaster, F.W., 1988. If You want to evaluste your library … USA : University of Illinois, hal. 11 dikatakan bahwa konsekuensi dari hukum ke lima ini adalah bahwa perpustakaan harus berni berdaptasi dengan perkembangan zaman dan dengan berbagai kondisi. Beradabtasi dengan lingkunagn social, dan perkembangan teknologi.

[39] Wedgeworth, Robert, editor. 1993. World encyclopedia of Library and Information Services.USA : American Library Association. hal. 697-698, bahwa perpustakaan dalam mengatisipasi pekembangan zaman, harus mempunyai perencanaan yang matang, SR Ranganathan menyebutnya dengan Library Development Plan.

No comments:

Post a Comment