Friday, 7 October 2016

Strategi Menulis Bagi Pustakawan Sebagai langkah Menjadi Agen Perubahan



A.   Kondisi Kepustakawanan Saat Ini

Kalau kita membaca dan melihat secara riil dilapangan, kondisi kepustakawanan saat ini mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Perpustakan yang selalu bergerak dan berkembangan sesuai dengan perkembangan zaman. Perjalanan perkembangan perpustakan dapat di lihat dari pengertian  perpustakaan sendiri. Paradigma lama sering dikatakan bahwa perpustakaan itu semata-mata hanya sebuah tempat, berangsur-angsur menjadi sebuah paradigma baru yang mengatakan bahwa perpustakaan itu lebih kepada sebuah sistem yang lebih mementingkan akses daripada hanya pada sebuah tempat saja.
Seperti kita ketahui bersama bahwa makna kepustakawanan itu adalah sebuah ilmu dan profesi di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Kepustakawanan juga merupakan sumber daya yang bisa menggerakkan bidang lain di perpustakaan. Dalam Online Dictionary for Library and Information Science yang ditulis oleh Reitz dikatakan bahwa librarianship adalah : “The profession devoted to applying theory and technology to the creation, selection, organization, management, preservation, dissemination, and utilization of collections of information in all formats “. Dengan kata lain adalah bahwa kepustakawanan itu adalah sebuah profesi yang ditujukan untuk menerapkan teori dan teknologi untuk penciptaan, seleksi, organisasi, manajemen, pemeliharaan, diseminasi, dan pemanfaatan koleksi informasi dalam semua format. Di Amerika Serikat, sering digunakan secara sinonim dengan ilmu perpustakaan. Seseorang dilatih secara formal atau sertifikat untuk melakukan layanan tersebut adalah pustakawan. Kepustakawanan adalah profesi yang sangat tua, kalau ditilik dari sejarahnya.
B. Sudarsono sendiri dalam Bangun (1992:159) mengatakan bahwa pemahaman kepustakawanan harus diawali dengan pendekatan mengenai ’pasangan’, seperti isi dan wadah, pelestarian dan penyebaran, statis dan  dinamis, responsif pasif dan inisiatif aktif dsb. Hal itulah yang dapat menerangkan sebuah makna perpustakaan dan kepustakawanan.
Kepustakawaan di Indonesia, menghadapi beberapa permasalah besar. Menurut  Krzys (1983:47) dalam Achmad Soepanto, dalam Bangun  (1992:163) dikatakan bahwa ada sebelas aspek kepustakawanan yang diusulkan untuk dikaji secara mendalam. Kesebelas aspek tersebut adalah :
1.    kontrol bibliografi,
2.    undang-undang perpustakaan,
3.    dukungan dana,
4.    profesi pustakawan,
5.    pustakawan praktisi,
6.    asosiasi pustakawan,
7.    lembaga pendididkan putakawan,
8.    literatur ilmu perpustakaan,
9.    lembaga jasa peminjaman karya grafis,
10. pelayanan jasa perpustakaan,
11. perencanaan masa depan.

Yang kemudian, dari ke sebelas permasalahan kepustakawanan di atas,    maka  dikemukakan bahwa permasalah kepustakawanan di Indonesia dewasa ini, mengerucut kepada 3 hal, yaitu:
1.    undang-undng perpustakaan yang mengatur tentang ketentuan dan konsep dasar berbagi perpustakaan di Indonesia dengan segala aktivitasnya,
2.    masalah yang berkaitan dengan lembaga pendidikan pustskawan yaitu bahwa jumah pustakawan yang ada, masih kurang untuk dapat berperan dalam menentukan kebijakan pemerintah secara menyeluruh,
3.    masalah yang berkaitan dengan perencanaan untuk masa depan. Belum ada data kuantitatif yang diperoleh tentang pembangunan perpustakaan di Indonesia yang dapat mengukur  keadaan tingkat keberhasilan kebijakan yang telah di lakukan dan kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah.

Kalau di lihat dari permasalah utama tersebut, maka kita bisa melihat bahwa posisi kepustakawanan Indonesia, merupakan penentu utama keberhasilan kebijakan pemerintah di bidang perpustakaan. Kalau kita tilik dari ke tiga masalah utama diatas, maka dapat dikatakan bahwa sekarang ini, posisi kepustakawanan di Indonesia  telah mengalami kemajuan dari masa ke masa. Terbukti pada tahun 2007, undang-undang perpustakaan nomor 43, sudah di luncurkan untuk menjawab permasalahan mengenai ketentuan dan dasar hukum bagi penyelenggaraan perpustakaan. Dengan adanya undang-undang ini maka di harapkan keberadaan perpustakaan benar-benar menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat dan wahana rekreasi ilmiah. Selain itu, diharapkan dengan adanya undang-undang ini, maka bisa menjadi pedoman bagi pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan di Indonesia sehingga perpustakaan menjadi bagian hidup keseharian masyarakat di Indonesia. Walaupun dari aspek lain, kepustakawanan masih berbenah dari hari ke hari, mulai dari pemenuhan jumlah pustakawan, peningkatan kualitas sumber daya manusianya, atau pustakawanannya dan meningkatkan posisi tawar (bargaining position) yang lebih tinggi dari yang sebelumnya.



B.   Pentingnya Budaya Menulis bagi Pustakawan

Terkait dengan budaya tulis menulis di Indonesia, maka pustakawan Indonesia dapat meningkatkan kualitas dirinya, melalui kegiatan tulis menulis sebuah karya. Kalau dalam Undang-undang perpustakaan nomor 43 tahun 2007 dikatakan bahwa Pustakawan itu adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dantanggungjawab untuk melaksanakan  pengelolaan dan pelayanan perpustakaan (Perpusnas, s.a : 4).
Pustakawan adalah yang diberi tugas,tanggung jawab,wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit perpusdokinfo. Salah satu kegiatan yang dapat membawa kepada sebuah perubahan yang luar biasa, terutama dalam diri pustakawan dan untuk perpustakaannya, adalah kegiatan menulis. Karena dengan menulis, maka rasa kepercayaan iri akan muncul.
Namun, menurut Hernandono (2005:8), dikatakan bahwa Pada umumnya, sebagian Pustakawan tidak banyak  menulis,   apalagi   dalam  penulisan karya bersama. Sebenarnya Pustakawan menyadari pentingnya menulis. Apalagi kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan utama atau pokok bagi tenaga fungsional Pustakawan guna memperoleh angka kredit, di samping agar mereka semakin dikenal rekan-rekan seprofesinya, seperti ungkapan klasik mengatakan, “To publish or perish”. Namun kenyataannya, hingga saat ini keadaannya tidaklah terlalu menggembirakan.
Hernandono mengatakan bahwa hal itu antara lain terlihat di dalam penulisan buku ajar di bidang perpustakaan. Selama kurun waktu satu dekade, 1991—2001, ternyata terdapat 89 buku atau rata-rata 9 buku ditulis setiap tahun. (Rusli Marzuki, 2002). Dari 89 buku, hanya ada 27 buku (30%) ditulis pengarang bersama, termasuk karya terjemahan. Ada 12 Pustakawan (14%) yang menulis lebih dari satu buku selama kurun waktu tersebut. Dan pemecah rekor di dalam penulisan buku ajar di bidang perpustakaan adalah penulis produktif, sosok yang telah kita kenal, yaitu Prof. Sulistyo-Basuki, Ph.D. yang telah menulis 7 buku (8%) dari jumlah tersebut dalam kurun waktu 10 tahun. Dengan demikian sangat terlihat jelas bahwa alangkah cantiknya, bila kepiawaian atau keahliannya menulis ditularkan kepada rekan-rekan seprofesi yang lebih muda usia dan lebih muda pengalaman, agar hal itu merupakan air yang terus mengalir dan tidak akan kering.
Masih dikatakan oleh Hernandono (2005:9) juga bahwa selama dua dekade terakhir, kurun waktu 1985—2004, terdapat 122 karya tulis berupa artikel dan makalah di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (bidang perpusdokinfo). (Arifah Sasmita; Tri Nugraheni, 2005). Dari 122 karya tulis tersebut hanya ada 5 karya tulis bersama (4%). Pada kurun waktu yang sama, terdapat 105 laporan penelitian di bidang perpusdokinfo (Arifah Sasmita; Tri Nugraheni, 2005), dan di antaranya ada 29 kajian/penelitian yang ditulis bersama (28%). Melihat angka terakhir ini cukup menggembirakan, meskipun perlu diketahui, bahwa kajian/penelitian tersebut merupakan kegiatan proyek atau penugasan instansi di mana mereka bekerja.
Menurut  Hernandono (2005:9) diuraikan bahwa rendahnya jumlah penulisan di bidang perpusdokinfo mempunyai hubungan atau korelasi dengan kegiatan penulisan di tingkat nasional untuk semua bidang ilmu pengetahuan yang dijaring secara internasional. Pada tahun 1995, Gibbs mendaftar negara-negara penghasil tulisan ilmiah, dan Indonesia termasuk salah satu negara yang “kehilangan ilmu pengetahuan”, karena ternyata Indonesia hanya menghasilkan tulisan/ilmu pengetahuan 0.012% di antara negara-negara lain. Namun patutlah disyukuri, bahwa Indonesia dengan penduduk 220 juta, peringkatnya masih di atas beberapa negara di benua Afrika dan Timur Tengah, seperti Mali, Ethiopia, Uganda dan Yaman. Produk tulisan Indonesia tentunya harus ditulis dalam bahasa Inggeris, supaya terbaca komunitas internasional. Bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN, dalam produksi karya tulis ilmiah, Indonesia yang menghasilkan produk 0.012% adalah yang terendah dibandingkan dengan Singapura 0.179%, Thailand 0.084%, Malaysia 0.064%, dan Filipina 0.035%. Gambaran umum ini merefleksikan produksi karya tulis di bidang perpusdokinfo masih amat rendah. Mengingat sebagian besar karya tulis ilmiah ditulis dalam bahasa Indonesia, maka komunitas internasional tidak dapat membaca atau mengerti perkembangan bidang perpusdokinfo di Indonesia. Dengan demikian, tanpa dukungan kemampuan membaca produk informasi dunia dan kemampuan menulis, Pustakawan dan kepustakawanan Indonesia mengalami kebuntuan dan kehilangan pengetahuan.
Budaya menulis, seharusnya menjadi trend para pustakawannya dalam mengekspresikan ide-ide nya. Budaya yang di bangun dengan merangkaikan kata, menjadi sebuah perubahan yang luar biasa bagi perpustakaan.
Apalagi ketika kita kaitkan dengan angka kredit pustakawan, maka pustakawan yang diberi tugas,tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit perpusdokinfo dan merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan angka kredit untuk kenaikan jenjang jabatan fungsionalnya. 
Dalam pelaksanaan tugas kepustakawanan terkadang ada pejabat fungsional pustakawan yang tidak dapat memenuhi angka kredit. karena dalam pengumpulan angka kredit lebih banyak hanya  mengandalkan unsur kegiatan di luar unsur dari pengembangan profesi yang bobot kreditnya kecil. Walaupun disamping itu terkadang juga disebabkan karena pustakawan tersebut tidak dapat memenuhi sejumlah angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi.


C.    Kendala, Solusi dan Strategi Penulisan bagi Pustakawan

Definisi bebas mengenai menulis adalah melahirkan pikiran dan perasaan lewat tulisan. Kegiatan menulis itu adalah ekspresi keinginan diri untuk memunculkan sesuatu dari dalam ide nya, melempakan ide tersebut kepada orang lain, dan mempengaruhinya. Disinilah peran agen perubahan yang dimaksudkan dalam materi ini. Membuat ‘perjanjian’ dengan para pembaca terhadap sesuatu hal. Menulis itu kerja kreatif. Menulis itu menciptakan atau membangun sebuah dunia. Ikatlah ilmu cengan menuliskannya, kata Imam Ali bin Abi Thalib. Bahkan, menurut Hernowo (2004:128) dikatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang dikategorikan dapat menumbuhkan sel-sel otak adalah menulis, membaca, mendengar dan menonton. Menulis dapat membuat kita cerdas karena dapat menumbuhkan neuron-neuron baru dalam otak. Sementara itu, dlambukunya mengikat makna, hernowo (2002:220) mengatakan bahwa menulis iitu sama saja dengan menata pikiran. Menulis hal-hal yang ada di kepala kita, berarti menata benak kita.
Walaupun ketika dilapangan, seorang pustakawan akan mengalami banyak kendala dalam melakukan penulisan. Motivasi menulispun bermacam-macam, bisa dimulai dari minat penulis, lingkungan yang mencintai kegiatan baca tulis, pekerjaan dan karir bahkan tugas dari atasan, (Sumantri, 2004:44). Disamping kendala yang bisa jadi diawali dengan pekerjaan perpustakaan teknis yang sudah memakan waktu dan tenaga, ditambah dengan keengganan untuk memulai dan untuk berubah. Jarang diadakannya lomba penulisan karya ilmiah bagi pustakawan, kalaupun diadakan lomba penulisan,maka pustakawan jarang ada yang ikut karena faktor tidak percaya diri, takur repot, takut berpikir keras dsb.
Apalagi kalau kemudian bicara tentng budaya lisan, menulis dan membaca. Pendit (2007:29) mengatakan bahwa ’Orang Indonesia lebih senang ngobrol dari pada membaca”. Lisan versus Tulisan. Para pejabat atau pengamat masih sering sekali mengatakan masyarakat kita masih masyarakat lisan, lalu menjadikan kondisi itusebgai lawan dari masyarakat membaca. Seringkali pula di katakan bahwa perbukuan dan aktivitas membaca dan menulis selama ini terhalangi oleh kesempatan orang Indonesia mengobrol dan menonton televisi.
Strategi penulisan bagi pustakawan dapat diawali dengan keadaan yang fun dan enjoy. Orang dalam keadaan tertekan atau dibawah ancaman, tentu saja tidak bisa membuat tulisan menjadi indah dan bagus.

Beberapa tawaran strategi yang di kemukakan oleh Hernowo (2002:220)


  1. mulailah dengan menulis hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dn perasaanmu sendiri.(JK. Rowling)
  2. harus diingat bahwa penyampaikan gagasan lewat sebuah tulisan itu sangat berbeda dengan penyampaian lewat mulut/lisan. Menata teks lebih berat dari pada menata suara. Menata teks perlu kaidah, perlu aturan ketat.
  3. penulis harus berlatih secara kontinu, konsisten dan bersungguh-sungguh
  4. karya yang ’bergizi’ mememerlukan gagasan cemerlang. Gagasan cemerlang ituu adalah gagasan yang mampu melakukan perubahan-perubahan besar dan berarti
  5. menulis secara teratur dan terstuktur akan membuat seseorang dimudahkan untuk mengenali dirinya.


Lebih jauh, Hernowo (2002:213) mengulas mengenai  7 kita membiasakan diri menulis efektif :
  1. menulis itu membebaskan diri
  2. menulis itu mengekspresikan diri, artinya bahwa penulis bebas mengutarakan apa saja
  3. menulis itu menemukan diri
  4. milikilah catatan harian, hal inimembantu kita menampung semburan potensi menulis.
  5. kebiasan menulis itu adalah kecintaan mengikat ilmu
  6. membacalah buku sebanyak-banyaknya
  7. menulis itu adalah aktivitas intelektual-praktis yang dapat dilakukan oleh siapa  saja dan amat bergunauntuk mengukur sudah seberapa tinggi pertumbuhan ruhani seseorang


Selain itu, yang penting juga bahwa dalam menulis, pustakawan tidak boleh meninggalkan kaidah-kaidah penulisan atau teknik dan format penulisan. Penyesuaian dengan EYD/Ejaan Yang Disempurnakan, kelihaian menuliskan sumber rujukan di dalam daftar pustaka, dan memastikan menuliskan sumber rujukan ketika mengutip segala sesuatu hal dalam tulisan kita. Faktor-faktor tersebut juga mempengaruhi dari kualitas penulisan.

Disamping kegiatan menulis, tentu saja ada kegiatan penerjemahkan. Tidak menutup kemungkinan di lakukan terjemahan karena mengingat bahwa karya-karya tertentu sangat dibutuhkan dan  belum tersedia dalam bentuk bahasa Indonesia. Ketika kita memulaiuntuk menejemahkan karya seseorang, maka Hernowo (2002:216-217) memberikan kiat-kiat pembiasaan dalam menerjemahkan secara efektif, yaitu :         

  1. menguasai bahasa sumber secara prima, karena penerjemahan itu bukanlahsebuah proses memindahkan atau mengganti teks ke bentuk teks yang lain. Bahwa di dalam teks tersebut terdapat budaya. Maka tidak heran ketika kita menerjemahkan, maka kita harus mengetahui budaya bahasa asli yang akandi terjemahkan tersebut.
  2. menguasai bahasa sasaran secara prima. Penerjemahan yang efektif, akan memahami terlebih dahulu karakter bahasa sumber dengan bahasa sasarannya.
  3. amat akrab dengn segala jenis kamus
  4. amat prigel menulis
  5. mudah dan terbiasa memahamai ’the big picture’ buku
  6. mengenali secara detail sisi-sisi memikat  buku
  7. membaca sebanyak-banyaknya buku lain yang setipe



D.   Penutup

Kegiatan menulis akan membawa peran pustakawan menjadi setingkat lebih tinggi lagi, daripada hanya sekedar berperan menjadi ‘penjaga’ buku di perpustakaan. Bayangkanlah kalau setiap perpustakaan, seluruh pustakawan menulis sesuatu karya semua. Karya-karya tersebut dalam dijadikan sajian untuk pemustaka, sebagai kontribusi intelektual dari Pustakawan. Inilah sebenarnya sumbangsih pustakawan dalam dunia kepustakawanan.




DAFTAR  PUSTAKA


Bangun, Antonius (Ed.). 1992. Bunga Rampai 40 tahun Pendidikan Ilmu Perpustakaan di Indonesia.Jakarta  : Kesaint Blanc.

Day, R.A. 1983. How to Write an Publish a Scientific Paper. Philadelphia : ISI Press

Hernandono. 2005. “Meretas Kebuntuan Kepustakawanan Indonesia Dilihat Dari Sisi Sumber Daya Tenaga Perpustakaan”, disampaikan dalam Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Pustakawan Utama. Jakarta : Perpustakaan Nasional.

Hernowo, Haidar Bagir (Pengantar).2002. Mengikat Makna : Kiat-kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan membaca dan Menulis Buku. Cetakan ke 4. Bandung : Kaifa.

------------. 2004. 40 Hari Mencari Makna : Refleksi-Personal atas “Siapakah Aku”. Bandung : MLC (Mizan Learning Center).

------------. 2004. Breaking the Habit : Menulis untuk Mengenali dan Mengubah Diri. Bandung : MLC (Mizan Learning Center).

Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara. 2002. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 132/KEP/M.Pan/12/2002 tentang jabatan Fungsional Pustakawan dan Angkak kreditnya. Jakarta : Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara,dalam www.dim.esdm.go.id/kepmen_pp.../kepmenpan%20pustakawan.pdf diunduh hari Senin, 25 Januari 2010, pukul 22.00

Pendit, Putu Laxman. 2007. Mata Membaca Kata bersama. Jakarta : Citra Karyakarsa Mandiri.

Perpustakaan Nasional. s.a. Undang-undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Putra, Kusuma. s.a. ”Cara Menulis yang Baik”. Dalam www.caramenulis.com. Diunduh hari Senin, 25 januari 2010jam, pukul 22.00

Reitz Joan M. s.a. ODLIS/Online Dictionary for Library and Information Science. Santa Barbara, CA : Libraries Unlimited, dalam http://lu.com/odlis/odlis_l.cfm diunduh hari senin, 25 Januari 2010 pukul  21.00

Sumantri, Usep Pahing.2004. ”Motivasi Pustakawan dalam Menulis Karya Ilmiah yang Dipublikasikan : Survey di Pusat Perpustakaan dan penyebaran Teknologi Pertanian)”, dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol. 13 Nomor 2.



*disampaikan dalam 
  Workshop “Strategi Menulis bagi Pustakawan”, Kamis, 28 Januari 2010 di Ruang Seminar Perpustakaan Universitas Gadjah Mada Unit I Lantai 2, diselenggarakan oleh Forum Pustakawan Universitas Gadjah Mada,
 

No comments:

Post a Comment